Ryamizard Ryacudu : Sang Tokoh Bela Negara Indonesia ( Bagian 2 ) By: Ramses Wally dan Adrian Indra

Ryamizard Ryacudu : Sang Tokoh Bela Negara Indonesia ( Bagian 2 ) By: Ramses Wally dan Adrian Indra

Ryamizard Ryacudu : Sang Tokoh Bela Negara Indonesia

( Bagian 2 ) By: Ramses Wally dan Adrian Indra

Ryamizard: Bela Negara Bentuk Karakter dan Kesadaran Sikap Anak Bangsa yaitu “The Man Behind the Gun”

Ryamizard Ryacudu, memberikan ceramah kepada 4300 mahasiswa Universitas Indonesia (UI) di Balairung, Kampus UI, Depok, Jawa-Barat, Jumat (4/8/2017). Menhan Ryamizard, memberikan Kuliah Umum dalam Pengenalan Sistem Akademik Universitas tahun Akademik 2017 / 2018 dengan tema ” Bela Negara dan Pembangunan Karakter Nasional untuk mewujudkan Bangsa yg berintegritas ” . Kepada ribuan mahasiswa baru UI, Menhan Ryamizard berpesan, agar mahasiswa UI dapat menjadi generasi masa depan yang maju dan unggul, yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta terus berkarya.

“Selain itu harus memiliki kekuatan integritas kepribadian yang Pancasilais, mental yang kokoh, ulet, tegar, dan pantang menyerah untuk berjuang demi kemajuan bangsa dan negara, ” ( Ryamizard Ryacudu )

Menurutnya Ryamizard, proklamasi kemerdekaan merupakan awal proses pembangunan nilai-nilai kebangsaan dan demokrasi, baik sebagai landasan perjuangan dan cita-cita kemerdekaan, maupun sebagai acuan untuk menilai konsistensi dan gerak langkah bangsa Indonesia dalam memberi makna pada kemerdekaannya, pada harga dirinya sebagai bangsa yang merdeka.

Ryamizard, melanjutkan, guna melestarikan dan menanamkan nilai-nilai luhur khas bangsa Indonesia, para pendiri bangsa telah mewariskan ideologi negara yaitu Pancasila dan UUD 1945 yang implementasinya dituangkan dalam Bela Negara. Keikutsertaan warga negara dalam Bela Negara, terefleksi dalam Pasal 27 UUD 1945, yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Bela Negara tersebut juga diatur dalam UU No 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara.

“Pada intinya Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai kecintaannya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” ( Ryamizard Ryacudu )

Ryamizard, kemudian mengutip pernyataan mahapatih majapahit Empu Tadah pada 1325 kepada Patih Gajah Mada :

 “Memang sangatlah sulit untuk menyatukan suku-suku yang beraneka ragam di Nusantara ini, tetapi justru persatuan dan kesatuan itulah kekuatan kita yang maha dahsyat, tetapi dengan kesadaran akan persatuan dan kesatuan yang tidak dipaksakan (kesadaran Bela Negara)”.

Esensi dari kesadaran Bela Negara, lanjut Menhan, pada hakekatnya adalah untuk membentuk anak bangsa yaitu “The Man Behind the Gun” yang berkarakter dan memiliki kesadaran sikap dan perilaku yang menjunjung tinggi pentingnya aktualisasi nilai-nilai luhur Bela Negara.

Pada akhirnya kekuatan jiwa bangsa Indonesia yang dibangun melalui Bela Negara, akan menjadi suatu kekuatan maha dahsyat, karena Bela Negara didasari kebanggaan dan kecintaan yang tulus dari seluruh komponen bangsa.

“Jadilah duta-duta Bela Negara dari kalangan mahasiswa yang menjadi role model bagi masyarakat yang membawa manfaat dan kontribusi positif bagi peningkatan kesadaran Bela Negara,  ( Ryamizard Ryacudu )

Haedar Nashir Apresiasi Gerakan Bela Negara Kemenhan

Gerakan Bela Negara yang menjadi program Kementrian Pertahanan (Kemenhan) RI dimunculkan sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi bangsa hari ini. Tujuanya adalah untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Karenanya Haedar Nashir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengapresiasi gerakan bela negara Kemenhan tersebut.

Keprihatinan Kemenhan itu, disampaikan langsung oleh Jendral (Purn) Ryamizard Ryacudu Menteri Pertahanan RI saat berkunjung ke kediaman Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut di Yogyakarta, Ahad (05/03/17). Terutama, kata Menhan, prihatin dengan apa yang terjadi pada diri pribadi para elit bangsa dan jebabat negara yang seharusnya lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas ambisi diri dan kelompok.

Menanggapi hal itu, Haedar Nashir menyampaikan, memang ada peluruhan jiwa berbangsa dan bernegara di tubuh elite dan warga bangsa. Menurutnya, para pendiri bangsa menanamkan jiwa ketulusan, pengorbanan, dan kebersamaan. Bukan ambisi mengejar tahta dan harta, apalagi yang merugikan kehidupan bangsa dan negara. Dalam pertemuan tertutup itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah juga menyambut baik silaturahim Menham dan keprihatinanannya atas masalah bangsa.

Selain itu, pada pertemuan siang tersebut, Menham juga menindaklanjuti MoU dengan PP Muhammadiyah tentang program bela negara.

“Muhammadiyah sebagai kekuatan civil society yang mengakar kuat di masyarakat dan memiliki banyak institusi pendidikan dari dasar hingga perguruan tinggi diharapkan terus menanamkan semangat bela negara di kalangan warga bangsa,” ( Ryamizard )

Haedar pun mengatakan, Muhammadiyah memiliki banyak institusi pendidikan yang tepat untuk dijadikan sasaran program bela negara Kemenhan.

“Muhammadiyah berkomitmen menggelorakan kedaulatan dan keadilan yang didasari pada cinta Tanah Air sebagai bagian dari iman. Itu yang perlu kembali ditanamkan pada generasi muda,”( Haedar Nasir / Ketua Umum PP Muhammadiyah )

Ryamizard: Generasi Muda Calon Pemimpin Masa Depan Miliki Peran Strategis dalam Bela Negara

Universitas Pertahanan (Unhan) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Unhan mengelar seminar Nasional Bela Negara Call for Papers bertajuk “Bela Negara Benteng NKRI” di Gedung Auditorium Unhan, Kawasan IPSC, Sentul, Bogor. Dalam seminar tersebut, Menhan RI Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu menjadi keynote speech. Seminar ini mengundang para akademisi dari 29 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta. Seminar dibuka oleh Rektor Unhan Letjen TNI Dr Tri Legiosuko dan sekaligus membacakan keynote speech Menhan Ryamizard Ryacudu.

Menhan Ryamizard dalam keynote speechnya, mengatakan, generasi muda sebagai calon pemimpin dimasa depan memiliki peranan yang sangat strategis, peran paling strategis adalah membela negara, Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Menhan mengatakan, dinamika perkembangan geopolitik dan geostrategi saat ini berdampak pada kompetisi global dan tantangan baru yang semakin besar dan kompleks bagi pertahanan negara dengan adanya tantangan berupa ancaman baru yang bersifat dinamis dan multidimensional baik bersifat fisik atau nonfisik.

Dalam hal ini Menhan Ryamizard, mengkategorikan bentuk ancaman menjadi dua dimensi utama yaitu ancaman belum nyata yaitu ancaman perang terbuka atau konvensional antar Negara sementara ancaman nyata adalah ancaman yang sangat nyata yang sedang dan kemungkinan dialami oleh negara-negara kawasan, baik secara sendiri-sendiri, atau yang bersifat lintas negara diantaranya ancaman terorisme dan radikalisme, separatisme dan pemberontakan bersenjata, bencana alam dan lingkungan, pelanggaran wilayah perbatasan, perompakan dan pencurian sumber daya alam, wabah penyakit, perang cyber dan intelijen serta peredaran dan penyalahgunaan Narkoba.

Dalam seminar call of paper ini topik yang dikembangkan meliputi pengitegrasian karakter dan nilai-nilai Bela Negara masyarakat di wilayah perbatasan, membangun kesadaran bela Negara bagi generasi muda millennia, Negara masyarakat melalui kegiatan yang kompetitif dan produktif dalam menghadapi tantangan revolusi industry 4.0 dan penyiapan Bela Negara untuk menghadapi ancaman terorisme dan radikalisme.

 

Call of papers ini menampilkan beberapa produk tulisan terbaik untuk dipaparkan kepada peserta yang terdiri dari tiga sesi yang diselingi dengan tanya jawab peserta dan penyaji materi. Pada sesi pertama menghadirkan Isbandi Sutrisno dari UPN Yogya yang memaparkan tentang studi interaksi simbolik pemaknaan mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta terhadap nilai-nilai Bela Negara.

Tujuh Pesan Menhan ke Civitas Akademika Universitas Taruma Negara

Menteri Pertahanan memberikan pembekalan Bela Negara pada seminar menyambut mahasiswa baru dan Dosen Universitas Taruma Negara, yang mengangkat tema “Implementasi nilai-nilai Pancasila Dalam Kehidupan Kampus” Tahun Ajaran 2018/2019, di Jakarta, Rabu (8/8/18).

Menhan mengatakan, generasi pemimpin Indonesia kedepan haruslah pemimpin yang memiliki karakter dan berwawasan kebangsaan yang utuh, sementara itu Intelektualitas adalah faktor pelengkap serta pendukung dari totalitas Integritas seorang pemimpin bangsa. Dari hasil berbagai survei dan penelitian pembentukan kader pemimpin disimpulkan bahwa karakter atau integritas menempati porsi terbesar yaitu 80 persen sementara ilmu 5 persen, pengetahuan umum 5 persen dan kemampuan dalam pengambilan keputusan 10 persen.

 

Konsep ini, kata Ryamizard, sejalan dengan Visi dan Misi dari Universitas Taruma Negara yaitu menjadi “Universitas Entrepreneurial Unggul yang Memiliki Integritas dan Profesionalisme di Asia Tenggara”.

Menurutnya, integritas disini berarti karakter yang kuat dalam mengawaki faktor intelektualitas dan pemikiran setiap Insan manusia. Oleh karena itu, aspek pembentukan karakter dalam proses pendidikan di Universitas Taruma Negara ini harus terus menjadi prioritas, sehingga ke depan bangsa Indonesia ini akan menjadi bangsa yang besar jiwa dan karakternya bukan hanya dinilai dari aspek kecerdasanya saja dan jumlah penduduknya yang besar. Artinya perlu ada keseimbangan antara penggunaan otak kanan yang berlandaskan pada Intuisi dan perasaan dengan otak kiri yang berlandaskan pada pikiran, teori, dogma dan norma.

Selain itu, tambahnya, pembukaan UUD 1945 harus dijaga dan tidak boleh dirubah sedikitpun, karena Pembukaan UUD 1945 mengandung amanah dan nilai-nilai mulia khas bangsa Indonesia yang merupakan pondasi utama tetap utuh tegaknya NKRI kita tercinta.

Menhan Ryamizard mengungkapkan, dinamika modernisasi dan interaksi global juga telah berimplikasi terhadap munculnya tantangan keamanan nasional dengan mengemukanya isu-isu keamanan baru, yang berdimensi ancaman keamanan bersama lintas negara. Dalam beberapa tahun terakhir, intensitas ancaman keamanan tersebut telah menunjukkan intensitas peningkatan yang cukup tajam dan telah mengancam ketenangan dan kenyamanan hidup berbangsa dan bernegara.

“Jenis Ancaman Nyata yang saya maksudkan disini adalah ancaman terorisme dan radikalisme, separatisme dan pemberontakan bersenjata, bencana alam dan lingkungan, pelanggaran wilayah perbatasan, perompakan dan pencurian Sumber Daya Alam, wabah penyakit, perang siber dan intellijen serta peredaran dan penyalahgunaan narkoba,”  ( Ryamizard Ryacudu )

Saat ini, lanjut Ryamizard lagi, kita semua di kawasan dan di berbagai belahan di Dunia (Across the globe) sedang menghadapi potensi ancaman yang sangat-sangat Nyata yaitu bahaya ancaman terorisme dan radikalisme generasi ketiga paska Al-qaeda dan Paska DAESH yang telah dihancurkan di Timur Tengah (Irak dan Syria).

Dikatakan, sifat dasar ancaman terorisme generasi ketiga ini adalah berevolusinya ancaman dari yang bersifat tersentralisasi menjadi terdesentralisasi yang menyebar keseluruh belahan dunia setelah kekalahan ISIS di Timur Tengah yang kemudian menyebar ke wilayah Afrika, Eropa dan ASIA Timur serta Asia Tenggara pada khususnya.

Diungkapkan Menhan, ciri khusus lainnya dari ancaman terorisme generasi ketiga ini adalah kembalinya para pejuang ISIS (Foreign terrorist Fighter) dari Timur tengah. Berdasarkan data Intelijen Kementerian Pertahanan RI (Kemhan) ada sekitar 31.500 pejuang ISIS asing yang bergabung di Syria dan Irak. Dari jumlah tersebut 800 orang diantaranya berasal dari Asia Tenggara serta 400 orang dari Indonesia. Ancaman radikal dan terorisme generasi ketiga ini memiliki sifat-sifat alamiah yaitu berbentuk desentralisasi kedalam wilayah Propinsi-propinsi, berbentuk sel-sel tidur serta operasi berdiri sendiri (Lone Wolf) dan radikalisasi dengan online, media sosial dan penggunaan tehnologi canggih.

“Perlu kita pahami bersama bahwa ancaman terbesar terorisme bukan hanya terletak pada aspek serangan fisik yang merugikan, tetapi justru serangan propaganda ideologi yang secara masif dapat mempengaruhi pola pikir dan pandangan masyarakat. Serangan kepada pikiran dan jiwa itulah yang lebih berbahaya,”  ( Ryamizard Ryacudu )

Dikatakan lagi, pengaruh propaganda dan agitasi yang bernuansa kekerasan, permusuhan, penghasutan dan ajakan untuk bergabung dengan kelompok radikal ini telah banyak menyasar berbagai kalangan masyarakat dan profesi yang bertujuan untuk menghancurkan jiwa dan ideologi bangsa yang pada akhirnya akan bermuara pada kehancuran persatuan dan kesatuan nasional bangsa Indonesia.

Menhan Ryamizard, menyampaikan bahwa dalam era perkembangan modernisasi dan globalisasi ini, disamping ancaman-ancaman berbentuk fisik, kita juga menghadapi ancaman Non-Fisik yang relatif lebih besar terhadap ideologi negara Pancasila yang pada gilirannya dapat mengancam keutuhan dan ketahanan nasional Bangsa. Ancaman dan tantangan tersebut berupa serangan ideologis dengan kekuatan “soft power” yang berupaya untuk merusak “mindset” dan jati diri bangsa Indonesia .

“Idelogi asing yang saya identifikasi berpotensi mengancam keutuhan ideologi negara Pancasila disini adalah liberalisme, komunisme, sosialisme dan radikalisme. Serangan Ideologis inilah yang sering saya sebut dengan istilah perang modern yaitu suatu bentuk perang jenis baru dengan mempengaruhi hati dan pikiran rakyat yang ditujukan untuk membelokkan pemahaman terhadap ideologi negara,” ( Ryamizard Ryacudu )

Metode operasional perang ini dilakukan melalui Infiltrasi ke dalam dimensi intelijen, militer, pendidikan, ekonomi, ideologi, politik, sosbud atau kultur dan agama, bantuan-bantuan, kerja sama berbagai bidang dan media/informasi. Setelah infiltrasi berhasil, kata Menhan, dilanjutkan dengan mengeksploitasi dan melemahkan central of gravity kekuatan suatu negara melalui politik adu domba untuk timbulkan kekacauan/kekerasan, konflik horisontal (SARA), memunculkan keinginan untuk memisahkan diri atau separatisme dimulai dengan eskalasi pemberontakan pada akhirnya terjadi pertikaian antar anak bangsa/perang saudara.

“Tujuan akhir dari perang modern yang benuansa materialis ini adalah guna menguasai sumber-sumber perekonomian termasuk menguasai sistim tata kelola dan aturan hukum (rule of law) negara.Metode perang modern ini dinilai relatif murah-meriah, karena hanya dengan bermodalkan sarana media sosial dan kata-kata tertentu masyarakat sudah dapat terpengaruh untuk kemudian mengikuti paham yang disebarkan tersebut,” ( Ryamizard Ryacudu )

Ditambahkannya lagi, sejak reformasi bergulir, nilai-nilai Pancasila mulai luntur dan tidak lagi dijadikan sebagai landasan utama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Artinya, Pancasila tidak lagi dijadikan sebagai acuan dalam Berpikir, bersikap, dan bertingkah laku maupun dalam menentukan dan menyusun tata aturan hidup berbangsa dan bernegara. Akhirnya kita akan kehilangan jatidiri dan kepribadian bangsa, padahal sesungguhnya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila telah digali dari budaya bangsa Indonesia sendiri.

Jika Pancasila tidak dijadikan falsafah dalam berbangsa dan bernegara, bangsa ini akan kehilangan ruh dan jiwanya, sehingga masyarakat akan mudah disusupi oleh idiologi asing yang belum tentu sesuai dengan akar budaya bangsa Indonesia.

Beberapa negara didunia telah hancur karena idelogi dan simbol persatuannya telah dirusak oleh pengaruh Ideologi lain seperti misalnya Yugoslavia, Uni Soviet yang sekarang telah berubah menjadi Rusia serta beberapa negara di Timur Tengah dimana rakyatnya telah kehilangan rasa cinta kepada tanah airnya, sehingga harus mengungsi ke tempat lain yang juga belum tentu diterima. Setiap Negara memiliki konsep ideologinya masing-masing sebagai simbol pemersatu yang khas dan pas untuk negaranya sendiri, seperti komunisme untuk China dan Korea Utara, Liberalisme untuk Amerika, Monarchy atau kerajaan untuk Inggris dan Syariah Islam untuk Arab Saudi dan Beberapa Negara di Timur Tengah.

“Kita tidak ingin dikemudian hari Indonesia mengalami keruntuhan dan perpecahan yang sama yang pada akhirnya nama Indonesia hanya tinggal kenangan dan sejarah,”  ( Ryamizard Ryacudu )

Sementara itu, untuk Indonesia Tuhan Yang Maha Esa uga telah merahmati bangsa kita dengan suatu pusaka nasional yang menjadi landasan ideologis kesatuan dan persatuan Indonesia yaitu Pancasila sebagai landasan ideologis persatuan nasional Indonesia. Rahmatan Pancasila tersebut merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara yang digali dari warisan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang kemudian dijadikan falsafah sekaligus sebagai jati diri bangsa Indonesia.

Sebagai falsafah hidup atau pandangan hidup Bangsa, Pancasila mengandung nilai-nilai filosofis khas bangsa Indonesia yang mencerminkan hakikat, asal, tujuan, nilai, dan arti dunia seisinya, khususnya manusia dan kehidupannya, baik secara perorangan maupun sosial. Falsafah hidup bangsa mencerminkan konsepsi menyeluruh dengan menempatkan harkat dan martabat manusia sebagai sentral dalam kedudukannya yang fungsional terhadap segala sesuatu yang ada.

Ini berarti bahwa wawasan dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila secara kultural seyogyanya harus tertanam dalam hati sanubari, karakter dan kepribadian yang mewarnai kebiasaan, perilaku dan kegiatan setiap Bangsa Indonesia secara utuh.

Sebagai rahmatdari Tuhan, Pancasila juga telah terbukti sakti dan ampuh di dalam mengatasi setiap upaya yang dilakukan oleh kelompok radikal yang memiliki kepentingan tertentu untuk memecah belah persatuan dan kesatuan nasional termasuk diantaranya Pancasila ampuh didalam menumpas pemberontakan G 30 S/PKI dan Gerakan DI/TII.

Disamping itu, Pancasila juga merupakan anugrah yang tidak ternilai harganya untuk bangsa Indonesia karena Pancasila didapat dan digali melalui sebuah perjuangan yang panjang yang dimulai kesadarannya sejak kebangkitan nasional yang diprakarsai oleh Budi Utomo pada tahun 1908 yang selanjutnya dijadikan tonggak kesadaran pemuda Indonesia yang menyatakan sumpahnya kepada Tuhan melalui Sumpah Pemuda pada 28 Oktober Tahun 1928 yang pada akhirnya mengantarkan kita semua pada Kemerdakaan Negara Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang kemudian melahirkan dasar dan falsafah kehidupan Bernegara, yaitu Pancasila.

Menhan menjelaskan, seiring dengan perkembangan global yang menghadirkan hakikat ancaman yang beragam dan kompleks tersebut semakin disadari bahwa pertahanan negara tidak cukup didekati dari aspek militer semata, namun diperlukan adanya wawasan kebangsaan yang kuat dari seluruh rakyat Indonesia agar tidak mudah terpengaruh oleh provokasi Ideologi-ideologi asing tersebut.

Oleh Karena itu sebagai Menteri Pertahanan, dirinya telah mendesain suatu Strategi Pertahanan Negara yang mengedepankan Nilai-Nilai perjuangan yang lahir dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia yaitu perjuangan yang menerapkan konsep Perang Rakyat Semesta yang didukung oleh kekuatan TNI beserta Alutsistanya.

Strategi Pertahanan Khas Indonesia tersebut dibangun berlandaskan kekuatan Idealis Hati Nurani yang saya definisikan sebagai Strategy Pertahanan “Smart Power” yaitu Strategy Pertahanan yang bersifat Defensive aktif yang merupakan penggabungan antara kekuatan Soft Power keluar (Melalui Diplomasi Pertahanan Kawasan) dan Penyiapan kekuatan Hard Power kedalam dengan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta. Konsep Permesta ini lebih mengedepankan penguatan jiwa dan identitas bangsa sebagai kekuatan utama melalui penanaman nilai-nilai dan Semangat Kesadaran Bela Negara.

Dengan Kesadaran Bela Negara ini, kita akan memiliki kesadaran untuk mengamankan dan melestarikan jati diri, budaya dan kekayaan alam Indonesia tersebut sekaligus menjaga keutuhan dan persatuan nasional Indonesia.

Esensi dari kesadaran Bela Negara ini pada hakikatnya dimaksudkan untuk mewujudkan warga negara yang memiliki kesadaran sikap dan perilaku yang menjunjung tinggi pentingnya aktualisasi nilai-nilai luhur bela negara yaitu cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, setia pada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara, serta mempunyai kemampuan awal Bela Negara baik psikis maupun fisik.

Sehingga Melalui Bela Negara ini juga diharapkan akan dapat terbangun karakter disiplin, optimisme, kerja sama dan kepemimpinan guna turut menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Pada akhirnya, kekuatan jiwa bangsa Indonesia yang dibangun melalui Bela Negara ini akan menjadi suatu kekuatan maha dahsyat yang mendapat ridho dari Allah SWT karena didasari oleh kebanggaan dan kecintaan yang tulus dan mendalam dari Seluruh Komponen terhadap Bangsa dan Negara-nya.

Dari Aspek Hukum, keikutsertaan warga negara dalam Bela Negara telah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 yang isinya menyatakan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan Negara. Upaya bela negara inipun diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Pada intinya bela negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada negara kesatuan Negara RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Selain sebagai kewajiban dasar manusia, upaya Bela Negara ini juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara untuk mengabdi kepada negara dan bangsa. Membela negara juga sebagai wujud terima kasih warga negara kepada negaranya yang telah memberikan tempat hidup dan rasa aman. (di negara lain terjadi pengungsian seperti suriah karena negaranya tidak aman).

Sebelum mengakhiri pembekalan ini, Menhan Ryamizard menyampaikan tujuh pesan dalam rangka penguatan karakter dan jati diri para mahasiswa dalam mengemban amanah menimba ilmu di kampus ini.

Pertama, kelak, apabila kalian diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk memimpin, jadilah Pemimpin yang senantiasa menjadi solusi dari setiap permasalahan dan bukan sebaliknya. Pemimpin harus senantiasa mengedepankan Hati Nurani sebagai landasan tingkah laku dan perbuatannya. Karena Pemimpin yang memiliki hati Nurani yang bersih tidak akan mudah menyerah dan bahkan dia adalah pribadi yang berjiwa Besar, Arif dan Bijaksana serta senantiasa pandai merasa, bukan merasa Pandai, serta bermanfaat bagi dirinya, keluarga, terutama untuk lingkungan dan bangsanya.

Kedua, dalam berdemokrasi di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, musyawarah untuk mufakat yang merupakan cerminan dari nilai-nilai Pancasila, harus dikedepankan. Keterlibatan masyarakat dalam mekanisme musyawarah untuk mencapai mufakat sesungguhnya dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi terbentuknya kesadaran bela negara.

Ketiga, masa depan Indonesia ada dipundak kalian semua untuk itu senantiasa tingkatkan kompetensi dan kapasitas diri sebagai modal insani yang unggul dan kompetitif serta berwawasan kebangsaan dan memiliki kesadaran bela negara guna mewujudkan ciat cita bangsa.

Keempat, ilmu pengetahuan memang faktor penting menjadikan generasi bangsa yang cerdas.

Kelima, kecerdasan tersebut tidak akan berarti apa-apa, jika tidak diperkaya dengan karakter dan wawasan kebangsaan yang kuat.

Keenam, radikalisme bertentangan dengan agama, karena semua agama mengajarkan kasih sayang. Aksi Radikal mengatas namakan agama adalah musuh manusia karena tidak sesuai dengan ajaran agama apapun.

Ketujuh, jadikan nilai-nilai bela negara sebagai landasan sikap dan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pelopori dan perkokoh persatuan dan kesatuan diantara seluruh elemen bangsa, karena hanya melalui persatuan dan kesatuan kita dapat menyelesaikan setiap permasalahan.

Menhan: Gerakan ISIS Gunakan Topeng Agama Dalam Memperdaya Generasi Muda

Ryamizard Ryacudu, memberikan ceramah pada acara Konferensi Internasional Moderasi Islam, (Konferensi Ulama Internasional) di Islamic Center Mataram Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (28/07/18).

Menhan mengatakan, Indonesia dengan keanekaragaman budaya, agama, suku, bahasa yang dimilikinya telah mentasbihkan dirinya sebagai bangsa yang memiliki masyarakat multikultural. Keanekaragaman tersebut, menjadi sebuah rahmat tersendiri bagi Indonesia jika dapat dikelola dengan baik, bahkan menjadi keunikan dan kekuatan tersendiri.

Namun, kata Menhan, di saat bersamaan, realitas pluralitas itu juga dapat menjadi tantangan besar, jika tidak disikapi dengan bijak dan arif, bahkan juga dapat menjadi ancaman perpecahan dan perseteruan, yang dapat mengoyak keamanan sosial. Sebagaimana dalam kontekstasi keberagamaan di nusantara yang kerapkali terjadi gesekan antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, yang disebabkan oleh perbedaan paham keagamaan dan paradigma berpikir.

Dikatakan, Islam adalah agama yang lengkap-komprehensif yang inti dari ajaran agama kita telah terefleksi dalam rukun Islam dan rukun Iman. Rukun Islam dan rukun iman merupakan pilar penting dalam agama Islam yang harus dimiliki dan diamalkan sebagai seorang muslim.

“Kalau di ibaratkan kita akan membangun rumah, jika pondasinya kurang, maka otomatis ketika terjadi gempa maka akan rubuh, begitu pula bila kepribadian kita tidak diperkuat dengan rukun iman dan rukun islam, apabila terjadi goncangan atau cobaan hidup pastilah akan goyang,” ( Ryamizard Ryacudu )

Menurut Menhan, dinamika perkembangan lingkungan strategis baik global, regional maupun nasional dewasa ini, telah mengisyaratkan tantangan yang besar dan kompleks bagi pertahanan negara, khususnya dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah. Tantangan tersebut kemudian berevolusi menjadi ancaman strategis terhadap kedaulatan negara, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan keselamatan bangsa dan akan semakin berkembang ke sifat multidimensional, fisik dan non fisik, yang berasal dari luar dan dari dalam negeri.

Menurut Menhan lagi, fenomena potensi ancaman terhadap NKRI terbagi menjadi dua ancaman utama, yang pertama adalah ancaman belum nyata, yaitu ancaman perang terbuka antar negara. Dimana ancaman belum nyata ini dapat berevolusi menjadi ancaman yang nyata ketika kepentingan dan kehormatan Negara kita terusik.

Dimensi ancaman kedua, yaitu ancaman-ancaman yang menjadi prioritas untuk ditangkal yaitu ancaman yang sangat nyata yang sedang dan kemungkinan dapat dialami oleh negara-negara kawasan baik secara sendiri-sendiri atau yang bersifat lintas negara.

Ancaman tersebut, lanjutnya lagi, diantaranya adalah ancaman terorisme dan radikalisme, separatisme dan pemberontakan bersenjata, bencana alam dan lingkungan, pelanggaran wilayah perbatasan, perompakan dan pencurian Sumber Daya Alam, wabah penyakit, perang siber dan Intellijen serta peredaran dan penyalahgunaan narkoba.

Selanjutnya, dalam era perkembangan modernisasi dan globalisasi ini, disamping ancaman-ancaman berbentuk fisik seperti ancaman terorisme, kita juga menghadapi ancaman non-fisik yang relatif lebih besar dari ancaman fisik, khususnya ancaman terhadap ideologi negara Pancasila yang pada gilirannya dapat mengancam keutuhan dan ketahanan Nasional Bangsa.

“Ancaman serangan ideologis non fisik inilah yang sering saya sebut dengan istilah perang modern atau istilah saat ini Proxy war yaitu suatu bentuk perang jenis baru tanpa perlu berhadapan secara fisik melalui upaya sistemik guna melemahkan dan menghancurkan benteng ideologi suatu bangsa,”  ( Ryamizard Ryacudu )

Menurut Menhan, setiap negara memiliki ideologi yang cocok di negaranya masing masing seperti komunis di Rusia, faham liberal di Amerika dan ideologi syariah di Saudi Arabia. Namun, kata Ryamizard, untuk Indonesia, ideology yang paling Ideal adalah Pancasila. Sistem pertahanan khas Indonesia yang paling efektif untuk menangkal semua potensi ancaman terhadap kepentingan negara adalah dengan Konsep Pertahanan Rakyat Semesta.

Oleh karena itu, pembangunan sistem pertahanan Negara RI telah diarahkan dengan mengedepankan perpaduan antara pengembangan kekuatan non-fisik atau jiwa bangsa Indonesia melalui kesadaran Bela Negara yang didukung oleh kekuatan TNI beserta Alutsistanya. Menhan melanjutkan, banyak orang mengira bahwa konsep Bela Negara bertentangan dengan Islam yang mengharuskan berukhuwah antar sesama muslim tanpa ada sekat, Bela Negara merupakan salah satu perwujudan berukhuwah dalam Islam, yakni ukhuwah wathoniyah yang berarti mencintai dan bersaudara dengan yang sebangsa dan setanah air. Islam juga sangat mendukung faham kebangsaan, dalam bahasa arab dikenal dengan kata Al-Qaumiyah.

Kebangsaan yang kita fahami adalah ciri-ciri yang menandai golongan bangsa, terambil dari kata bangsa yang berarti kesatuan dari orang-orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri.

Saat ini, lanjutnya lagi, salah satu ancaman yang sangat nyata terhadap Islam dan merupakan salah satu bentuk penistaan terhadap agama, negara dan bangsa Indonesia, yang sangat berpengaruh terhadap keutuhan dan kesatuan bangsa adalah terorisme. Terorisme tidak hanya menimbulkan kerugian material dan nyawa serta menciptakan rasa takut dimasyarakat, tetapi terorisme juga telah mengoyak keutuhan berbangsa dan bernegara.

Menhan menjelaskan, terorisme telah membuat kita saling curiga dan saling memusuhi. Terorisme pun telah merusak ikatan persaudaraan dan nilai-nilai toleransi yang sejatinya menjadi kultur budaya bangsa ini. Aksi brutal mereka telah merusak tatanan kehidupan dunia dan benar-benar keluar dari ajaran Islam yang memiliki misi di bumi ini sebagai rahmat bagi semuanya, bukan ancaman dan kekerasan kepada manusia.

Menhan Ryamizard, menyampaikan, kelompok ISIS juga telah menjadi kekuatan terorisme global baru yang lebih menakutkan dari jaringan Al-Qaeda. Selain aksi-aksi brutalnya, ISIS juga sangat berbahaya karena kemampuannya dalam menjaring para pejuang asing (foreign terrorist fighter) dari berbagai negara, tidak terkecuali dari Indonesia. ISIS yang pada mulanya hanyalah kekuatan milisi nasional di Irak yang muncul akibat konflik politik di dalam negeri pasca pemerintahan Saddam Hussien, kini menjelma menjadi kekuatan transnasional yang menakutkan beberapa negara.

Menhan mengungkapkan, gerakan politik lokal ISIS ini nyata menggunakan topeng agama, dalam rangka menarik simpati dan dukungan secara global. Sehingga sangat disayangkan sudah banyak kalangan generasi muda yang sudah terpedaya rayuan ISIS, baik karena motivasi keagamaan, ekonomi, pencarian identitas maupun motivasi lainnya.Selain aksi kekerasan yang selalu dipertontonkan secara vulgar ke depan publik, hal lain yang patut diwaspadai dari gerakan ISIS ini adalah pengaruhnya yang dapat menginspirasi orang yang memiliki pemahaman agama dangkal yang kemudian melakukan kekerasan dan aksi teror di mana-mana.

 Sudah banyak berita didengar dari berbagai negara bagaimana anak muda dari pelajar hingga mahasiswa yang memilih meninggalkan negaranya untuk bergabung dengan ISIS. Karena kalangan generasi muda merupakan sasaran dan target propaganda dan rekruitmen ISIS.

“Serangan ideologis terorisme sangat berbahaya. Pengaruh propaganda dan agitasi yang bernuansa kekerasan, permusuhan, penghasutan dan ajakan untuk bergabung dengan kelompok teroris, telah banyak menyasar berbagai kalangan masyarakat dan profesi yang bertujuan untuk menghancurkan jiwa dan ideologi bangsa yang bermuara pada kehancuran persatuan dan kesatuan nasional bangsa Indonesia,” ( Ryamizard Ryacudu )

( BERSAMBUNG ) 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link