Frederikus Gebze ( Tajuk Pemikiran ) : ” Bagaimana Pemimpin Berjiwa Negarawanan Itu ? “

Frederikus Gebze ( Tajuk Pemikiran ) : ” Bagaimana Pemimpin Berjiwa Negarawanan Itu ? “

Tajuk Pemikiran

” Bagaimana Pemimpin Berjiwa Negarawanan Itu ? “

Oleh : Frederikus Gebze, S.E., M.Si ( Bupati Kabupaten Merauke )

Dalam penulisan tajuk pemikiran kali ini, saya masih akan tetap mengupas tentang thema ” Kenegarawanan “. Kenegarawan bukan berarti dalam konteks lingkup nasional saja, tapi juga bisa dalam lingkup Provinsi, Kota/Kabupaten atau bahkan dalam konteks  distrik/desa.

Saya merasa sangat bangga bahwa banyak generasi muda Papua maupun Merauke yang terjun dalam dunia Politik dan berkarier di kantor-kantor Pemerintahan baik di tingkat Provinsi, Kabupaten/kota, distrik dan desa. Namun saya agak sedikit bertanya, apakah mereka-meraka itu sudah memahami tentang istilah dan makna Kenegarawanan ?

“Hidup ini salah satunya adalah untuk belajar, bagaimana kita bisa untuk menjadi seorang pemimpin atau juga bisa berjiwa negarawan dikemudian hari. Jiwa dan wawasan kepemimpinan serta kenegarawanan itu akan berguna bagi diri kita apakah untuk scope nasional atau untuk scope daerah “ ( FREDERIKUS GEBZE )

Pada saat ini, mau tidak mau, suka atau tidak suka, Indonesia dapat kita jadikan sebagai guru dalam hal kepemimpinan dan juga kenegarawan. Karena untuk hal tersebut, Indonesia memang sudah diakui oleh dunia-dunia Internasional.

” Di seluruh dunia Politisi itu banyak,  tapi Negarawan hanya sedikit ” ( FREDERIKUS GEBZE )

Sebagian besar politisi terjebak menjadi tokoh yang mementingkan diri dan kelompoknya. Sedangkan seorang negarawan, lebih mementingkan kepentingan yang lebih besar, yaitu negara dan bangsa. Dia rela mengorbankan diri dan kelompoknya demi kepentingan bangsa. Itulah esensi negarawan.

Dalam beberapa bulan terakhir kita bisa melihat siapakah yang layak menyandang predikat sebagai seorang negarawan. Sesungguhnya dalam setiap pemilu untuk memilih pemimpin, kita bisa mendapati lahirnya seorang negarawan. Mereka adalah yang mau menerima kekalahan, bahkan dengan cara yang sangat pahit sekalipun. Sudah ada beberapa tokoh yang terlihat tegar, sabar, berjiwa besar ketika menerima hasil pemilu. Di beberapa daerah, lahir sejumlah negarawan yang mau menerima hasil pilkada, meski diwarnai dengan dugaan kecurangan, meski dengan selisih yang amat tipis.

 

“Di era abad 21 seperti saat ini, tantangan Indonesia umumnya dan Papua maupun Merauke khususnya dalam menghadapi masa depan menjadi semakin besar. Permasalahan bangsa yang tidak kunjung usai diikuti oleh permasalahan yang lain sehingga menambah rentetan daftar tantangan yang lebih serius”

( FREDERIKUS GEBZE )

Oleh karena itu sangat diperlukan sekali kesadaran akan pentingnya menimbulkan prinsip jiwa kenegarawan ini dalam setiap pemimpin dan tokoh politik baik yang berada pada scope nasional maupun pada scope daerah.

Apa itu Kepemimpinan Negarawan?

  1. Negarawan adalah orang yang berjasa dan berkorban demi bangsa dan negaranya, tidak memandang latarbelakang politiknya. Seorang negarawan biasanya merujuk pada seorang pemimpin politik atau tokoh yang berprestasi (berjasa) pada suatu negara yang telah cukup lama berkiprah dan berkarier di kancah politik nasional dan internasional. Tokoh yang berjasa pada bangsa/negara tentu merupakan tokoh yang mengabdikan pikiran dan tenaganya bagi kemajuan dan kemakmuran bangsanya.
  2. Kepemimpinan negarawan amat terkait dengan komitmen kebangsaan dan kenegaraan. Para pemimpin politik dituntut untuk meminimalisasikan kepentingan pribadi dan kelompok dan memaksimalkan kepentingan bangsa/negara yang lebih besar.
  3. Kenegarawanan adalah karakter, sikap, visi, dan orientasi yang mengedepankan nilai-nilai kebangsaan dan kerakyatan serta mengenyampingkan ego seorang pemimpin.
  4. Seseorang dapat disebut sebagai negarawan (meski secara formal tidak mengemban posisi kenegaraan) jika senantiasa memikirkan dan memegang komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat, bangsa, negara, bahkan manusia secara umumnya melalui ladang pengabdian atau profesinya. Jadi, negarawan adalah orang yang selalu berpikir dan berkorban demi bangsa dan negaranya tanpa pamrih.

Apa perbedaan antara politisi dan negarawan? Seorang politisi memikirkan soal Pemilu yang akan datang, seorang negarawan memikirkan generasi yang akan datang.

Apa Paradigma Pemimpin Negarawan Indonesia ?

  1. Pertama, dia harus yakin demokratis. Jadi, dia tidak boleh kembali ke zaman otoriter, yang telah menghasilkan keterpurukan ekonomi dan perpecahan sosial.
  2. Kedua, dia harus inklusif. Jadi, seluruh bangsa dan komponen masyarakat diterima. Dia harus yakin betul bahwa Indonesia hanya bisa bersatu dan hanya bisa berdamai, kalau semua bisa kerasan di rumah Indonesia.
  3. Ketiga, yang mungkin paling penting dan sangat rawan adalah, komitmen pada solidaritas bangsa, khususnya solidaritas dengan masyarakat sederhana dan masyarakat miskin.

Dalam menghadapi tantangan yang seperti ini, dibutuhkan jiwa seorang negarawan di dalam diri setiap individu bangsa Indonesia dan masyarakat Papua untuk bergerak melakukan perubahan. Melalui pemikiran-pemikiran cerdas dan tindakan konkret tantangan bangsa dapat diselesaikan. Dalam memperjuangkan aspirasinya seorang negarawan tidak harus terjun langsung dalam politik praktis. Seorang negarawan tidak haus dengan kekuasaan.

Sosok pemimpin politik akan layak disebut sebagai negarawan jika semua pemikiran dan tindakannya hanya untuk kesejahteraan rakyat.Hanya orang yang dapat menomorsekiankan kepentingan pribadi dan kelompoknya demi kemaslahatan bersama yang layak disebut sebagai negarawan. Indonesia kini merindukan sosok negarawan yang ideal,yang mampu mendorong perubahan dalam setiap elemen masyarakat Indonesia maupun masyarakat Papua.

Moh Hatta, Hoegeng Imam Santoso, Gusdur, Buya Hamka, Moh. Hatta, Ir, Soekarno,  Jenderal Soedirman, Soe Hok Gie,dan masih banyak negarawan lain yang membawa perubahan besar di republik ini yang patut mendapat penghormatan yang setinggi-tingginya. Mereka berjasa dalam setiap bidang yang digeluti masing-masing dan membawa perubahan negeri ini ke arah yang lebih baik. Kini Indonesia benar-benar membutuhkan sosok negarawan seperti mereka.

Dalam diri setiap individu bangsa Indonesia terdapat potensi untuk menjadi seorang negarawan, jiwa-jiwa negarawan itu saya yakin masih ada dan akan senantiasa ada untuk mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Papua menuju arah yang lebih baik. Sebagai generasi penerus bangsa, sudah seharusnya kita mempunyai tanggung jawab moral dalam mengawal perjalanan Indonesia kini dan masa depan.

Caranya dengan berkaca pada diri kita masing-masing dan merenungkan apa yang sudah kita berikan bagi bangsa ini serta memulainya dengan tindakan yang bermanfaat bagi orang di sekitar kita untuk kemudian bermanfaat bagi orang banyak di negeri ini. Jiwa negarawan kini dan nanti akan selalu hadir dalam benak kita masing-masing, tinggal bagaimana kita dapat mengaktualisasikannya dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Adapun ciri-ciri dari seorang negarawan :
  1. Ia memiliki kemampuan yang sangat cemerlang dan jeli; lebih merupakan bakat yang terpadu dengan keberanian melawan arus dan bertekad melakukan perubahan dan pembaruan struktural.
  2. Ia berusaha memasuki hal-hal baru secara total, memilih menjadi pelopor atau pionir, dan karena yang dikemukakan adalah hal yang total baru, maka konsep yang di kemukakan menjadi mengejutkan dan meragukan pihak-pihak yang masih berpikir dalam pola lama.
  3. Ia adalah orang yang mendasarkan setiap perilakunya pada sebuah kebenaran yang hakiki, atau dengan kata lain, ia memiliki sudut pandang (Ideologi) tertentu dan ia konsisten untuk memegang teguh ideologi tersebut.
  4. Ia memiliki suatu peradaban tertentu yang mampu mengangkat manusia dalam keadaan yang luhur, serta bentuk kehidupan tertinggi dan aspek pemikiran yang tertinggi yang dipadukan dengan nilai-nilai yang luhur dan ketentraman yang abadi.
  5. Ia adalah seorang pemimpin yang kreatif, inovatif, bermental pemimpin, menyelesaikan permasalahan, serta bisa mengendalikan hubungan pribadi dan urusan umum, dan dapat membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat umum.

  6. Ia mampu untuk menawarkan harapan dan peluang nyata, solusi secara tuntas, serta reformasi atau revolusi total yang positif dan konstruktif, hingga menawarkan konsep dan aksi untuk menghentikan krisis besar yang melanda bangsanya.
  7. Ia tidak akan pernah berpikiran sempit atau berwawasan kerdil. Ia selalu memikirkan nasib negara sebagai suatu kesatuan yang utuh, serta tidak mementingkan secara pribadi atau kelompok politiknya, namun mementingkan kepentingan bangsa di atas segalanya. Berani untuk mempertaruhkan dirinya, pribadi dan golongannya demi kepentingan negara yang jauh lebih besar, dan lebih tinggi, dan menjaga citra yang baik tentang dirinya di tengah-tengah masyarakat.
  8. Ia memiliki sikap rendah hati. Kekuasaan tidak membuatnya sombong, angkuh dan merendahkan martabat orang lain. Sikap rendah hati ini juga akan tercermin dari sikap penerimaannya atas sebuah proses politik menuju tahta kekuasaan.
  9. Ia memiliki integritas. Integritas adalah sebuah kejujuran. Dalam pengertian lain dikatakan bahwa integritas adalah suatu sifat yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan sebuah kewibawaan. Ia tidak akan bersembunyi dibalik kedok apapun. Justru ia akan menampilkan jati dirinya, salah satunya untuk menciptakan citra baik untuk negaranya.0 Untuk Negeri (bung hatta)
  10. Ia akan berpikir ulang jika tindakannya tidak mencerminkan sikap yang bijaksana. Contohnya seperti: Jika aksinya justru merugikan sebagian golongan dan bisa menimbulkan perpecahan bangsa, ia pasti akan berpikir ulang untuk menjalankannya, hal ini karena ia berharap keutuhan negaranya semata. Maka, wajar kiranya jika seorang negarawan haruslah memiliki integritas, baik integritas secara individu, maupun integritas bangsa.
  11. Ia memiliki suatu pandangan ke depan atau mengelola masalah negara dengan kebijaksanaan dan kewibawaan, selalu berorientasi pada negara, dan tanggap terhadap isu-isu masalah yang sedang melanda negara. Ketanggapan itu muncul karena dorongan dari dalam dirinya yang memang selalu berpikir untuk negara. Aksinya itu bukan sekedar menunjukkan kepedulian akan masalah semata, melainkan lebih dari itu, ia selalu ingin negaranya menjadi lebih baik. Maka, setiap permasalahan yang mendera negaranya, akan ia pikirkan dari kacamata solusi. Pemikiran-pemikirannya tidak pernah terhenti, dan ia tidak akan mudah terpengaruh oleh keadaan dan kondisi apapun, seperti apakah dia memiliki jabatan atau tidak.

  12. Ia mampu mengatur urusan kenegaraan dan dapat menjamin terwujudnya pemerintahan yang baik yaitu dengan memperbaiki kondisi perekonomian, menegakkan hukum, dan memgembangkan demokrasi, sehingga ia dapat memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada rakyat.
  13. Ia dapat menjaga roh ”Kepemimpinannya” yaitu mampu menjaga keseimbangan antara pengetahuan, keberanian dan etika, dengan dilandasi kualitas moral yang tangguh dan terpercaya. Karena dengan menjaga ketiga hal tersebut, ia dapat melaksanakan kepemimpinan dan komunikasi sosialnya secara efektif, sehingga proses penegakan hukum dapat berjalan sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.

Seorang negarawan adalah seseorang yang melakukan hal yang benar, dan bukan sekadar melakukan sesuatu dengan benar. Perhatian seorang negarawan adalah pada arah perjalanan negara, ia tidak tertarik dengan kepentingan sesaat, yang berjangka pendek, yang bisa menjerumuskan negara dalam kesulitan apalagi sampai terperosok di masa depan. Adanya seorang negarawan adalah sebagai penyelemat negara agar menjadi negara yang lebih baik di masa depan (Roswati, 2014).

Thomas Jefferson mempunyai definisi lain tentang politikus dan negarawan. Politikus memikirkan pemilihan yang akan datang, sementara negarawan memikirkan generasi yang akan datang. Politikus senantiasa menyibukkan dirinya dengan pertanyaan 3W 1H, sedangkan seorang negarawan menanyakan pertanyaan yang berbeda, yaitu “why” dan “where”.

Why adalah pertanyaan yang berfokus ke arah dalam, yaitu hati. Pertanyaan ini adalah yang terpenting yang harus ditanyakan seorang pemimpin ketika ia melangkah. Mengapa ia ingin memimpin? Apa yang menjadi motivasi terbesarnya dalam menjadi pemimpin? Mengapa ia berjuang sekuat tenaga dan sangat bersungguh-sungguh untuk semua ini?

Seorang pemimpin akan melakukan pertanyaan “Why” secara terus-menerus. Hal ini layaknya sebuah alat (roof) dalam manajemen yang disebut “Why 5 Times”. Maksudnya adalah untuk bisa menemukan akar dari segala masalah, ia harus menanyakan “mengapa” sebanyak lima kali dan biasanya jawaban kelima atas pertanyaan “mengapa” itulah yang merupakan jawabannya yang sesungguhnya. Jawaban untuk pertanyaan “mengapa” yang kelima tersebutlah yang menjadi alasan utamanya dalam memutuskan sesuatu. Pertanyaan penting yang kedua adalah “Where”.

Pertanyaan ini adalah pertanyaan mengenai visi atau tujuan. Kemana ia akan menuju? Ke arah mana ia akan berjalan bersama untuk mencapai apa yang ia cita-citakan? Visi itu menjelaskan tentang “Doing the right things” (melakukan hal yang benar). Oleh karena itu, bukan sekadar “doing things right” (melakukan dengan benar).

Kenapa Indonesia maupun Papua Membutuhkan Pemimpin Negarawan?

Suatu negara atau daerah akan maju bukan hanya dikarenakan mereka memiliki pemimpin yang bagus, tapi juga penduduk yang bagus pula. Negarawan tidak selalu tentang pemerintah. Bukan selalu tentang presiden, menteri, ataupun orang tua. Negarawan bisa juga muncul sejak usia dini. Kehadiran mereka dapat memberikan dampak positif kepada lingkungan sekitar dan Indonesia pada umumnya. Mereka dapat melihat permasalahan-permasalahan dan mengubahnya menjadi kesempatan yang berujung pada perubahan positif.

Ada beberapa cara sederhana yang dapat kita lakukan untuk menjadi negarawan. Dimulai di mana kita berada, dengan apa yang kita punya bisa menjadi modal untuk menjadi seorang negarawan. Misalnya, sebagai seorang insinyur, adalah suatu keharusan insinyur Indonesia membawa aspek keinsinyuran dengan baik untuk Indonesia. Jangan sampai kita kalah ataupun menjadi tamu di negeri sendiri.

            Negarawan tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Kita harus pastikan kita bisa memulai dari diri sendiri, berfikir global dan melakukan aksi dari hal-hal sederhana sampai hal-hal yang besar. Dalam perjalanan waktu, tanah Papua juga mulai melahirkan tokoh-tokoh pemimpin yang mempunyai jiwa kenegarawan dan memiliki kesadaran dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. ( FREDERIKUS GEBZE )

Para pemimpin Papua sudah mulai banyak yang tidak berpandangan sempit lagi dan mulai menjadi seorang pemimpin yang berwawasan luas dan mempunyai jiwa kenegarawanan. Dalam membangun Indonesia ini, Pemerintah pusat juga memerlukan pandangan dan pemikiran dari tokoh-tokoh pemimpin Papua. Tentunya tokoh pemimpin yang benar-benar berprinsip bahwa NKRI adalah diatas segalanya dan juga melihat secara utuh bahwa Papua ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari NKRI. Para pemimpin Indonesia di pusat, akan bisa melacak setiap jejak perjalanan dari seorang tokoh atau pemimpin bagaimana rasa nasiolismenya, sikap dan pandangan kenegarawannya serta sikap dalam kehidupan bernegara dan berbangsa sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.

             “Percuma jika ada seorang pemimpin atau tokoh yang pintar dari tanah Papua ataupun dari Merauke, tetapi rasa nasionalismenya dan jiwa kenegarawanannya serta kesadaran kehidupan bernegera dan berbangsa tidak dimilikinya”                       ( FREDERIKUS GEBZE )

Karena hakikat dari semua prinsip-prinsip itu ada pada Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia. Jika seorang tokoh atau seorang pemimpin sudah tidak mau mengakui Undang-undang yang berlaku di Indonesia dan juga diakui oleh dunia Internasional, maka sama saja seorang pemimpin itu tidak mau mengakui keberadaan Pancasila itu sendiri. ( FG/XII/2019 )

 

 

Table of Contents

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap