Ricky Ham Pagawak ( Tajuk Pemikiran ) ” MEMIMPIN DENGAN KASIH dan HATI  “

Ricky Ham Pagawak ( Tajuk Pemikiran ) ” MEMIMPIN DENGAN KASIH dan HATI “

” MEMIMPIN DENGAN KASIH dan HATI “

                      Oleh : Ricky Ham Pagawak, S.H., M.Si

Saya melihat dan merasakan, pada abad 21 ini, gaya kepemimpinan dengan kasih dan hati merupakan suatu gaya kepemimpinan yang cocok dan dapat diterima oleh semua kalangan masyarakat, baik di Papua, Indonesia maupun diseluruh dunia. Sebenarnya gaya kepemimpinan dengan kasih dan hati ini, tidak terdapat secara tersurat didalam teori ilmu kepemimpinan, tetapi secara tersirat ada terdapat.

Adakala Tuhan Yang Maha Kuasa ikut membimbing seseorang pemimpin kepada suatu moment-moment penting yang sebelumnya memang tidak terfikirkan. Wujud dari Bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa ini, bisa berupa bisikan ( instink ) bisa juga melalui seseorang yang ” diutus ” kepada seorang pemimpin. Seseorang ini akan membantu berbagai pekerjaan yang memang diperlukan pada saat itu.

Pengertian Kepemimpinan Secara harfiah kepemimpinan atau leadership berarti adalah sifat, kapasitas dan kemampuan seseorang dalam memimpin. Arti dari kepemimpinan sendiri sangat luas dan bervariasi berdasarkan para ilmuwan yang menjelaskannya. Menurut Charteris-Black (2007), definisi dari kepemimpinan adalah “leadership is process whereby an individual influence a group of individuals to achieve a common goal”. Kepemimpinan adalah sifat dan nilai yang dimiliki oleh seorang leader.

 

Gaya kepemimpinan menurut para ahli bukanlah sifat bawaan, melainkan sebuah keterampilan yang bisa dilatih. Namun menurut Kartini Kartono, gaya kepemimpinan merupakan sifat, kebiasaan, kepribadian yang dimiliki oleh pemimpin yang membedakannya dengan yang lain. Jadi faktor tersebut merupakan pembeda. Watak yang dibawa semenjak lahir dapat menjadi poin positif atau sebaliknya malah merugikan karena membuat karyawan menjadi kurang nyaman. Secara umum ada dikenal 7 jenis gaya kepemimpinan sebagai berikut :

1. Gaya Kepemimpinan Otokratis

Pemimpin tipe ini sangat mendominasi di dalam mengambil keputusan, kebijakan, dan aturan. Kepemimpinan jenis ini hanya berfokus pada gagasan dan idenya sendiri. Ia membatasi usulan dan gagasan dari bawahannya. Pemimpin yang otoriter tidak akan memperhatikan kebutuhan dari bawahannya dan membuat komunikasi satu arah dengan bawahannya, sehingga tak akan ada diskusi dan semacamnya. Jenis kepemimpinan ini biasa kita jumpai di akamdemi kepolisian atau suatu negara dengan sistem kerajaan.

2. Gaya Kepemimpinan Birokrasi

Gaya kepemimpinan ini biasa diterapkan dalam sebuah perusaahaan dan akan berjalan bila setiap karyawan benar benar menjalankan sistem yang sudah di buat. Namun tetap saja dengan kepemimpinan dalam organiasi ini tidak memberikan ruang kepada bawahan karena semua sudah di atur sedemikian rupa.

3. Gaya Kepemimpinan Partisipatif

Dalam gaya kepemimpinan partisipatif, ide dapat mengalir dari bawah (anggota) karena solusi dari suatu pemecahan masalah di ambil secara bergantian. Artinya semua orang berhak memberi usul. Pemimpin jenis ini memberikan kesempatan bagi para bawahan untuk dapat berpartisipasi dalam pembuatan suatu keputusan dan gaya kepemimpinan ini erat sekali dengan nilai kekeluargaannya.

4. Kepemimpinan Delegatif

Gaya kepemimpinan dalam organisasi ini biasa disebut Laissez-faire dimana pemimpin memberikan kebebasan secara mutlak untuk melakukan sesuatu keputusan. Jenis kepemimpinan ini akan sangat merugikan mengingat selalu akan ada anggota yang masih belum cukup matang dalam mengambil keputusan.  Bisa bisa sebuah Lembaga atau kelompok hancur.

5. Kepemimpinan Transformasional

Gaya kepemimpinan transformasional dapat memberikan nilai positif. Para pemimpin jenis ini biasanya terlibat langsung termasuk dalam hal membantu bawahannya yang mengalami kesulitan dalam hal pekerjaan. Pemimpin ini juga biasanya selalu memberikan aura positif dan semangat ke bawahannya untuk maju kedepan dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

6. Kepemimpinan Karismatik

Tipe Pemimpin yang karismatik memiliki pengaruh yang kuat lantaran citranya yang karismatik dan disenangi bawahannya. Para pengikut cenderung mengikuti pemimpin karismatik karena mereka merasa kagum dengan apa yang sudah pemimpin itu capai dan berusaha untuk seperti itu. Karisma tersebut muncul dari pesona yang dia bangun sejak awal, sehingga hal itu sangat berpegaruh terhadap apapun kebijakan yang dia buat.

7. Kepemimpinan Situasional

Tipe pemimpin ini di katakan sebagai jenis pemimpin situsional sebab dia selalu melihat perkembangan sejauh mana tugas yang sudah di kerjakan bawahannya. Gaya kepemimpinan ini mencoba mengkombinasikan proses kepemimpinan dengan situasi dan kondisi yang ada saat itu.

Ada 3 orang tokoh pemimpin dunia yang menjadi panutan saya dalam bekerja dan memimpin daerah Kabupaten Merauke, di Propinsi Papua, yaitu Dwight David Eisenhower, Alexander Agung serta Ir. H. Joko Widodo. Banyak hal yang pelajari dari para pemimpin hebat tersebut, dan menginspirasi saya dalam bekerja sebagai seorang Kepala Daerah.

Dwight David Eisenhower, dia merupakan Presiden Amerika Serikat ke-34 yang pernah menjadi komandan tertinggi pasukan Sekutu di Eropa Barat selama perang Dunia II. Selama memimpin negara adidaya itu, Dwight menyerukan kebijakan moderat yang membuat AS menjadi negara terkuat, paling berpengaruh, dan paling produktif di dunia.  Meraih kursi orang nomor satu sebelum ditempati oleh John F Kennedy, bagaimana sepak terjang Dwight dalam bidang pertahanan dan politik?

“KEPEMIMPINAN ADALAH SUATU KEMAMPUAN UNTUK MEMUTUSKAN APA YANG PERLU UNTUK DILAKUKAN, DAN KEMUDIAN MEMBUAT ORANG LAIN MELAKUKANNYA”

(Dwight D. Eisenhower)

Awal kehidupan

Dwight lahir pada 14 Oktober 1890 di Texas, anak ketiga dari 7 bersaudara. Ketika dia berusia 1,5 tahun, keluarganya kembali ke Kansas, sehingga ayah Dwight bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Dia mempunyai panggilan khusus di rumahnya yaitu “Ike”. Ketika berusia empat tahun, dia kehilangan adiknya yang berusia 10 bulan, meninggal akibat difteri. Lulus dari sekolah menengah atas pada 1909, Dwight bergabung dengan ayah dan pamannya bekerja di pabrik mentega. Tak hanya itu, dia juga memiliki pekerjaan sebagai petugas pemadam kebakaran. Selama setahun, dia bekerja untuk membantu biaya pendidikan adiknya di universitas. Pada 1911, Dwight masuk ke akademi militer AS di West Point, New York secara gratis. Pada 1915, dia lulus dan ditugaskan sebagai letnan kedua. Dia dikirim ke San Antonio, Texas, dan bertemu dengan Mamie Geneva Doud, seorang putri dari pengusaha pengepak daging yang sukses. Kemudian, dia memutuskan untuk menikahi Mamie pada 1916, dan dikaruniai dua orang anak.

Perang Dunia I dan II

Baca Juga :  Ricky Ham Pagawak : " YUK KITA LIHAT PABRIK PENGOLAHAN NENAS DI LAMPUNG "

Pada 1917, Mamie melahirkan putra pertamanya, Doud. Pada tahun yang sama Perang Dunia I mengguncang dunia. Dwight ditugaskan memerintah pusat pelatihan tank dan dipromosikan menjadi kapten. Atas kinerjanya yang memukau, dia menerima penghargaan Distiguished Service Medal, sebuah penghargaan militer tertinggi kedua di AS. Karier militer Dwight terus mengalami kemajuan. Pada 1920, dia kembali mendapatkan promosi sebagai mayor. Nasib malang menimpanya, ketika dia harus menghadapi kenyataan pahit atas meninggalnya Doud yang baru berusia tiga tahun karena demam berdarah. Mamie melahirkan anak keduanya, John, pada 1922. Tahun itu pula, Dwight diterjunkan ke Zona Terusan Panama. Pada 1926, dia lulus dari pendidikan komando dan staf angkatan darat di Fort Leavenworth, Kansas. Dua tahun kemudian, Dwight lulus dari Army War College dan ditugaskan di Perancis.

Dwight diangkat sebagai kepala pembantu militer di bawah kepemimpinan Jenderal Douglas MacArthur. Sempat ditempatkan ke Filipina, Dwight kembali ke AS dan dipromosikan sebagai brigadir jenderal. Memasuki fase Perang Dunia II, Dwight terpilih menjadi komandan pasukan AS di Eropa, mengalahkan 366 perwira senior lainnya. Juli 1942, dia menjadi panglima tertinggi Angkatan Bersenjata dan memimpin Operasi Obor, invasi Sekutu ke Afrika Utara pada 8 November 1942, dan berhasil menyelesaikannya pada Mei 1943. 6 Juni 1944, Dwight memimpin pasukan Sekutu dalam invansi Normandia, dan mendapat pangkat bintang lima. Setelah Jerman menyerah pada 1945, dia kembali kerumahnya dan menerima sambutan sebagai pahlawan. Pada usia 58 tahun, dia terpilih sebagai rektor Universitas Columbia hingga Desember 1950, karena dia menerima penunjukkan sebagai Komandan Tertinggi Sekutu dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara ( NATO). Dari situlah, dia mendapat tawaran dari Partai Republik untuk mencalonkan diri sebagai presiden Amerika Serikat.

Presiden AS

Pada konvensi nasional Partai Republik, dia memenangkan nominasi sebagai capres. Dengan menggunakan slogan “I Like Ike”, bersama senator Richard M Nixon, dia berhasil mengalahkan Adelai Stevenson dan menjadi Presiden AS ke-34 pada 4 November 1952. Sebagai catatan, Ike atau Dwight  kembali menjadi presiden empat tahun kemudian setelah mengalahkan Adelai lagi. Langkah pertamanya sebagai presiden dengan menekankan anggaran yang seimbang. Dia juga menandatangani undang-undang hak sipil pada 1957 dan 1960 untuk memberikan perlindungan kepada pemilih kulit hitam.

“Tidak boleh ada warga kelas dua di negara ini,” (Dwight D. Eisenhower)

Jadi, pada tahun 1957 sampai dengan tahun 1960. di Amerika Serikat, sudah tidak mengenal lagi perbedaan Suku, Ras, Agama, maupun Bangsa. Dwight Eisenhower sangat menyadari bahwa untuk membangun Amerika diperlukan peran serta semua warga negaranya tanpa melihat RAS dan tanpa ada rasa kekuatiran bahwa bangsa kulit putih akan tersisihkan oleh bangsa kulit hitam.

Kebijakan luar negeri

Dalam kebijakan luar negeri, Dwight mengakhiri Perang Korea dengan menandatangani gencatan senjata. Atas persetujuannya, Badan Pusat Intelijen (CIA) meluncurkan operasi rahasia melawan komunisme di seluruh dunia. Operasi itu termasuk menggulingkan pemerintahan Iran pada 1953 dan Guatemala pada 1954. Dia juga berusaha untuk meningkatkan hubungan dengan Uni Soviet pada era Perang Dingin. Di bawah ancaman meningkatnya teknologi senjata nuklir Soviet, Dwight dan Menteri Luar Negeri John Foster Dulles berhasil memperkuat NATO dan menciptakan Organisasi Perjanjian Asia Tenggara (SEATO) untuk memerangi ekspansi komunis di wilayah itu.

Akhir jabatan dan kematian

Sebelum meninggalkan jabatannya pada Januari 1961, dia mendesak perlunya mempertahankan kekuatan militer yang memadai. Namun, dia memperingatkan, belanja militer yang besar dan berlangsung lama justru akan menimbulkan potensi bahaya. Selain itu, Dwight juga memutuskan hubungan diplomatik dengan Kuba, yang saat itu di bawah kendali Fidel Castro selama dua tahun. Ketika pensiun, dia memilih kembali ke pertaniannya di Gettysburg, Pennsylvania. Dwight meninggal pada 28 Maret 1969, di RS Angkatan Darat Walter Reed di Washington DC, setelah lama menderita penyakit jantung. Kendati kebijakannya penuh dengan kritik, namun dia tetap menjadi bagian dari pemimpin AS yang populer.

ALEXANDER AGUNG

Jika kita berbicara siapa raja paling hebat dalam sejarah, maka nama Alexander Agung adalah satu diantaranya. Ia adalah seorang raja dari Makedonia pada masa Yunani kuno yang hidup pada tahun 362-323 SM. Sepanjang kepemimpinannya yang kurang dari 15 tahun, ia berhasil menaklukan emperium besar seperti Yunani dan Persia. Wilayah penaklukannya pun melintang luas sepanjang wilayah Persia, Asia kecil, Eropa hingga Mesir. Tak hanya seorang raja yang karismatik, ia pun dikenal berkat kemampuan militernya yang sangat luar biasa. Berikut ini adalah fakta menarik lainnya dari kehidupan Alexander Agung.

1. Tidak hanya diajarkan ilmu pengetahuan oleh Aristoteles, Alexander pun belajar lewat filsuf populer lainnya

Ayah Alexander, Philip II dari Makedonia menyewa Aristoteles, salah satu filsuf terbesar sejarah, untuk mendidik pangeran berusia 13 tahun. Alexander sendiri belajar langsung selama tiga tahun bersama sang filsuf dengan berbagai jenis ilmu, termasuk filsafat yang membentuk sang pangeran menjadi sosok bijak. Namun gurunya yang hebat bukan Aristoteles saja, ketika masih menjadi pangeran di Yunani, Alexander mencari pertapa terkenal Diogenes the Cynic, yang menolak kebaikan sosial dan tidur di toples tanah liat besar. Alexander pun mendekati si pemikir di sebuah plaza publik, bertanya pada Diogenes tentang berbagai hal. Bertahun-tahun kemudian, di India, Alexander menghentikan penaklukan militernya untuk melakukan diskusi panjang dengan para filsuf telanjang dari agama Hindu atau Jain yang menghindari kesombongan manusia dan pakaian.

2. Tak pernah kalah dalam perang sepanjang 15 tahun penaklukannya

Taktik dan strategi militer Alexander the Great masih dipelajari di akademi militer hingga hari ini. Dari kemenangan pertamanya pada usia 18, Alexander memperoleh reputasi memimpin pasukannya untuk berperang dengan kecepatan yang mengesankan, memungkinkan pasukannya yang lebih kecil untuk mencapai dan menghancurkan garis musuh sebelum musuh-musuhnya siap. Setelah mengamankan kerajaannya di Yunani, pada tahun 334 SM. Alexander menyeberang ke Asia (sekarang Turki) di mana ia memenangkan serangkaian pertempuran dengan Persia di bawah pimpinan Darius III. Inti dari kekuatan tempur Alexander adalah phalanx Makedonia yang berkekuatan 15.000 orang, yang unit-unitnya menahan orang-orang Persia yang memegang pedang dengan tombak sepanjang 20 kaki yang disebut sarissa. Sepanjang peperangannya dalam aksi penaklukan wilayah lain,  Alexander belum pernah mengalami satu kali pun kekalahan selama 15 tahun.

3. Dia menamai lebih dari 70 kota dengan namanya

Alexander sering memperingati penaklukannya dengan mendirikan puluhan kota (biasanya dibangun di sekitar benteng militer sebelumnya), yang ia beri nama Alexandria. Yang paling terkenal di antaranya, didirikan di muara Sungai Nil pada 331 SM, sekarang adalah kota terbesar kedua di Mesir. Nama Aleksandria lainnya terletak di beberapa negara yang sempat ditaklukan seperti Turki, Iran, Afghanistan, Tajikistan, dan Pakistan saat ini. Namun, di dekat lokasi pertempuran sungai Hydaspes — kemenangan termahal saat penaklukan — Alexander mendirikan kota Bucephala, yang dinamai berdasarkan nama kuda favoritnya, yang terluka parah dalam pertempuran itu.

4. Jatuh cinta pada pandangan pertama dengan istrinya

Setelah penaklukan Sogdian Rock yang terkenal di tahun 327 SM , benteng gunung yang tampaknya sulit tertembus, Alexander yang berusia 28 tahun sedang mengamati para tawanannya ketika Roxanne, putri remaja seorang bangsawan Baktria, menarik perhatiannya. Segera setelah itu, Alexander pun menikahi sang gadis. Dalam upacara pernikahan tradisional, raja memotong sepotong roti menjadi dua dengan pedangnya dan membaginya dengan pengantin baru. Beberapa bulan setelah kematian Alexander, Roxanne melahirkan putra tunggal pasangan itu, Alexander IV.

5. Keharuman badannya pun sangat terkenal

Karya tulis yang berjudul “Kehidupan Orang-orang Yunani dan Romawi yang Mulia”, karya Plutarch, ditulis 400 tahun setelah kematian Alexander, melaporkan bahwa bau yang paling menyenangkan dikeluarkan dari kulit Alexander, bahkan napas dan seluruh tubuhnya begitu harum sehingga mengharumkan pakaian yang ia kenakan. Detail penciuman adalah bagian dari tradisi saat itu, dimulai selama masa hidup Alexander, dari pemberian atribut seperti dewa kepada raja penakluk. Alexander sendiri secara terbuka menyebut dirinya Son of Zeus selama kunjungan ke Siwah pada tahun 331 SM.

6. Setelah menaklukan Persia, Alexander berdandan seperti mereka

Setelah enam tahun serbuan yang semakin dalam terhadap kerajaan Persia, pada 330 M. Alexander menaklukkan Persepolis, pusat budaya lama Persia. Menyadari bahwa cara terbaik untuk mempertahankan kendali atas orang Persia adalah dengan bertindak dengan budayanya, Alexander mulai mengenakan tunik bergaris, ikat pinggang, dan mahkota gaun kerajaan Persia.  Pada 324 ia mengadakan pernikahan massal di kota Susa di Persia, di mana ia memaksa 92 pemimpin Makedonia untuk mengambil istri-istri Persia (Alexander sendiri menikahi dua diantaranya, Stateira dan Parysatis).

7. Kematiannya masih menjadi misteri terbesar hingga saat ini

Pada tahun 323 SM. Alexander Agung jatuh sakit setelah menenggak semangkuk anggur di sebuah pesta. Dua minggu kemudian, penguasa berusia 32 tahun itu meninggal. Mengingat bahwa ayah Alexander telah dibunuh oleh pengawalnya sendiri, kecurigaan jatuh pada orang-orang di sekitar Alexander, terutama jendralnya Antipater dan putra Antipater, Cassander (yang akhirnya akan memerintahkan pembunuhan terhadap janda dan putra Alexander).

Beberapa penulis biografi kuno bahkan berspekulasi bahwa Aristoteles, yang memiliki hubungan dengan keluarga Antipater, mungkin terlibat. Di zaman modern, para ahli medis berspekulasi bahwa malaria, infeksi paru-paru, gagal hati atau demam tifoid yang mungkin telah menyebabkan Alexander meninggal dunia.

Konon…setelah memenangkan sebuah peperangan, Raja Alexander Agung beserta para panglima dan ribuan prajuritnya untuk kembali ke kerajaannya harus melewati gurun pasir yang luas. Udara panas dan kering telah mematikan beberapa orang prajuritnya yang tidak dapat bertahan dalam cuaca yang sangat ekstrim di gurun tersebut. Persediaan air minum pun makin menipis, dan akhirnya sampai kehabisan. Dalam kondisi itu, para panglima berhasil mengumpulkan air dari tetesan wadah air hingga menjadi 1 botol, lalu diserahkan kepada Sang Raja agar tidak mati kehausan.

Sang Raja membuang air itu ke tanah sambil berkata, “Air ini tidak cukup untuk kita minum bersama, mari kita lanjutkan perjalanan kembali ke kerajaan dan rayakan kemenangan ini.” Inilah yang dimaksud ‘Memimpin Dengan Hati’…dan karena itulah para panglima dan prajuritnya mau berjuang dan berperang, bahkan rela mati demi Sang Raja!

BAGAIMANA KRITERIA SESEORANG PEMIMPIN DALAM BEKERJA ?

Di kehidupan sekarang ini, ada banyak pemimpin yang hanya minta dilayani. Pemimpin yang membodohi, membohongi, dan memanfaatkan anak buahnya. Jangankan memimpin orang lain, memimpin diri sendiri saja mereka tidak mampu. Dan tentu mereka gagal menjadi seorang pemimpin. Pemimpin artinya bukan hanya sekedar menyandang sebuah jabatan. Lebih dari itu adalah menjalankan fungsi, tugas, dan tanggung jawab serta kewajiban yang melekat pada jabatannya itu dengan baik dan benar. Menjadi seorang pemimpin adalah panggilan jiwa untuk mau melayani dan sekaligus mampu mendorong orang lain untuk maju, tumbuh, dan berkembang.

 

Baca Juga :  Ricky Ham Pagawak : " YUK KITA LIHAT PABRIK PENGOLAHAN NENAS DI LAMPUNG "

Tidak mudah menjadi pemimpin yang dicintai oleh rakyat. Tidak gampang memelihara kepercayaan yang diberikan rakyat. Dan tidak sesederhana yang kita bayangkan bagaimana memelihara simpati yang diberikan rakyat. Ketiga “rasa” diatas : cinta, percaya dan simpati, mesti nya tetap melekat dalam jati diri seorang pemimpin, agar kharisma kepemimpinan nya tidak memudar. Itu sebab nya, selain dilandasi oleh kekuatan akal sehat, seseorang yang telah memperoleh mandat rakyat juga dituntut untuk dapat mengoptimalkan kekuatan nurani nya.

Beberapa pihak, malah menyebutkan : “memimpin dengan kasih dan hati”, boleh jadi bakal lebih mengena dalam dinamika masyarakat yang sedang terjebak dalam budaya bangsa yang makin hedonis.

      Menggunakan filosofi “guru”, hanya sosok yang pantas untuk “digugu” dan “ditiru” saja, yang layak dikatakan pemimpin. Dalam makna diatas, seorang pemimpin adalah sosok yang mampu mengharmonikan hakekat tanggungjawab dan kehormatan ke dalam sebuah perilaku yang paripurna. Sikap, tindakan dan wawasan seorang pemimpin, tentu akan selalu disesuaikan dengan suasana kehidupan yang tengah dirasakan oleh masyarakat kebanyakan. Itulah perilaku yang selayak nya dikembang-biakan oleh para pemimpin di negeri ini. Pemimpin selalu sadar siapa diri nya dan dari mana diri nya berangkat.

Dalam mengarungi kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, seorang pemimpin mesti nya mampu mengharmonikan iman, akal dan rasa ke dalam kesatuan gerak dan langkah dalam mengejawantahkan kepemimpinan nya. Pertanyaan nya adalah apakah para pemimpin yang kini tengah menduduki singgasana kekuasaan, sudah melaksanakan dan menerapkan prinsip diatas dalam menjalankan kepemimpinan nya ? Atau kah tidak, dimana sekarang ini lebih banyak pemimpin yang terjebak dalam arogansi kekuasaan ?

     Kalau kita boleh jujur, mencari sosok pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan rakyat secara “kekeluargaan”, kelihatan nya semakin sukar ditemukan. Para pemimpin lebih mengedepankan sikap “penguasa” nya ketimbang sebagai “pengayom” rakyat. Hubungan yang terbangun, lebih mempertontonkan pola formal dari pada yang non formal. Akibat nya wajar, jika “suasana kebatinan” antara pemimpin dengan rakyat nya menjadi semakin sulit terwujud. Masing-masing terlihat asyik dengan dunia nya. Masing-masing tidak tampak kepedulian nya. Dan yang lebih parah lagi, ternyata diantara ke dua nya pun terekam ada sekat yang memisahkan.

     Sebaik-baik nya pemimpin bangsa, adalah orang yang selalu dekat dengan rakyat nya. Pemimpin tidak pernah memiliki niat untuk membuat jarak dengan rakyatnya. Pemimpin tidak akan pernah mau mengkhianati apa-apa yang menjadi aspirasi rakyatnya. Itu sebab nya, seorang pemimpin pasti akan selalu membangun “suasana kebatinan” yang kental dengan rakyat nya. Apa yang dilakukan Pak Harto ketika Pemerintahan Orde Baru manggung, ada baik nya dijadikan bahan pembelajaran kita bersama. Lewat pola “Kelompencapir”, dapat kita saksikan bentuk kedekatan antara pemimpin dengan rakyat nya.

      Kondisi seperti itu, kini menjadi sebuah barang langka. Sekarang ini, para pemimpin seolah-olah telah menjebakan diri pada pola hubungan yang lebih formal. Situasi ‘kekeluargaan’, tergerus oleh sikap arogan para penguasa. Jarang sekali ada pemimpin yang mau ngobrol dengan rakyat secara santai. Demokrasi panggung menyebabkan ada pembatas antara penguasa dengan rakyat. Semua diukur oleh efektif dan efesien. Sedangkan ukuran kemaslahatan lebih dinomor-duakan. Kita sebagai bangsa, makin kekurangan pemimpin yang mau memimpin dengan hati nya. Para pemimpin lebih senang mendahulukan nalar ketimbang hati.

 

Baca Juga :  Ricky Ham Pagawak : " YUK KITA LIHAT PABRIK PENGOLAHAN NENAS DI LAMPUNG "

Banyak sekali teori tentang kepemimpinan, mulai dari yang tradisional sampai yang modern. Apapun itu, jika Anda pemimpin, buatlah tim yang Anda pimpin bisa berjalan seperti sistem dalam keluarga. Memimpinlah Dengan Kasih dan Hati ( Ricky Ham Pagawak, S.H., M.Si )

Karena sudah memiliki kedekatan sedemikian rupa, ketika mereka bekerja, mereka tahu apa alasan kuat dari setiap hal yang mereka kerjakan itu. Ketika terjadi hambatan pun, bantulah sebagaimana anggota keluarga yang saling membantu tanpa pamrih. Inilah 5 cara memimpin dengan hati yang mudah disukai oleh tim Anda.

1.Mendasari Kepemimpinannya dengan Rasa Mencintai

Setiap pemimpin sudah semestinya mendasari kepemimpinannya dengan rasa mencintai sesamanya. Kewajibannya adalah melayani orang-orang yang dipimpinnya. Selama memimpin pun harus disertai rasa ikhlas. Keikhlasan hatinya membuat ia lebih kuat menghadapi segala ujian.

Ikhlas membuat orang tidak mengharapkan pujian, menerima kritik dan saran, dan tidak pernah dendam dengan orang yang menunjukkan kesalahannya. Orang pun ikhlas dipimpin oleh pernimpin seperti ini. Selain didasari rasa mencintai sesama, menjadi leader adalah sarana beribadah kepada Tuhan.

2.Mampuan Berkomunikasi dengan Baik

Kemampuan berkomunikasi dan kepemimpinan adalah satu paket yang tidak terpisahkan. Pemimpin itu sudah semestinya mahir menggunakan bahasa untuk menimbulkan kesan positif kepada tim yang dipimpinnya. Mereka mampu menyampaikan aspirasinya dengan baik sehingga mau didengar oleh orang lain.

3.Bersikap Tenang dan Tidak Mudah Terpancing

Sikap pemimpin akan mencerminkan yang dipimpinnya. Jika pemimpin memiliki sikap tenang, tidak mudah terpancing, dan menahan emosi, maka yang seperti itu akan mudah dicontoh oleh anggotanya. Jika Anda pemimpin, bersikap tenanglah di segala situasi. Sikap tenang bisa memudahkan saat harus memecahkan masalah.

4.Memperkuat Sisi Spiritual

Kekuatan spiritual akan mengontrol tingkah laku seseorang tetap positif dan produktif. Pemimpin konsisten dengan kebajikan dan menjauhi perkara yang merugikan orang. Sebagai salah satu bentuk kecerdasan, spiritual berkaitan dengan peningkatan kapasitas diri. Spiritualitas adalah ketika seseorang telah sadar untuk meningkatkan level diri.

5.Terus Meningkatkan Ilmu

Ilmu pengetahuan merupakan tonggak kepimpinan. Karenanya pemimpin perlu untuk terus ‘memperkaya diri’ dengan ilmu, baik keilmuan sesuai bidang atau umum. Dengan ilmu, seseorang akan lebih bijak dalam mengambil langkah. Meningkatkan ilmu dan kapasitas diri secara umum akan berpengaruh positif dengan yang dipimpinnya.( RICKY HAM PAGAWAK, S.H., M.Si )

 

 

Table of Contents

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap