RAMALAN JOYOBOYO TENTANG PEMIMPIN INDONESIA 2019-2024 By : Max Abner Ohee, Ketua Dewan Pembina DPP Juliet One For Jkw-MA

RAMALAN JOYOBOYO TENTANG PEMIMPIN INDONESIA 2019-2024 By : Max Abner Ohee, Ketua Dewan Pembina DPP Juliet One For Jkw-MA

RAMALAN JOYOBOYO TENTANG PEMIMPIN INDONESIA 2019-2024

By : Max Abner Ohee, Ketua Dewan Pembina DPP Juliet One For Jkw-MA

 

RAMALAN JOYOBOYO KETIKA PRESIDEN JOKOWI JADI PRESIDEN RI ke 7

Dalam budaya masayarakat Indonesia, masih banyak yang menyakini akan suatu ramalan dari para pemimpin atau tukuh terkenal di zaman dulu. Salah satunya adalah Joyoboyo, ramalan Joyoboyo mengenai akan hadir sosok Presiden Indonesia yang akan menjadikan Indonesia menjadi sebuah negara yang kuat disegala bidang, adil, makmur dan sejahtera.

Joyoboyo dalam bukunya yang berjudul Musasar menulis: “ Pada suatu masa nanti, bekas Kerajaan Majapahit akan lebih adil dan makmur apabila dipimpin oleh anak yang lahir di dekat Gunung Lawu, rumahnya pinggir sungai, masa kecilnya susah tukang cari kayu, badannya kurus seperti Kresna, wataknya keras kepala seperti Baladewa, kalau memakai baju tidak pantas, ada tahi lalat di pipi kanannya, dan mempunyai pasukan yang tidak kelihatan “ (Sukardi Rinakit, Kompas 15 Maret 2014).

Siapakah dia? Anda pasti bisa menebaknya kalau pernah lihat film berjudul Jokowi. Sekadar catatan: Joyoboyo adalah seorang raja sekaligus resi, spiritualis Hindu. ramalan-ramalannya, kata orang, lebih hebat ketimbang ramalan Nostradarmus!.

Di bumi Nusantara, 400 tahun sebelumnya ada seorang peramal yang bernama JAYABAYA, ia dikenal oleh masyarakat pada zaman itu mempunyai kemampuan meramal masa depan. Jayabaya adalah raja Kediri yang memerintah tahun 1135-1157. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Jayabaya”, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.

Beberapa ramalan Jayabaya memang lumayan fenomenal, banyak ramalannya yang bisa ditafsirkan “mirip” keadaan setelahnya. Jayabaya misalnya telah meramalkan tentang bangsa utara berkulit pucat yang akan menguasai Nusantara dengan tongkat berapi  (zaman penjajahan bangsa Eropa). Kemudian kedatangan “saudara tua” menguasai Nusantara yang lamanya hanya seumur jagung (penjajahan Jepang).

Ramalan Jayabaya ditulis ratusan tahun lalu oleh seorang raja yang adil dan bijaksana di Mataram. Raja itu bernama Prabu Jayabaya (1135-1159). Ramalannya banyak dipercaya masyarakat Jawa. Satu di antara ramalan yang melegenda adalah tentang satrio piningit. Ramalan ini tertulis di buku Jangka Jayabaya. Satrio Piningit banyak dibicarakan orang, disebutkan akan muncul di saat negeri ini dalam keadaan kacau balau.

Terdapat tujuh satrio piningit, yaitu Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu. Banyak kalangan mencoba menafsirkan ketujuh satrio piningit dengan berbagai versi. Urutan–urutan satria.

Untuk pertama, Satrio Kinunjoro Murwokuncoro berarti tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro).

Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.

Kedua, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar. Ini menggambarkan tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa dan ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan atau kesalahan (Kesandung Kesampar).

Kurun tahun 1135 sampai 1159 Prabu Jayabaya meramalkan; pada zaman keemasan Nusantara akan kedatangan Ratu Adil alias Satrio Piningit. Nubuat itu rupanya dikenang dan diyakini oleh sebagian masyarakat, bahkan sampai zaman modern seperti saat ini.  Mendiang Bung Karno pun pernah mengutip ramalan Jayabaya saat membacakan pledoi pada persidangan di Landraad, Bandung, Jawa Barat, pada 1930.

“Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya “Ratu Adil”, apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat ? Tak lain ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengharap-harapkan datangnya pertolongan.

Sebagaimana orang yang dalam kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu dan mengharap-harap “Kapan, kapankah Matahari terbit?” kata Sukarno dalam pledoi yang kemudian dikenal dengan Indonesia Menggugat itu. Politisi senior Partai Golongan Karya Suhardiman tiba-tiba menyebut ciri-ciri satrio piningit ada pada sosok calon presiden PDIP, Joko Widodo (Jokowi).

Politisi yang juga pendiri SOKSI ini yakin bahwa Jokowi, adalah sosok pemimpin yang akan meneruskan estafet kepemimpinan Indonesia sampai tahun 20124.Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.

Ketiga, Satrio Jinumput Sumela Atur. Ini merupakan tokoh pemimpin yang diangkat atau terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur).

Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.

Keempat, Satrio Lelono Tapa  Ngrame. Tokoh pemimpin yang suka mengembara atau keliling dunia (Lelono), akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan religius yang cukup atau rohaniawan (tapa ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.

Kelima, Satrio Piningit Hamong Tuwuh. Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.
Keenam, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro.

Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (boyong/dari menteri menjadi presiden) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak.

Ketujuh, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu. Tokoh pemimpin yang amat religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum/petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati. Menurut urutan di atas, satria yang dimaksud adalah Presiden Jokowi Widodo.

 Kepemimpinan di Indonesia

          Dalam ramalannya tentang siapa dan bagaimana urutan pemimpin Indonesia, Jayabaya merumuskannya dalam 1 kata yaitu “NOTONEGORO”. Dari ramalan ini kita mengenal nama Soekarno, karena suku kata namanya berakhiran “no”. Lalu ditafsirkan bahwa orang yang bisa ‘menata negara’ atau menjadi pemimpin di Nusantara adalah orang yang namanya berakhiran no, to, ne, go, atau ro. Bisa juga cukup “no” dan “to” saja. Buah dari akibat ramalan ini adalah suku kata “no” dan “to” menjadi suku kata akhir kebanyakan nama orang Jawa. Para orangtua (untuk laki-laki) memberi nama anaknya dengan akhiran  “no” atau “to”, tujuannya adalah supaya anak tersebut menjadi raja atau presiden.

Sebelum Joko Widodo alias Jokowi muncul ke pentas nasional sebagai tokoh poltik ‘the rising star’, banyak orang Jawa meyakini bahwa setelah Susilo Bambang Yudhoyono mengakhiri masa kepersidenannya, maka yang menjadi Presiden RI berikutnya adalah Prabowo Subianto.

Tapi setelah Jokowi mendadak populer, nama Prabowo seakan mengalami ‘degradasi’. Hal ini mengacu pada ramalan Notonegoro, bahwa setelah nama pemimpin Indonesia yang berakhiran “no” maka sebagai gantinya akan muncul nama “to”. Soekarno digantikan Soeharto, dan Yudhoyono akan digantikan Subianto? Tapi kemudian juga muncul penyimpangan karena nama lengkap dari Prabowo adalah Prabowo Subianto Djojohadikusumo, berakhiran “mo”. Kemudian yang pro-Jokowi menganggap Jokowi lebih mendekati kepada ramalan Notonegoro.

Joko Widodo terlahir dengan nama masa kecil Mulyono, sama dengan Soekarno yang mempunyai nama kecil bernama Koesno Sosrodihardjo. Jadi sama-sama pernah ganti nama ketika masih kecil.

Jadi, NoToNeGoRo merujuk pada no (Soekarno), to (Soeharto), ne; bukan orang Jawa (BJ Habibie), goro; ribut-ribut (terbukti dengan terpilihnya Abdurrahman Wahid yang kemudian digantikan Megawati). Terus balik lagi ke no (Susilo Bambang Yudhoyono). Kemungkinan besar akan digantikan oleh “mo” Prabowo Subianto Djojohadikusumo atau “do” Joko Widodo.

Ramalan Jayabaya tentang pemimpin Indonesia kini menjadi kenyataan. Jokowi terpilih dan menambah keyakinan kita  bahwa sudah dituliskannya segala sesuatu tentang kepemimpinan di Indonesia dan Jokowi akan memimpin Indonesia selama 2 Periode sesuai dengan Undang-Undang Pemerintahan yang ada di Indonesia.

Jayabaya meramalkan tentang keadaan Pemimpin Nusantara yang ke-7 dan ke 8 (Joko Widodo), yaitu.

  1. Orang Miskin Hidup Bahagia

Berdasarkan ramalan ini, mungkin bisa kita lihat awalnya sekarang dari Presiden Jokowi yang mengeluarkan Kartu Indonesia Pintar, Sehat, dan Jaminan Sosial yang lainnya yang bertujuan untuk membantu orang-orang yang kurang mampu.

  1. Pembangunan Merata

Berdasarkan ramalan ini, bisa kita lihat dengan diluncurkannya sebuah gagasan Tol Laut dari Jokowi. Di dalam kepemimpinan Jokowi, Ia bermaksud untuk membangun 24 Pelabuhan besar di seluruh wilayah Indonesia. Jika dikaitkan dengan ramalan, tentu hal ini merupakan tindakan untuk meratakan pembangunan di Indonesia.

  1. Indonesia Dihormati Negara Lain

Berdasarkan ramalan dari Jayabaya, pada masa kepemimpinan presiden Indonesia yang ke-7,bisa kita lihat sekarang ini betapa antusiasnya para pemimpin dunia untuk bisa bekerja sama dengan Jokowi.

Karakter yang sederhana dan aksi blusukannyalah yang menjadi primadona bagi masyarakat.Lokasi dan kegiatan blusukan Presiden Jokowi kini telah dipetakan secara digital, sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengetahui daerah mana saja yang telah dikunjungi Presiden ketujuh RI itu. Peta digital tersebut ada di dalam situs presidenri.go.id. Anda dapat membuka menu “Blusukan” yang ada di pojok kanan atas untuk melihat peta digital tersebut.

Peta itu tidak hanya memuat daftar lokasi, tetapi juga keterangan kegiatan kunjungan kerja yang dilakukan Presiden Jokowi di daerah tersebut. Bahkan, sebagian daerah telah dilengkapi dengan foto.

Anda dapat melihat lebih rinci peta (zoom), lalu klik drop pin lokasi. Selain Malang, Jawa Timur, Presiden Jokowi juga telah mengunjungi beberapa wilayah di Tanah Air di antaranya Pulau Sebatik, Pulau We dan Pulau Buru.  Dari peta digital tersebut juga dapat diketahui daerah-daerah mana saja yang belum dikunjung beliau, seperti Pulau Sumba dan Pulau Nias.

Mengapa Presiden Jokowi senang blusukan ? Gaya blusukan Presiden Jokokowi tidak bisa ditinggalkan begitu saja semenjak menjadi Presiden. Blusukan malah menjadi agenda wajib bahkan dadakan untuk melakukan inspeksi atau meninjau mega proyek di sejumlah wilayah di negeri ini. Konsep membangun dari pinggiran yang digagasnya dalam Nawa Cita, memposisikan kepemimpinan blusukan menjadi sangat penting. Mobilitas Presiden Jokowi semakin tinggi.

Turun ke daerah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, NTT dan sejumlah wilayah lain yang sedang digalakan pembangunan mega proyek. Sebagai misalnya, selama kepemimpinannya , Presiden Jokowi telah mengunjungi NTT sebanyak 3 atau 4 kali. Hal ini terkait dengan mega proyek waduk di Raknamo, Rotiklot, pembangunan infrastruktur (pos) lintas batas di Motain dan sebagainya. Sehingga terkesan Jokowi ke NTT seperti pulang ke kampung halaman sendiri kapan saja dia mau.

Inilah istimewanya Presiden Jokowi, bukan karena tidak percaya dengan laporan terkait progresspembangunan infrastruktur tersebut melainkan keinginan untuk menyaksikan secara langsung dan menyikapi dengan cepat jika ditemukan masalah di lokasi proyek. Justeru kehadirannya dan pemantauannya melalui sarana telekomunikasi memungkinkan pelaksana proyek atau kontraktor tidak bisa berleha-leha. Mereka bekerja dalam tekanan target waktu yang ditentukan Presiden Jokowi.

Sebagai misalnya untuk pembangunan 7 waduk di NTT ditargetkan selesai 2020. Artinya, setiap tahun dalam satu periode kepimpinan terdapat dua proyek yang dikerjakan. Dengan demikian, di akhir kepemimpinan proyek-proyek yang dicanangkan tersebut selesai.

Blusukan adalah salah satu cara untuk mendapatkan fakta riil di masyarakat. Dalam banyak hal ini memiliki dampak positif. Metode ini dilakukan Presiden Jokowi untuk membabat mentalitas ABS ( Asal Bapak Senang ) yang telah berurat akar di kalangan birokrasi. Selain mentalitas ABS, Presiden Jokowi mengetahui adanya banyak versi data dan informasi strategis pada setiap lembaga atau kementerian yang memiliki data.

Data kemiskinan misalnya, yang dimiliki Kementerian Kesehatan, berbeda dengan data yang dipegang oleh Kementerian Sosial serta berbeda pula yang dipunyai oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Angka produksi beras dan jagung tidak pernah seragam, setiap lembaga atau kementerian yang terkait memiliki versinya masing-masing. Dasar kekhawatiran Presiden Jokowi, data dan informasi yang berbeda-beda akan berdampak pada pengambilan keputusan yang tidak tepat.

Data yang akurat, berkualitas dan mutakhir mutlak dibutuhkan untuk mendukung program pemerintah. Tanpa data yang akurat dan valid, kebijakan atau program tidak sesuai sasaran dan pada akhirnya tidak berguna. Lihatlah kasus mega proyek Hambalang dan beberapa proyek yang mangkrak lainnya, karena jarang diapantau makanya terjadi seperti itu.

Bicara blusukan tak terpisahkan dengan sosok Presiden Jokowi. Beliaulah yang menggunakan model kepemimpinan ini semenjak ia menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta hingga sebagai Presiden Republik Indonesia. Meskipun istilah blusukan terkesan ndeso, istilah ini memiliki makna yang kuat. Lebih dari itu, istilah ini identik dengan Presiden Jokowi sendiri. Sehingga orang menerjemahkan blusukan sebagai the Jokowi way.

Pola kepemimpinan ini menggambarkan rasa tanggung jawab secara lahir dan bathin Presiden Jokowi atas laporan bawahannya. Ia memilih untuk melihat atau menyaksikan langsung fakta di lapangan. Kejadian atau peristiwanya seperti apa, ia akan berhadapan langsung dengan fakta tersebut.

Model blusukan ini kontra dengan mentalitas birokrat yang ABS (Asal Bapak Senang). Mental ini telah berlangsung lama. Hampir pasti semua laporan bawahan ke atasan tanpa cela. Tentu saja pelapor, dalam hal ini bawahan, akan mendapatkan kredit point atau penilaian yang positif. Untuk mendapatkan point ini, bawahan pun pasti akan melakukan rekayasa laporan sedemikian rupa agar baik di permukaan kertas ataupun di telinga pimpinan, meskipun fakta dan laporan bertolak belakang.

Jika dipikir dengan nalar, memang tidak masuk diakal. Sosok Ir. H Joko Widodo  menjadi FenomenaL dalam bidang politik dan birokrasi. Padahal, melihat “Prejengan” Jokowi sangat jauh dari tampilan sosok pemimpin yang pernah ada selama ini. Kurang dari 10 tahun sejak pertama menjabat walikota Solo tahun 2005, pada 9 Juli 2014, menang pilpres berebut secara demokratis melawan Prabowo-Hatta.

Senin pekan depan, tepatnya 20 Oktober 2014 Ia akan dilantik menjadi Seorang Presiden Republik Indonesia ke 7 dan mendapat predikat Satrio Piningit Sinisihan Wahyu.

Memang, jika hanya melihat penampilan luar Presiden RI ke 7 banyak manusia akan tertipu. Atau, itu artinya sama dengan meremehkan kebrilianan, ketulusan, kejujuran serta keberpihakan derita rakyat yang ada di relung hati dan pikiran Jokowi. Dalam hati, Mengakui atau tidak pribadi sosok Jokowi tergolong langka dewasa ini. Kelangkaan itu semakin terasa jika dinisbahkan kepada para pemimpin negeri ini.

Tidak bermaksud mendewakan sosok Jokowi, tetapi mungkin banyak yang setuju jika pribadi satu ini langka dan fenomenal di saat banyak pejabat publik menyandang gelar koruptor. Sukses kepemimpinan Jokowi menjabat Walikota Solo periode 2005-2009, membuat masyarakat Solo “menunjuk” beliau menjadi pemimpin mereka untuk kedua kalinya. Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto “Solo: The Spirit of Java“. Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa.

Birokrat Pro rakyat

Ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka dan disiarkan oleh televisi lokal dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya.

Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 lalu.

Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.Berkat prestasi tersebut, Jokowi terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″ oleh Majalah Tempo. Pendek kata, Jokowi menjadi simbol pribadi seorang birokrat yang pro rakyat.

Ir. H. Jokowi, membagi-bagikan gajinya sebagai Walikota Solo kepada para dhuafa, masyarakat yang di pimpinnya.

Nama Jokowi lambat laun saat menjabat Walikota Solo, kian plpuler. Lantaran itu Kemenangan mutlak diperoleh saat pemilihan wali kota yang kedua kali pada periode 2010-2015. Nama Jokowi sejak saat itu kian populer, selain kepribadiannya yang disukai masyarakat, menyerahkan gaji walikotanya dan memberikan pada para dhuafa mencuri perhatian masyarakat yang miskin tauladan.

Ketika pergi ke pasar-pasar, para pedagang beramai-ramai memanggilnya, atau paling tidak berbisik pada orang sebelahnya, “Eh..itu Pak Joko.” Jokowi tidak segan duduk bersanding dan ngobrol dengan para tukang becak, penjual sayur, penjual kopi warungan. Sikapnya ini juga tidak berubah saat dirinya menjadi Gubernur DKI.

Ir. H. Joko Widodo memang terbilang seorang pemimpin yang fenomenal. Ketika mencalonkan diri sebagai walikota bahkan hingga saat ia terpilih, banyak yang meragukan kemampuannya. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif yang ia lakukan. Dalam penataan kota, ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya dahulu.

Tentu saja, untuk mengetahui energi kepemimpinan Jokowi dibutuhkan penglihatan secara tenang. Yaitu melihat dengan matahati. Seandainya mempercayai adanya Ramalan Jayabaya, terkait Pemimpin Negara Indonesia yang ke 7, satu-satunya yang masuk kreteria ramalan tersebut hanyalah Jokowi seorang. Sesuai dengan ciri-ciri, pribadi atau akhlaq, serta tanda alam, calon pemimpin yang masih disembunyikan serta dalam taraf belajar memimpin rakyat, ternyata lebih dekat ke arah Jokowi.

Jokowi adalah seorang Satrio Piningit Sinisihan Wahyu yang sedang ditunggu-tunggu oleh rakyat Indonesia. Sebab sejak kepergian Bapak Proklamator Ir. Soekarno bangsa dan negara ini terkesan sebagai masyarakat babu yang selalu diperas, ditindas, dipinggirkan baik oleh pemimpin bangsanya sendiri maupun oleh bangsa asing.

Kesederhanaan, tegas, jujur, amanah, senang berbagi dan merasa senasib sepenanggungan menjadi karakter Jokowi yang tidak dibuat-buat. Dan hal itu dalam ramalan Jaya baya juga menjadi ciri dari Satrio Piningit Sinisihan Wahyu yang didambahkan kedatangannya. Kecintaan, usaha melestarikan budaya luhur bangsa, juga melekat pada Jokowi. Hal itu juga menjadi pribadi Satrio Piningit yang diramalkan Jayabaya dan datang dari daerah Semarang Jawah Tengah.

Rival Jokowi adalah sosok politisi, pengusaha, prajurit yang sangat berpengalaman bahkan memiliki dukungan moral maupun finansial sangat berlimpah.

Penjegalan, Penggagalan dan Pemazgulan
Sosok lawan Jokowi itulah yang disebut Satrio Piningi Palsu yang berusaha dengan segala cara “menjegal” Jokowi menjadi Presiden RI ke 7. Jika penjegalan Satrio Piningit Palsu berhasil, dipastikan negeri ini akan mengalami perang saudara, pecahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi beberapa bagian menjadi suatu keniscayaan. Para pengusaha hitam, koruptor, mafia, maling dan birokrat busuk, akan menari kegirangan jika Jokowi bisa dikalahkan.

Musuh-musuh Jokowi, telah merancang berbagai strategi licik dan curang untuk mengalahkan, mengagalkan bahkan menggulingkan Jokowi di setiap kesempatan. Mereka berkomplot, melakukan makar kepada kebenaran dan jalan lurus hendak dibengkokkan. Namun Sikap TERANG, TENANG, SENANG, MENANG (Ba’tubuh Adam, Ba’wajah Yusuf, Ba’kalam Daud, Ba’akhlak Muhammad), melekat pada Jokowi. Hal itu membuat dirinya rendah hati dalam menghadapi setiap rintangan dan justru membuat dirinya semakin kuat, tegar menghadapi rival-rivalnya yang belum faham dirinya.

Sikap demikian tentu saja tidak gampang di raih seseorang. Bagi Jokowi Alumnus SMAN 6 Solo ini sifat itu merupakan bagian kehidupannya sehari-hari. Sejak kecil ia telah mendapatkan pendidikan dari kedua orang tuanya.

Jokowi dahulu adalah Jokowi sekarang, tidak berubah. Hal itu telah dibuktikan semenjak menjabat Walikota Solo, hingga dua periode dan dua tahun menjadi Gubernur DKI Jakarta. Banyak kesaksian dari para Kiai, yang mengetahui sosok sebenarnya Jokowi. Kiai Banten, langsung “menyerahkan kewaliannya” saat bertemu dan meninggal langsung di pangkuan Satrio Piningit ini. Kiai yang menjadi guru spiritual Khofifah Indar parawansa langsung memerintahkan Khofifah berjuang membantu Jokowi, beberapa saat setelah berjumpa Tukang mebel ini.

Disisi lain Kiai Mochtar, Pengasuh Maj’maal Bahrain Shiddiqiyyah ploso Jombang, mau bertemu Jokowi dan memberikan restu Pencapresannya. Padahal selama ini tidak pernah mau menemui kandidat bahkan Presiden sekalipun, kecuali Soekarno. Presiden yang pulang dengan tangan hampa dari Ploso Jombang adalah Gus Dur, Megawati dan SBY.

Hal ini menyiratkan kepada kita bahwa sosok Jokowi, memiliki kharisma, adil, jujur, tegas, cerdas, transparan dan tidak culas dalam memimpin rakyat dan negara. Dan sifat-sifat tersebut hanya dimiliki oleh kekasih-kekasih Allah SWT.

Menurut Jokowi, menjadi pemimpin harus dimulai dengan niat yang lurus dan ikhlas. Baginya, jabatan adalah suatu amanah yang berat dan harus bisa dipertanggungjawabkan. Amanah tersebut berasal dari Tuhan dan masyarakat Indonesia mengimpikan seorang pemimpin yang dapat membawa NKRI ke arah lebih baik, maju dan sejahtera. “Amanah itu saya terima dengan senang hati dan dengan penuh tanggung jawab,” ujar Jokowi The Spirit Of Nusantara. ( IP/II/2019 )

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link