Suku Sentani dan Ras Melanesia, By : Max Abner Ohee, S.IP

Suku Sentani dan Ras Melanesia, By : Max Abner Ohee, S.IP

Suku Sentani dan Ras Melanesia, By : Max Abner Ohee, S.IP

Kenapa banyak orang menyebut bahwa suku  Sentani maupun suku Tabi merupakan ras Melanesia ? Negara-negara yang termasuk dalam Ras Melanesia menurut keterangan dalam Wikipedia Bahasa Indonesia, adalah Fiji, Papua New Guinea, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Kaledonia Baru, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Papua Barat.

Kata Melanesia bisa jadi masih asing di telinga orang Indonesia khususnya di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat yang umumnya tergolong dalam ras Mongoloid. Tapi tidak demikian untuk beberapa wilayah timur Indonesia, terutama wilayah Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara. Sayangnya, Melanesia kalah populer dari sebutan orang Indonesia Timur.

Melanesia sendiri, sebenarnya bukan terbatas pada wilayah yang disebutkan diatas. Jika bergerak terus ke timur, Melanesia terbentang dari kepulauan di Maluku sampai ke kepulauan Fiji. Secara umum, ras Melanesia merupakan ras yang berkulit gelap, rambut ikal, kerangka tulang besar dan kuat dan memiliki profil tubuh atletis.

Konsep Melanesia

Konsep Melanesia sebagai wilayah yang berbeda datang dari para penjelajah Eropa ketika melakukan ekspedisi menjelajahi Pasifik. Pada 1756 Charles de Brosses berteori bahwa ada orang-orang ras kulit hitam yang mendiami wilayah Pasifik. Pada tahun 1825 Jean Baptiste Bory de Saint-Vincent and Jules Dumont d’Urville mengidentifikasi mereka sebagai Melanesia yang merujuk kepada sekumpulan ras yang berbeda dari ras penghuni wilayah sekitarnya seperti ras Australian dan Neptunian.

Seiring dengan waktu, orang Eropa semakin melihat Melanesia sebagai kelompok masyarakat yang berbeda budaya, bukan lagi sekadar berbeda ras dan daerah. Pada abad ke-19, Robert Codrington, seorang misionaris Inggris menghasilkan serangkaian monograf pada orang Melanesia berdasarkan lama waktu mereka tinggal di wilayah tersebut.

Dalam karya-karyanya seperti The Melanesian Languages (1885) dan The Melanesians: Studies in Their Anthropology and Folk-lore (1891), Codrington mendefinisikan Melanesia termasuk wilayah Vanuatu, Kepulauan Solomon, Kaledonia Baru dan Fiji. Wilayah Nugini kemudian masuk dalam Melanesia dalam studi berikutnya oleh para peneliti antropologi.

Penelitian Jonathan Friedlaender dari Temple University mengatakan, “Para pemukim pertama di Australia, Nugini, dan pulau-pulau besar dari timur tiba antara 50.000 sampai 30.000 tahun yang lalu, ketika Neanderthal masih berkeliaran di daratan Eropa.”

Penduduk asli kelompok pulau-pulau yang sekarang disebut Melanesia kemungkinan besar juga nenek moyang dari orang-orang Papua. Bermigrasi dari Asia Tenggara, mereka tampaknya telah menduduki pulau-pulau ini ke timur sampau Kepulauan Solomon, termasuk Makira dan mungkin pulau-pulau kecil yang lebih jauh ke arah timur.


Periode setelahnya, dari arah jalur barat, di wilayah-wilayah yang modern ini masuk kawasan Asia Tenggara dan jalur timur lewat wilayah yang sekarang disebut Taiwan, datang lagi gelombang migrasi dari ras Mongoloid. Mereka mulai bermigrasi sekitar 5000 sampai 2500 SM dan menetap di wilayah-wilayah tersebut.

Pertemuan dengan ras Mongoloid di daerah tersebut yang kemudian disebut sebagai orang-orang Austronesia dengan Melanesia. Periode interaksi kemudian mengakibatkan banyak perubahan yang kompleks dalam genetika, bahasa, dan budaya. Penemuan berbagai artefak peninggalan juga menjadi bukti proses bertemunya dua ras besar kala itu.

Seperti dikutip dari Mongabay, Arkeolog Balai Peninggalan dan Pelestarian Pubakala (BP3) Sulawesi Selatan, Rustan menjelaskan, ras Mongoloid yang berdiam dan berkembang di Sulsel dan sebagain besar nusantara. Orang-orang Melanesia, dari Sulawesi kemudian bergeser ke bagian timur Indonesia, menuju Papua hingga kepulauan Polinesia.

Apa yang membuktikan bahwa Suku Sentani adalah Ras Melanesia? Pertama, pada bagian migrasi menuju sentani, dijelaskan bahwa masyarakat asli Sentani melakukan exodus dari Nyoa dan Moso disebelah Papua New Guinea.

Kedua, berdasarkan cerita asal-usul terjadinya ‘Danau Sentani versi Sentani tengan’ oleh Pilipus Kopeuw (Juli 2009), bahwa terjadi exodus, masyarakat asli Sentani dari Papua New Guinea menuju Sentani.

Exodus dari kepulauan Vanuatu dan Papua New Guinea (PNG) menuju wilayah Jayapura, Sentani dan lainnya. Sebelum mereka exodus, mereka semua berkumpul di daerah perbatasan RI-PNG.

Ada sebuah tempat antara kampung Wutung PNG dan perbatasan RI-PNG yang menjadi tempat tinggal sementara semua orang yang akan exodus ke arah barat yaitu masuk wilayah Jayapura, Sentani dan wilayah-wilayah lainnya. Konon cerita, waktu itu mereka sudah punya satu pemimpin kelompok yang di kenal dengan sebutan Ondoafi atau kepala adat yang membawahi seluruh masyarakat tersebut.

Sebuah tradisi yang dimiliki oleh kelompok masyarakat ini adalah biasanya menjelang bulan purnama, mereka mengadakan dansa adat dengan maksud mengadakan penyembahan kepada dewa yang mereka kenal. Pelaksanaan dansa adat ini dipersiapkan dengan baik dan akan dilaksanakan selama sebulan. Untuk itu, segala sesuatu disiapkan, seperti tempat, hewan seperti babi untuk korban penyembahan dan untuk bahan makan, juga ubi-ubian, pisang, sagu dan sebagainya.

Ketika saat bulan purnama tiba, Ondoafi memerintahkan semua orang wajib menggunakan burung cenderawasih di kepalanya masing-masing tanpa kecuali. Saat itu anak perempuan dari Ondoafi tersebut tidak memiliki burung cenderawasih tersebut.

Di sekitar Wutung ada satu tempat keramat yang penuh dengan burung cenderawsih. Tidak sembarang orang dapat mengambil burung cenderawasih di situ. Siapa yang mengambil tanpa ijin akan kena kutuk. Jadi, harus ada ijin kepada tuan tanah atau penunggu tempat keramat tersebut baru bisa diambil burung cenderawasihnya.

Ternyata anak perempuan Ondoafi ini menyuruh orang mengambil salah satu burung cenderawasih tanpa ijin.

Ketika acara dansa adat dilaksanakan, keluarlah seekor ular raksasa dan memalang tempat dimana acara dansa adat ini dilaksanakan. Melihat itu, Ondoafi mengumpulkan tua-tua adatnya untuk coba mengusir ular raksasa itu dengan segala macam cara. Hal itu sudah dilakukan, tetapi ular itu tidak bergerak sedikitpun meninggalkan tempat itu. Segala macam sajian sudah di sajikan kepada ular itu, tetapi ular raksasa itu tidak mempedulikan dengan semua yang sudah diperbuat baginya.

Melihat kondisi ini yang berlarut-larut sehingga mereka tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk mengusir ular tersebut. Di dalam putus asa itu Ondoafi memanggil lagi para tua-tua adat dan memerintahkan mereka untuk mencari tahu apa sebabnya ular ini membatalkan pesta adat mereka dan tidak mau pergi dari tempat mereka tinggal.

Setelah sekian lama diselidiki, mereka menemukan jawabannya. Mereka mengingat akan tempat keramat yang banyak burung cenderawasih. Akhirnya diadakan pemeriksaan terhadap semua orang tentang siapa yang memiliki burung cenderwasih untuk dansa tetapi masih dalam kondisi berdarah akibat dibunuh. Setelah diperiksa akhirnya di temukan bahwa anak perempuan Ondoafi yang memakai burung cenderawasih tersebut.

Ular raksasa ini adalah tuan tanah penunggu hutan tempat keramat yang banyak burung cenderawasihnya. Karena burung cenderawasih diambil tanpa ijin, makanya ular raksasa ini atau tuan tanah ini minta tumbal yaitu mau memakan orang yang sudah mengambil burung cenderawsih di hutan keramat itu tanpa ijin.

Setelah hasil pemeriksaan itu disampaikan kepada Ondoafi, maka Ondoafi dengan terpaksa memerintahkan supaya anak perempuannya di berikan kepada ular raksasa itu. Akhirnya anak perempuan Ondoafi diserahkan kepada ular raksasa itu. Setelah anak perempuan ini diserahkan kepada ular, ular itupun langsung bergerak menelan anak perempuan Ondoafi ini dan kemudian bergerak pergi meninggal mereka.

Ondoafi merasa sedih dan tidak tega melihat anaknya dimakan ular raksasa tersebut, akhirnya Ondoafi memerintahkan supaya masyarakatnya mengejar dan membunuh ular tersebut. Akhirnya semua masyarakat mengambil alat-alat tajam, kampak, tombak, panah lalu mengejar ular raksasa itu.

Ketika ular raksasa itu dikejar ia lari kearah barat. Masyarakat terus mengejarnya hingga bertemu di ujung kampung Puay. Di sini mereka mencoba memanahnya dan menikamnya dengan tombak. Ular ini menggeliat kesakitan sehingga mengakibat seperti galian-galian atau kolam.

Ular itu melarikan diri ke arah kampung Yoka. Ketika di Yoka, masyarakat kembali menghujaninya dengan panah dan tombak. Ular itu terus merontah-rontah membalik arah ke kampung Ayapo, Asei, Netar, Ifar, Besar, Ajau, Putali, Atamali, kemudian kearah Simporo, Babrongko dan terus ke barat, ketika ular ini mengarah ke daerah Doyo Lama, di sana masyarakat menemukannya dan bertubi-tubi memanah dan menombaknya ke kepalanya.

Ular raksasa ini menarik kembali kepalanya dan menuju ke arah kampung Sosiri dan Yakonde akhirnya ular itu mati di sana.

Waktu ular raksasa ini menggeliat karena dipanah dan ditombak masyarakat, gerakan-gerakannya itu membuat jalur dimana dia bergerak-gerak merontak karena kesakitan, gerakan-gerakan merontaknya itu menyebabkan tempat yang menjadi pelariannya itu tergali dan menjadi dalam. Ini belum ada air.

Pertanyaannya adalah kalau begitu dari mana ada sumber air yang menjadikan kelukan-kelukan itu menjadi danau Sentani sekarang ini.

Ada kisah lain yang dapat ditarik benang merahnya mengenai Kinggai di Siklop. Jaman dulu di gunung Siklop (Cycloop) ada tempat penampungan air yang disebut Kinggai. Kinggai ini tempat dimana air terjun jatuh di dalamnya dan kemudian percikannya itu menyirami daerah sentani.

Konon cerita waktu itu Sentani sangat sejuk dan sangat terasa sekali butiran-butiran airnya hingga ke seluruh wilayah Sentani. Butiran air Cycloops yang memberi kesegaran dan kesejukkan kepada manusia dan alamnya Sentani.

Singkat cerita, wadah penampung air terjun ini patah dan mengalir menjadi beberapa sungai atau kali. Air tumpahan dari Kinggai d Siklop inilah yang kemudian turun ke daratan rendah dan memenuhi kelukan-kelukan jalur tempat ulat raksasa ini merontah-rontah kesakitan. Akhirnya kelukan itu terisi air penuh dan terjadilah danau. Danau tanpa nama.

Setelah ada penghuni kemudian danau ini dinamakan Phuyakha atau danau yang sudah ada penghuninya. Phuyaka asal kata phu + yakha. (air + terang, Nampak, kelihatan). Nama Phuykha kemudian di sebut Sentani. Akhirnya karena danau ini di huni oleh orang-phuyakha, maka dinamakan danau Sentani atau bhuyakha bhu.

Danau itu yang kemudian, setelah ditempati, di sebut dengan “phuyaka (Sentani). Dari sejarah dan cerita asal-usul danau sentani dapat menjelaskan secara spesifik bahwa, Suku Sentani adalah juga Ras Melanesia.

Dengan luas 9.635 hektare, Danau Sentani menjadi danau terbesar di Papua. Danau ini berada di selatan Kota Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura. Letaknya tepat di lereng Pegunungan Cycloops,  yang memagari danau yang terbentang di antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura ini.

Ada sekitar 22 pulau kecil tersebar dari barat ke timur. Sebagian besar dihuni masyarakat asli atau suku-suku di Sentani. Di area danau ini terdapat 24 kampung yang tersebar di pesisir dan pulau-pulau kecil yang ada di tengah danau itu. Setiap kampung begitu unik dan penduduknya memiliki tradisi masing-masing.

Misalnya penduduk Pulau Asei yang terkenal dengan kerajinan kulit kayunya. Sedangkan di Desa Taturi, penduduknya mahir membuat lukisan batu.

Menurut Pilipus M. Kopeuw, STh, MPd, peneliti dan putra asli Sentani, penyebutan “suku Sentani” terhadap seluruh penduduk Sentani sebetulnya tidak pas. Sebab setiap kampung memiliki suku tersendiri.

Dari Kampung Yoka, yang paling ujung, Waena–tempat menuntut ilmu–, Sebeaiburu, Puay, Ayapo, Asei Kecil dan Asei Besar, Netar, Ifar Besar, Ifar Kecil (Ifale), Hobong, Yobhe, Yabuai, Putali, Abar, Atamali, Yoboi, Simporo, Babrongko, Dondai, Kwadeware, Yakonde, Sosiri, hingga Doyo Empat Kampung, semuanya dihuni suku yang berbeda-beda dan mempunyai ondofolo (kepala adat) sendiri-sendiri. Setiap kose (Kepala Suku) pun memiliki nama suku sendiri-sendiri.

Dalam satu kampung biasanya ada satu ondofolo dan lima kose. Artinya, satu kampung bisa dihuni minimal enam suku. Jadi kalau ada 24 kampung, ada 144 suku yang ada di wilayah Sentani.

 Wilayah Suku Sentani

Di Kabupaten Jayapura ada 19 Kecamatan dan 139 Kampung serta 3 kelurahan. Masyarakat Asli Suku Sentani hidup di sekitar danau Sentani. Danau Sentani menjadi sumber pencaharian turun temurun.

Ikan yang terkenal dari danau sentani adalah ikan “gabus”. Motto Kabupaten Jayapura di tulis dengan bahasa Suku Sentani yaitu “Khena mbai Umbai artinya Satu utuh ceria berkarya”.

Wilayah Sentani merupakan Ibu Kota Kabupaten Jayapura. Sentani bukan lagi wilayah primitif, tetapi telah menjadi kota dan pintu masuk perubahan, karena lapangan terbang Internasional berada di sentani.

Danau Sentani merupakan danau yang terletak di antara kabupaten Jayapura dan Kota Madya Jayapura. Danau tersebut sangat berpotensi jika dikelola dengan baik, diantaranya sumber air bersih, perikanan, dam parawisata. Secara geografis  dengan luas ± 9.360 Ha. Danau Sentani di Papua terletak antara 20.33o hingga 20.41o LS dan 1400.23o sampai 1400.41o BT. Berada 70 – 90 m diatas permukaan laut.

Terletak juga di antara pegunungan Cyclops. Merupakan danau Vulkanik. Sumber airnya berasal dari 14 sungai besar dan kecil dengan satu muara sungai, Jaifuri Puay. Diwilayah barat, Doyo lama dan Boroway, kedalaman danau sangat curam. Sedangkan sebelah timur dan tengah, landai dan dangkal, Puay dan Simporo.

Disini juga terdapat hutan rawa di daerah Simporo dan Yoka. Dalam beberapa catatan disebutkan, dasar perairannya berisikan substrat lumpur berpasir (humus).

Pada per-airan yang dangkal, ditumbuhi tanaman pandan dan sagu. Luasnya sekitar 9.360 Ha dengan kedalaman rata rata 24,5 meter. Disekitaran danau ini terdapat 24 kampung tersebar dipesisir dan pulau-pulau kecil yang ada ditengah danau.

 1. Kampung (Yo)

Danau Sentani danau yang besar. Dengan kampung-kampung yang amat indah. Di ujungnya terdapat kampung Yoka. Tempat menuntut ilmu. Waena – Sebeaiburu dan Puay. Ayapo–Asei Kecil dan Asei Besar . Netar – Ifar Besar dan Ifar Kecil. Siboi-Boi – yobeh – Sere dan Yabuai. Ifar Faborongko dan Puyoh Pesar. Puyoh Pecil – Abar – Simporo – Babrongko. Dondai dan Kwadeware dan Yakonde. Sosiri dan Doyo empat kampung

Sub suku bangsa sentani mendiami seluruh wilayah sekitar danau sentani dan di beberapa pulau dari danau ini. Sub suku bangsa ini terbagi terbagi dalam tiga penggolongan besar, yaitu sentani timur, sentani tengah dan sentani barat. Saat ini terdapat 27 kampung asli dengan struktur pemerintahan adat berlapis tiga. Dua kampong terletak di wilayah kota jayapura dan 25 kampung  berada di wilayah kabupaten Jayapura.(Purnomo dkk, 2010: 39).

Kampung adalah suatu tempat pemukiman tetap kesatuan sosial yang jumlah anggotanya relatif tidak besar. Mereka saling mengenal dan bergaul, dengan latar belakang budaya yang bersifat homogen. Latar budaya itu menyebabkan terwujudnya suatu pola perkampungan tertentu.

Para anggota suatu kampung  biasanya terikat oleh suatu wilayah, sehingga ada rasa cinta, rasa bangga terhadap wilayah pemukiman mereka, dan suatu kepribadian umum. Namun, ada pula kampung yang anggotanya benar-benar masih terjalin dalam ikatan kekerabatan yang jelas.

Pada masa lalu, mereka bisa memenuhi sebagian besar kebutuhan di sekitar lingkungan pemukiman itu. Mereka hidup dari mata pencaharian bercocok tanam, berburu, meramu sagu, atau menangkap ikan. Kampung dapat disebut salah satu contoh komunitas, dalam hal ini komunitas kecil.

Pada sejumlah suku bangsa di Indonesia, istilah kampung digunakan untuk menamakan tempat pemukiman seperti tersebut di atas. Suku bangsa yang menggunakan istilah kampung itu antara lain: Sangir-Talaut, Minahasa, Banjar, Melayu Riau, Tamlang, Palembang, dan Gayo.

Beberapa suku bangsa lain menggunakan istilah kampong, tetapi dengan sedikit perubahan pengucapan, misalanya kampong(Sumbawa), kampuang (Aneuk Jamee), gambong (Aceh), kambungu (Gorontalo).

Ratusan suku bangsa lainnya di Indonesia tentu juga mempunyai tempat pemukiman tetap seperti komunitas kecil tersebut, yang sudah ada secara tradisional. Namun berbagai suku bangsa itu menggunakan istilah tersendiri, misalnya negeri (Seram), tiyuh (Lampung), nuch (penduduk Teluk Humbolt), Yo (Sentani) dan lain-lainnya di Papua (Eni, 1997: 105).

 2. Desa

Menurut definisi resmi dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1979  desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat, termasuk kesatuan masyarakat hukum, yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri, dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Inilah pengertian desa menurut pandangan administrasi pemerintahan.

Ahli sosialogi lebih memusatkan perhatiannya pada “masyarakat desa” sebagai suatu unit sosial,  yaitu sekelompok manusia yang hidup bermukim secara menetap dalam wilayah tertentu, yang tidak selalu sama dengan wilayah administrasi setempat, dan mencakup tanah pertanian yang kadang-kadang dikuasai secara bersama.

Beberapa umum ciri desa yang universal sifatnya : (a) desa pada umumnya terletak di atau sengat dekat dengan pusat wilayah usaha tani; (b) dalam wilayah itu, pertanian merupakan kegiatan ekonomi yang dominan; (c) karenanya, faktor penguasaan tanah menentukan corak kehidupan masyarakat; (d) tidak seperti di kota atau kota besar, yang sebagian besar penduduknya merupakan pendatang, populasi penduduk desa bersifat “terganti dari dirinya sendiri”; (e) kontrol sosial bersifat personal atau pribadi dalam bentuk tatap muka; (f) desa mempunyai yang relatif lebih ketat dari pada di kota (Eni, 1997: 309).

Di Sentani pernah dipraktekkan bentuk desa, yang merupakan penggabungan dari beberapa kampung. Desa-desa itu terkesan tidak mengalami perubahan dan perkembangan, karena status kampung merupakan wujud komunitas yang sama sekali berdiri sendiri sebagai suatu negara kecil yang sangat dicintai dan dibela oleh warganya, dan Ondofolo merupakan pemimpin pemerintahan adat tertinggi tidak berada dibawah siapa pun.

Aktivitas-aktivitas yang didukung oleh kekuatan magis serta bentuk aktivitas yang mengarah pada ritual dilakukan dengan sangat rahasia. Prestasi-prestasi kampung yang bersifat komural adalah hasil dari musyawarah tertutup yang sifatnya religious magis, yang tidak boleh diketahui oleh pihak lain.

Itu sebabnya, balai desa yang didirikan untuk menunjang aktivitas desa, tidak menjadi bermanfaat bagi masyarakat Sentani.

 Pola Hidup

Masyarakat asli suku sentani bertempat tinggal di pingir-pinggir danau maupun tepian pulau-pulau. Untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka yakni dengan mencari ikan, maupun kerang (kheka) dan bia (fele).

Selain itu juga, masyarakat suku sentani mengerjakan lading, menanam ubi-ubian seperti singkong/ketela pohon (kasbi), betatas, keladi, pisang, ubi jalar, sayuran (sayur lilin, sayur, patola, bayam merah, dll). Masyarakat suku Sentani memiliki hutan sagu yang luas.

Pohon sagu adalah pohon yang isinya setelah di proses diambil sarinya seperti tepung. Sari dari sagu ini kemudian dijadikan makanan, antara lain papeda, atau juga sagu bakar (forna, dan sinole).

Sagu yang dibuat papeda biasanya dimakan bersama dengan ikan. Bagi orang lain, mereka akan pikir-pikir dan mempertimbangkan baik-baik sebelum makan papeda, sebab kelihatannya seperti lem. Jangan-jangan ketika makan tenggorakannya tidak berfungsi.

Tanaman sagu dan ikan di wilayah Sentani tidak ditanami, tapi sudah disediakan oleh Sang Pencipta buat suku ini. Ikan-ikan dan segala isi danau tidak dikembangbiakan, tetapi tidak pernah habis walaupun setiap hari jutaan ekor ditangkat.

Sosial budaya masyarakat yang sifatnya heterogen merupakan salah satu aspek yang potensial. Orang Sentani mengenal adat perkawinan ideal yang disebut miyea waimang  yaitu tempat seorang laki-laki mengambil istri. Klen-klen tertentu berfungsi sebagai pemberi wanita (dari berbagai seumber)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via