Max Abner Ohee : ” PON XX Papua Pembangunan Potensi Ekonomi Daerah Papua “

Max Abner Ohee : ” PON XX Papua Pembangunan Potensi Ekonomi Daerah Papua “

Max Abner Ohee : ” PON XX Papua Pembangunan Potensi Ekonomi Daerah Papua “

Sudah tidak diragukan lagi, pelaksanaan PON XX bisa membawa dampak positif terutama peningkatan perekonomian bagi daerah dan masyarakat Papua, apalagi nanti yang datang di Papua ribuan atlet, official maupun tamu undangan penting lainnya dari seluruh daerah di Indonesia. Moment PON XX ini adalah moment yang sangat penting bagai kebangkitan ekonomi Papua.

Dalam tulisan kali ini saya lebih ingin melihat bagaimana tentang suatu realisasi jangka panjang dari pembangunan ekonomi di bidang seperti Pertanian, Perkebunan , Perikanan dan Perdagangan, Industri kecil. Sektor pertanian komposisi hanya ada belasan persen kontribusinya terhadap PDRB ( Produk Domestik Regional Bruto ). Sedangkan dari sektor tambang yang tenaga kerjanya hanya sekitar 2 persen berkontribusi  pada PDRB sekitar 43 persen.

Alangkah indahnya jika dengan adanya pelaksanaan PON XX ini Papua bisa menyediakan sendiri beras, terigu, minyak goreng Telur, ikan, daging ayam dan daging sapi, sayur dengan tanpa harus mendatangkannya dari luar Papua.

Pembahasan tentang masalah pembangunan ekonomi bukanlah suatu perkembangan baru dalam ilmu ekonomi, karena hal tersebut telah menarik perhatian para ekonom sejak jaman kaum Merkantilis, Kaum Klasik, sampai Marx dan Keynes. Ekonom Klasik, Adam Smit, telah menyinggung berbagai aspek tentang pembangunan ekonomi dalam bukunya The Wealth of Nations (1776).

Pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi mempunyai pengertian yang berbeda. Pembangunan ekonomi (economic development) diartikan sebagai suatu proses perubahan terus-menerus menuju ke arah perbaikan di bidang ekonomi, yaitu mencakup pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh perubahan-perubahan dalam struktur dan corak kegiatan ekonomi untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Sedangkan yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi (economic growth) adalah proses kenaikan out put (produksi) dalam jangka panjang.

Pertumbuhan ekonomi hanyalah salah satu aspek dari pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi hanya membahas tentang peningkatan output agregat khususnya output agregat per kapita. Pembangunan ekonomi suatu negara tidak akan terjadi bila tidak ditunjang pertumbuhan ekonomi, namun pertumbuhan ekonomi bukan satu-satunya cara untuk mewujudkan pembangunan ekonomi. Aspek lain seperti pendidikan, moral, etos kerja, politik, keamanan, dsb juga ikut berpengaruh dalam menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi.

Kembali kepada masalah Pembangunan Pertanian di Papua, Kementerian Pertanian (Kementan) mendukung pembangunan wilayah Papua dan Papua Barat melalui peningkatan kegiatan sektor pertanian. Dukungan yang diamanatkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2017 ini dituangkan dengan meningkatkan kedaulatan pangan lokal, pengembangan komoditas strategis dan perencanaan industri pertanian dan peternakan dari hulu hingga ke hilir.

Kementan sudah mengalokasikan anggaran untuk pengembangan beragam komoditas strategis untuk Papua dan Papua Barat, di antaranya, padi, padi organik, jagung, kedelai, aneka kacang, bawang merah, bawang putih, cabai, jeruk, tanaman perkebunan semusim maupun tanaman perkebunan tahunan.  Dukungan pengembangan tanaman pangan dilakukan dalam bentuk budi daya komoditas, Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO), Pengendalian Hama Terpadu (PHT), sertifikasi, distribusi Rice Milling Unit (RMU) serta peralatan pascapanen dan pengolahan lainnya,“

Sebaiknya Pemerintah Provinsi Papua segera membuat suatu Sentra Pertanian Terpadu untuk menunjang kebutuhan peserta PON XX Papua. PON XX 2020 ini harus kita jadikan suatu pelecut atau motivasi khusus agar di Papua bisa dibangun suatu Sentra Pertanian dan Perikanan Peternakan Terpadu ( SP3T Pon XX ).

Ada suatu data yang cukup mengembirakan, bahwa di Papua, Kementan  telah berhasil mengembangkan 28.305 hektare pertanaman dan mendistribusikan sarana produksi (saprodi) sejumlah 2.696 unit selama periode 2015-2018. Produksi padi dan kedelai meningkat masing-masing 54.376 ton dan 5.998 ton atau naik sebesar 23 persen dan 93 persen. Hal ini membuktikan bahwa Papua juga mampu dan bisa didalam mengembangkan potensi lahannya yang cukup baik dan bisa dijadikan area pertanian.

Kegiatan lain yang telah dilakukan oleh Kementan  dalam mendukung pengembangan SDM bidang Pertanian, Perikanan, Peternakan di Papua ialah melalui Sekolah Lapang (SL) sebanyak 10 Unit di Papua dan tiga Unit di Papua Barat. Sekolah lapang dilakukan sebagai media pembelajaran bersama antara penyuluh dan petani. Selain melalui SL, kegiatan pengembangan SDM melalui adaptasi teknologi masing-masing duaunit sebagai media transfer teknologi yang berbasis lokalita. Dengan adanya sekolah Lapang ini para Orang Asli Papua yang akan dilibatkan dalam program SP3T PON XX ini bisa dilatih keahliannya.

Berdasarkan analisis polen yang dilakukan oleh Haberle (1991) terhadap sisa serbuk sari tanaman buah merah, yang ditemukan di Kalela, Lembah Baliem, diperkirakan pertanian awal di Papua Indonesia berlangsung 7000 tahun yang lalu. Hal ini menunjukkan bahwa Papua mengenal pertanian intensif dengan tanaman utama umbi-umbian yaitu keladi sejak 7000 tahun yang lalu, sedangkan untuk wilayah Indonesia bagian barat bukti pertanian intensif diketahui sejak penutur Austronesia datang sekitar 5000 tahun yang lalu dengan mengenalkan tanaman biji-bijian yaitu padi.

Sedangkan di wilayah dataran tinggi Papua, yang terletak di ketinggian antara 1.300 dan 2.300 meter di atas permukaan air laut, penduduknya juga mengembangkan sistem pertanian yang tidak kalah efisien. Wilayah dataran tinggi jarang dijumpai pohon berukuran besar, dengan cuaca tidak menentu dan intensitas sinar matahari juga terbatas.

Selain itu dataran tingi yang terletak 1.550 meter dari permukaan laut hanya dapat ditumbuhi oleh jenis-jenis tanaman tertentu saja. Tanaman ini adalah keladi, buah merah (pandanus), pisang Australimusa (jenis pisang asli Papua dengan tangkai buah tegak lurus), umbi rambat, dan tebu.

Bagaimana dengan bidang perternakan ? Papua memiliki potensi seperempat dari luas wilayahnya, lebih dari 319 kilometer persegi dapat dijadikan lahan peternakan sapi. Namun menurut data dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua, hingga saat ini hanya ada sejumlah kabupaten yang melirik pengembangan peternakan sapi, di antaranya Kabupaten Keerom, Jayapura, Nabire dan Merauke. Sementara sejumlah daerah di pegunungan tengah belum melirik hal tersebut.

Peternakan papua sebenarnya bisa memproduksi daging,susu,telur dan karkas pada peternakan tetapi sementara dapat mengambat peternakan papua tidak memenuhi kebutuhan produksi untuk bagi orang papua  karena sarana parasarana yang belum mendukung atau tidak mendukung dengan baik, oleh karena itu pemerintah daerah jangan tinggal diam atau lipat tangan saja dan harus memperhatikan bidang peternakan yang mulai menurun produksi, perlu untuk dapat mempersiapkan  sarana yang mendukung cepat seperti; mesin pertanian, mesin peternakan, peralatan untuk mempercepat peternakan, tenaga kerja dan sebagainya itu harus memenuhi untuk dapat memajukan peternakan Papua.

Dalam statistic   perternakan papua,  jikalau sekarang di pandang secara ilustrasi  statistik maka dari itu beberapa tahun yang lalu berjalan dengan standar 80% yang di pandang secara  baik tetapi yang sekarang orang yang kerja dalam bidang peternakan tidak mau bekerja dengan baik karena dengan adanya pekerjaan baru lain seperti Politik,PNS, dan usaha selain dari peternakan.

Kondisi seperti ini memang harus diantasipasi dengan sisitem Peternak dan Petani yang diberikan insentif khusus oleh Pemerintah Provinsi, agar Orang Asli Papua lebih tertarik untuk bisa mengembangkan Peternakan, Pertanian, Perikanan dan Perkebunan di Papua.

Diperlukan suatu kerja keras dan konsep serta sitem yang khusus, agar Papua  bisa membangun sendiri, segala hal yang dibutuhkan untuk keperluan PON XX ini. Ya, jalan itu mau tidak mau harus ditempuh dan terus dicoba untuk dilaksanakan demi meningkatkan potensi ekonomi daerah Papua sekaligus dapat meningkatkan taraf ekonomi orang asli Papua.

Pembangunan peternakan dan kesehatan hewan di Kabupaten/Kota, lebih khusus di lima wilayah adat, didorong mampu menjawab tantangan swasembada protein hewani (daging dan telur) sesuai dengan potensi dan keunggulan komoditas strategis yang ada. Konsep dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Papua ini, harus juga diformulasikan kedalam Sistem Pertenakan terpadu yang mana orang asli Papua yang dilibatkan selain diberikan keahlian juga diberikan Insentif bulanan untuk kebutuhan hidupnya. Jika tidak diberlakukan dengan suatu sistem khusus, semua rencana kerja diatas kertas, tidak akan dapat terrealisasi secara nyata dengan baik.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via