Frederikus Gebze (Tajuk Pemikiran ) : ” JATI DIRI BANGSA dan GLOBALISASI DUNIA”

Frederikus Gebze (Tajuk Pemikiran ) : ” JATI DIRI BANGSA dan GLOBALISASI DUNIA”

JATI DIRI BANGSA dan GLOBALISASI DUNIA

Oleh : FREDERIKUS GEBZE, S.E., M.Si

Apakah itu Jati Diri Bangsa ? jati diri bangsa Indonesia yang sesungguhnya tercermin pada perilaku masyarakat Indonesia pada umumnya yang sesuai dengan nilai yang terkandung dalam pancasila. Perilaku yang sesuai dengan nilai dalam pancasila dan merupakan ciri khas bangsa Indonesia yang sesungguhnya.


Jati Diri Bangsa: Berbeda dengan jatidiri orang yang bersifat bawaan, jati diri bangsa adalah pilihan, karena merupakan tatanan kehidupan masyarakat/bangsa yang harus dibentuk. Jatidiri bangsa terbentuk dari pancaran karakter bangsa yang sudah mendarah daging atau menjadi kebiasaan sehari-hari sehingga menjadi identitas atau ciri umum dari bangsa tersebut.

Menurut Kaelan (2007:07) Istilah “identitas nasional” secara terminologis adalah suatu ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa yang secara filosofis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lain. Berdasarkan pengertian yang demikian ini maka setiap bangsa di dunia ini akan memiliki identitas sendidri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, cirri-ciri serta karakter dari bangsa tersebut. Jadi Identitas nasional adalah sebuah kesatuan yang terikat dengan wilayah dan selalu memiliki wilayah (tanah tumpah darah mereka sendiri), kesamaan sejarah, sistim hukum/perundang undangan, hak dan kewajiban serta pembagian kerja berdasarkan profesi.

Jati diri bangsa merupakan identitas budaya bangsa yang menyangkut struktur social yang sehari-hari kita pergunakan sebagai cara-cara untuk menyelengarakan kehidupan. Struktur Indonesia tersebut meliputi:

  1. Unsur-unsur bahasa lokal, misalnya bahasa jawa, bahasa Minangkabau, bahasa Papua Sentani, Bahasa Papua Pengunungan, bahasa Dayak, bahasa Melayu, dan bahasa daerah-daerah lainya
  2. Unsur Religi atau kepercayaan, yaitu menyangkut agama dan kepercayaan yang ada pada masyarakat Indonesia, misalnya kejawen, kaharingan, upacara bersih desa, bakar batu, upacara ruwatan, upacara tedak siti, upacara ngaben, dan berbagai insur religi lainya yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat lokal diseluruh nusantara.
  3. Unsur-unsur kesenian, misalnya wayang, reog, randai, barong, leong, serta tarian-tarian, dan berbagai bentuk kesenian daerah lainya.
  4. Unsur-unsur peralatan dan perlengkapan hidup, misalnya keris, parang mandou, dondang, panah, clurit, dan lain sebagainya. Selain itu juga perlengkapan hidup yang lainya, seperti model rumah adat, seperti joglo, limansa dll.
  5. Sistem organisasi sosial, seperti nagari di Sumatera, pesirah di Sumatera Selatan, desa di Jawa, dll. Termasuk yang menyangkut sistem kekerabatan dan sistem perkawinan yang mengakar pada kehidupan pada kehidupan masyarakat suku-suku bangsa Indonesia.
Baca Juga :  INTRUKSI CEPAT dan KEPEDULIAN BUPATI MERAUKE ATASI GENANGAN AIR, SERINGGU JAYA, MERAUKE

Unsur-unsur kebudayaan lokal tersebut merupakan asset bangsa yang harus kita pertahankan dan kita kembangkan sedemikian rupa sehingga dapat memberi warna terhadap struktur budaya kita yang dapat membedakan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Perubahan social yang terjadi akibat globalisasi dan modernisasi tidak mengubah akar budaya bangsa kita sendiri

Apabila kita berbicara mengenai perubahan suatu bangsa secara tidak langsung kita berbicara mengenai globalisasi dan modernisasi. Hal ini dikarenakan adanya perubahan sosialsebagai akibat munculnya modernisasi dan globalisasi. Namun, perlu digarisbawahi bahwa tidak semua globalisasi dan modernisasi mampu memberikan pengaruh positif dalam diri individu. Contoh, masuknya paham-paham Barat maunpun  Timur yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, masuknya teknologi-teknologi maju yang justru menimbulkan kesenjangan sosial, masuknya gaya hidup Barat yang tidak sesuai dengan nilai dan norma, dan lain-lain.

Kondisi ini lambat laun akan mengancam eksistensi jati diri bangsa. Oleh karenanya, diperlukan sikap bijak untuk menghadapinya. Materi ini akan membahas lebih dalam tentang keterkaitan antara globalisasi dengan jati diri bangsa.

Dampak positif dari era globalisasi dapat dilihat dari semakin berkembangnya dan memasyarakatnya handphone sebagai alat komunikasi. Akan tetapi, bagaimana dengan dampak negatif dari era globalisasi? Di era globalisasi ini, setiap bangsa bebas keluar masuk memberikan pengaruhnya kepada bangsa lain. Akibatnya, berbagai paham dan ideologi pun masuk ke bangsa lain, begitu pula bangsa Indonesia. Berbagai paham masuk ke Indonesia, baik itu paham yang berguna untuk kemajuan bangsa maupun paham yang dapat merusak moral bangsa.

 

Paham-paham tersebut antara lain:

a. Individualisme, yaitu suatu paham yang mementingkan kepentingan diri sendiri (individu).

b. Materalisme, yaitu suatu paham yang selalu mengutamakan segala sesuatu berdasarkan materi.

c. Sekularisme, yaitu suatu paham yang selalu mencerminkan kehidupan keduniawian.

d. Hedonisme, yaitu suatu paham yang melihat bahwa kesenangan atau kenikmatan menjadi tujuan hidup dan tindakan manusia.

Masih banyak lagi pengaruh-pengaruh globalisasi yang dirasakan oleh bangsa-bangsa di dunia. Tidak satu pun bangsa di dunia yang mampu menolak pengaruh globalisasi, tidak terkecuali Indonesia.

Baca Juga :  Frederikus Gebze ( JANUARI 2018 ) Kilas Balik Kinerja Memimpin Kabupaten Merauke

Meminjam istilah Asmah Soetrisno, bangsa Indonesia saat ini sedang terjangkit virus merosotnya semangat kebangsaan, yaitu penyakit governments less (erosi wibawa pemerintah). Tindakan itu menunjukkan bahwa keberadaan hukum sebagai pranata telah diabaikan. Menurut Prof. Dr. Lobby Loeqman, situasi governmentlessterjadi karena hancurnya ikatan kebangsaan di masyarakat Indonesia. Masih banyak lagi yang sedang dialami bangsa Indonesia. Salah satunya rakyat Indonesia mengalami nation less (tidak punya semangat kebangsaan).

Di antara mereka merasa seolah-olah bukan warga satu bangsa. Dengan begitu, rasa nasionalisme bangsa Indonesia telah memudar.Situasi bangsa Indonesia yang government less dan nation, less itu disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah masuknya pengaruh asing sebagai akibat globalisasi. Interaksi masyarakat dunia yang sudah mengglobal mengaburkan batas-batas antarnegara.

Padahal, interaksi tersebut bukan tidak mungkin dapat berdampak pada eksistensi jati diri bangsa Indonesia. Dimana hal tersebut sudah dirasakan bangsa Indonesia yang sekarang ini sedang melemah paham nasionalismenya, bahkan terancam masalah disintegrasi bangsa.

Pemilihan Umum 2019 yang dihelat pada 17 April 2019 telah berakhir dan dapat dilaksanakan dengan sukses dan damai sesuai dengan harapan dan cita-cita demokrasi Indonesia. Hal ini tentunya melegakan mengingat menjelang digelarnya Pemilu 2019 ini dunia maya dipenuhi dengan berita bohong atau hoax dan provokasi Golput.

Pemilu yang telah berlangsung dengan damai, demokratis dan kondusif  menunjukan masyarakat Indonesia dewasa dan telah matang berdemokrasi, serta dewasa dalam menyikapi pesta 5 tahunan untuk memilih dan menentukan masa depan Indonesia.

Kemenangan pasangan terpilih ini patut kita apresiasi bersama sebagai kemenangan bangsa Indonesia, kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Kita harus dukung hasil Pemilu 2019 ini dengan elegan dan bersatu.

Mengingat pemilu telah usai dan hasilnya juga telah didapat, hendaknya semua pihak, baik kandidat presiden yang tidak terpilih dan masing-masing Timses calon, serta para pendukung, akademisi, seniman, politisi, dan semua masyarakat harus bergandengan tangan, bersatu untuk Indonesia lebih baik dan jangan terpecah-pecah hanya karena suksesi presiden dan wakil presiden. Karena sesunghuhnya kemenangan salah satu capres peserta Pemiilu 2019 ini merupakan kemenangan kita semua sebagai bangsa yang menghormati prinsip demokrasi.

Baca Juga :  Frederikus Gebze ( FEBRUARI 2018 ) Kilas Balik Kinerja Memimpin Kabupaten Merauke

Persaingan dalam pemilihan Presiden dan wakil Presiden harusnya sudah selesai cukup hanya di dalam duasana kampanye yaitu lapangan kompetisi saja dan jangan sampai di bawa keluar dari lapangan pertandingan.

Kita harus belajar dari atlit-atlit olahraga  yang berlaga dalam berbagai perlombaan di dunia, bagaimana mereka bersaing ketat dalam pertandingan membela negaranya, akan tetapi setelah pertandingan usai, mereka bersatu kembali.

Profesional dan kedewasaan dalam persaingan sangat dibutuhkan, seperti yang digambarkan dalam sebuah ajang turnamen olahraga. Sportivitas dan profesionalisme serta persahabatan tetap dijaga dalam sebuah kompetisi.

Hal tersebut sangatlah baik untuk kita tiru, bagaimana perbedaan dan persaingan sebagai Capres dan Cawapres serta Timses masing-masing kubu saling bertentangan dan saling berjuang memenangkan calon yang mereka usung, tetapi begitu Pemilu usai dan sudah mendapatkan hasil, maka semua harus mau dan berani untuk bergandengan tangan dan melupakan perbedaan selama kompetisi berlangsung. Bergandengan tangan demi membangun Indonesia maju jauh lebih baik lagi, demi kemajuan bangsa dan kedamaian tanah air yang kita cintai ini.

Semua komponen Bangsa saat ini terus mendorong rekonsiliasi dua kutub yang bersaing memperebutkan kursi kepemimpinan negeri ini, mulai dari tokoh-tokoh lintas agama, tokoh pemuda, mahasiswa, dan semua komponen masyarakat mendorong agar terciptanya keharmonisan  Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih untuk menjalankan mandatnya. Kita tetap harus waspada dan tidak terprovokasi oknum oknum yang sengaja ingin Indonesia terpecah.

 

Dengan damainya Pemilu 2019 ini kita perlu memberikan apresiasi yang luar biasa kepada para kandidat dan hal ini perlu untuk diikuti oleh semua tim sukses dan semua masyarakat. Kita tidak bisa membayangkan jika persatuan dan kesatuan nasional yang selama ini terjaga dengan baik rusak hanya karena pesta lima tahunan sekali.

Untuk itu mari kita dukung hasil Pemilu 2019 ini dengan semangat persatuan dan mari melanjutkan Pembangunan Indones1a dengan bersama sama menuju kemajuan bangsa. Mari kita bersatu melawan oknum oknum yang terus dan tetap memggangu kerukunan bangsa. Kita tegakan Pancasila dan amalkan demi masa depan Indonesia yang damai maju dan makmur serta adil. ( FG/XII/2019 )

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap