Max Abner Ohee, S.I.P : Stop Sudah Demo Anarkis, Mari Dukung Program Kerja Presiden

Max Abner Ohee, S.I.P : Stop Sudah Demo Anarkis, Mari Dukung Program Kerja Presiden

Max Abner Ohee, S.I.P : Stop Sudah Demo Anarkis, Mari Dukung Program Kerja Presiden Joko Widodo

Polisi dibantu personel TNI berupaya mengendalikan massa. Sejumlah orang juga telah ditangkap karena diduga sebagai provokator. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj).

Max Abner Ohee, S.I.P ( Ketua Dewan Pembina DPP Juliet 1 For Jkw-MA ) menyatakan keprihatinannya dan kekesalan melihat aksi demo anarkis yang dilakukan oleh massa bayaran dan para preman yang terjadi di Jakarta baru-baru ini. Menurut Max, Polisi sepertinya agak kewalahan mengatasi demo ini, karena ini bukan demo lagi namanya, tapi sudah aksi penyerangan dan pengrusakan fasilitas publik yang dilakukan oleh para massa bayaran dan kalangan preman. Max Abner Ohee meminta pihak berwajib untuk segera mengusut aktor yang menrencanakan demo anarkis tersebut dan juga termasuk yang memberikan dana untuk membiayai demo tersebut.

Hasil gambar untuk demo anarkis

Max meminta, jika Polisi memang kewalahan, sudah sepatutnya pihak TNI ditrurunkan, karena demo ini sudah termasuk ada unsur makar dan sudah bukan termasuk kategori demo yang benar-benar murni.

Kericuhan di daerah Tanah Abang pasca aksi demonstrasi di Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), adalah demo yang tidak dalam konteks demokrasi atay menyuarakan suatu pendapat menembaki polisi dengan petasan dan melempar batu. Kericuhan usai demonstrasi menolak hasil rekapitulasi penghitungan suara oleh KPU semakin meluas, Rabu (22/5/2019). Berdasarkan informasi yang dihimpun, terjadi juga kerusuhan di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Api berkobar di kawasan Pasar Tanah Abang.

Hasil gambar untuk demo anarkis bawaslu

Pendemo di Bawaslu membakar semua benda yang ditemui di lokasi. Massa bahkan membakar benda-benda sekitar untuk melawan polisi. Kepolisian terus memukul mundur massa perusuh. Namun massa tersebut belum juga membubarkan diri. Aksi demo ini diduga bukanlah aksi spontan, tetapi aksi yang dimobilisasi dan diorganisir secara sistematik. Ada yang ingin melakukan aksi secara damai, namun juga ada yang mempersiapkan aksi-aksi yang melanggar hukum.

Hasil gambar untuk demo anarkis bawaslu
Martabat bangsa, kedamaian dan kemanan negara jadi rusak gara-gara dem0 ini, serta secara tidak langsung juga ikut merusak tatanan demokrasi di Indonesia. Max meminta agar kedepannya pihak kepolisian lebih sigap dan mampu mengatasi demo-demo anarkis yang seperti ini. Sekali lagi Max menyampaikan, bahwa jika demo yang dilakukan oleh massa bayaran dan para preman tidak masalah TNI diturunkan. Percuma saja Indonesia mempunyai pasukan dari kepilisian dan TNI yang banyak dan hebat, tapi menghadapi aksi ratusan preman bayaran saja tidak mampu diatasi. Jujur saja Max agak sedikit heran, seperti ada kesan pembiaran terhadap demo anarkis ini. Seharusnya bisa diatasi lebih cepat dengan menangkap seluruh demontasi itu, sehingga tidak menimbulkan kerugian dan kerusakan yang lebih parah serta tidak menimbulkan korban nyawa manusia.

Polisi Tetapkan 257 Tersangka Kerusuhan 22 Mei

Polda Metro Jaya menetapkan 257 pelaku kerusuhan sebagai tersangka dalam aksi 21-22 Mei 2019. ” Kita lakukan penangkapan terhadap sekelompok massa yang melakukan kerusuhan dari 3 lokasi, total ada 257 tersangka,” kata Kapala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa 22 Mei 2019. Sebanyak 257 tersangka itu dibekuk dari tiga lokasi berbeda yakni di sekitar gedung Bawaslu sebanyak 72 tersangka, dari kawasan Petamburan sebanyak 156 tersangka, dan lokasi di Gambir sebanyak 29 tersangka.

” Mereka–berasal dari luar Jakarta–ada yang melakukan pembakaran asrama dan melawan petugas,” imbuh Argo.

Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti di antaranya adalah mercon, petasan, bom molotov dan celurit. Selain itu, petugas juga mengamankan uang di dalam amplop yang sudah tertulis nama-nama penerima uang sebesar Rp200 ribu sampai 500 ribu. Ada juga amplop berisi uang Rp5 juta untuk operasional.

Sejumlah massa melempar bom molotov ke arah petugas kepolisian saat terjadi bentrokan Aksi 22 Mei di kawasan Slipi Jaya, Jakarta, Rabu (22/5). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj).

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto menyebut perusuh dalam demo terkait aksi 22 Mei adalah preman-preman bayaran. Perusuh, kata dia, bukan berasal dari peserta demo sungguhan.

“Yang menyerang asrama, menyerang kantor polisi, membakar mobil dan membuat kekacauan itu preman-preman yang dibayar,” kata Wiranto di kantornya, Jakarta, Rabu, 22 Mei 2019.

Sebelumnya, sejumlah massa yang menamakan diri Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat menggelar aksi demo menolak hasil pemilu 2019 di depan kantor Bawaslu, Jakarta, Selasa, 21 Mei 2019. Namun, aksi massa ini berlangsung relatif damai dan berakhir pada pukul 21.00. Menjelang pukul 23.00, massa susulan kembali mendatangi depan gedung Bawaslu.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal M. Iqbal mengatakan massa ini bertindak anarkis dengan merusak kawat berduri dan menyerang petugas. Kerusuhan antara aparat dengan massa tersebut terus berlangsung hingga Rabu dini hari, 22 Mei 2019. Kerusuhan berpindah sampai ke dekat kawasan Pasar Tanah Abang. Iqbal mengatakan pada pukul 03.00, sebenarnya massa hampir berhasil dibubarkan. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, datang sekitar 200 massa dari Jalan KS Tubun. “Massa ini kami duga sudah disiapkan,” katanya. Kepolisian dan sejumlah tokoh Front Pembela Islam (FPI) berupaya membubarkan massa ini. Tokoh FPI ikut membantu membubarkan massa karena Jalan KS Tubun berada di dekat kawasan Petamburan, lokasi markas FPI.

Iqbal melanjutkan ketika dihalau, massa justru menggeruduk asrama Brigade Mobil di kawasan itu. Massa melempari asrama dengan batu, petasan dan molotov. Akibatnya, 11 mobil rusak dan 14 mobil lainnya terbakar. Sejumlah orang dilaporkan tewas. Dalam rentetan kejadian dari malam hingga dini hari itu, kepolisian menangkap 69 orang yang diduga provokator aksi ricuh. Iqbal mengatakan mereka berasal dari luar kota, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Banten. Dalam penangkapan itu, kepolisian juga menemukan sebuah mobil ambulans berlogo partai yang mengangkut batu dan amplop berisi uang.

Wiranto mengatakan kerusuhan inilah yang didalangi oleh para preman. Wiranto mengatakan kepolisian masih menyelidiki kerusuhan tersebut. Akan tetapi, dia mengatakan sudah mengetahui siapa dalangnya. “Hasil investigasi, kami sudah mengetahui siapa dalang aksi tersebut,” kata Wiranto.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link