Karakter dan Gaya Kepemimpinan Presiden Jokowi

Karakter dan Gaya Kepemimpinan Presiden Jokowi

Karakter dan Gaya Kepemimpinan Presiden Jokowi

Juliet1news/Jkt/2019. Dalam tulisan saya kali ini, saya agak tertarik untuk memaparkan tentang karakter dan gaya kepemimpinan Presiden Jokowi. Jujur, seumur hidup saya yang sudah lebih dari 50 tahun ini, baru kali ini saya melihat seorang pemimpin Republik ini yang benar-benar bersih, merakyat dan pekerja keras yang konsisten.

Terkadang, saya melihat bagaimana sangat dekatnya Presiden Jokowi dengan rakyatnya, dan seolah-olah tiada jarak antara beliau dengan rakyatnya. Sebagai rakyat Indonesia yang berasal dari Papua, saya sangat kagum dengan gaya dan karakter seperti yang ditunjukan oleh Presiden Jokowi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dibalik semua itu, sebagai sosok pemimpin besar rakyat Indonesia, Presiden Jokowi juga TEGAS dan CERDAS. Beliau bisa memantau semua hasil kerja bawahannya dan bisa selalu mengambil suatu keputusan penting dengan tepat dan cepat.

Dimata saya, inilah saya Kepemimpinan yang Modern atau Servant Leadership ( Pemimpin yang melayani ) yang sesuai untuk era saat ini dan juga bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat Indonesia yang beragam dan multi etnis.

Servant leadership dikemukakan oleh Robert K. Greenleaf pada tahun 1970 dan menyatakan bahwa servant leader menjadi pemimpin dimulai dari perasaan alami bahwa seorang pemimpin ingin membantu, tujuan pertama kali seorang pemimpin adalah untuk membantu.

Kemudian menyadari pilihan yang membawa seseorang teraspirasi untuk memimpin (James W. Sipe dan Don M. Frick, 2009, Seven Pillars of Servant Leadership: Practicing the Wisdom of Leading by Serving). Servant leadership adalah suatu kepemimpinan yang berawal dari perasaan tulus yang timbul dari dalam hati yang berkehendak untuk melayani, yaitu untuk menjadi pihak pertama yang melayani.

Esensi dari model kepemimpinan ini adalah melayani yang dipimpin, baik karyawan, konstituen, pelanggan, atau masyarakat luas. Dalam model ini, memimpin pada hakikatnya melayani secara tulus. Dalam essai mengenai servant leadership yang disusun oleh Greenleaf mengungkapkan bahwa (Dan R. Ebener, 2007, Servant Leadership Models for Your Parish):
Pertama, seorang pemimpin seharusnya bertindak sebagai pelayan, yang ‘bertindak dengan integritas dan semangat, membangun kepercayaan, menggerakkan orang-orang, dan membantu mereka untuk tumbuh’.

Kedua, seorang pemimpin ‘yang dipercaya dan yang membentuk nasib orang lain dengan menunjukkan caranya.

Dalam konteks servant leadership, seorang pemimpin berorientasi untuk melayani pengikutnya, mengabaikan kebutuhan dan minat pribadinya untuk melayani orang lain dengan membantu pengikutnya untuk tumbuh secara profesional dan secara personal.

Greenleaf juga menyatakan bahwa pemimpin yang berorientasi pelayanan memulai tindakannya dengan integritas, mengembangkan hubungan kepercayaan, dan membantu orang lain untuk belajar, tumbuh, dan mengembangkan kemampuan orang-orang tersebut untuk memimpin diri mereka sendiri.

Ketika pemimpin benar-benar memiliki komitmen untuk mengembangkan pengikutnya, mereka memberikan kebebasan untuk melakukan eksperimen, mengambil risiko, dan bahkan membuat kesalahan tanpa takut adanya hukuman (Ebener).

Hamilton dan Nord sebagaimana dikutip Vadell (2009, The Role of Trust in Leadership: U.s. Air Force Officers’ Commitment and Intention to Leave the Military) menyimpulkan bahwa servant leadership membentuk karakteristik kepribadian refleksi, integritas, dan passion (semangat dan gairah). Dalam hal ini, seorang pemimpin harus menghadirkan hal positif kepada pengikutnya. Untuk menginspirasi mereka untuk bekerja sesuai dengan arah dan misi organisasi.
10 atribut servant leadership yang dikemukakan dalam essai Greenleaf sebagai berikut:

  1. Listening. Atribut ini merupakan sarana komunikasi yang kritis, diperlukan agar komunikasi bisa berjalan secara akurat dan secara aktif menunjukkan rasa menghargai orang lain. Menurut Greenleaf, “Only a true natural servant automatically responds to any problem by listening first”.
  2. Empathy. Atribut yang menunjukkan kemampuan seorang pemimpin ungtuk menyadari apa yang dirasakan oleh orang lain. Greenleaf menyatakan bahwa, “The servant always accepts and empathizes, never rejects” dan “Men grow taller when those who lead them empathize, and when they are accepted for who they are…”.
  3. Healing. Atribut ini didefinisikan Greenleaf sebagai “to make whole”. Artinya adalah bahwa seorang pemimpin mengenali harapan orang lain untuk menemukan keseluruhan dari dirinya sendiri dan memberi dukungan kepada orang lain.
  4. Awareness. Atribut ini diperlukan bagi seorang pemimpin untuk memperoleh peluang sebagai seorang pemimpin. Tanpa adanya awareness maka seorang pemimpin akan kehilangan peluang kemimpinannya.
  5. Persuasion. Atribut ini membantu pemimpin mampu membangun konsensus kelompok melalui persuasi yang gentle dan jelas, dan tidak menggunakan kepatuhan kelompok karena adanya posisi kekuasaan. Greenleaf mencatat bahwa “A fresh look is being taken at the issues of power and authority, and people are beginning to learn, however haltingly, to relate to one another in less coercive and more creatively supporting ways”. Artinya bahwa seorang pemimpin akan menggunakan kekuatan pribadinya dan bukan kekuatan kekuasaannya untuk mempengaruhi kelompok dan memperoleh tujuan organisasi.
  6. Conceptualization. Atribut ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin dapat memperoleh solusi terhadap permasalahan yang saat ini tidak ada.
  7. Foresight. Atribut ini menunjukkan bahwa pemimpin memiliki pengetahuan dan cara pandang ke depan yang leih baik mengenai apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
  8. Stewardship. Atribut ini menunjukkan kemampuan pemimpin dalam melakukan tata laksana organisasi. Artinya, pemimpin tidak hanya mewakili bawahan secara personal, tetapi juga mewakili organisasi secara keseluruhan, dan dampaknya terhadap hubungan organisasi dengan masyarakat.
  9. Commitment to the growth of people. Atribut ini menunjukkan kemampuan pemimpin dalam memegang komitmen untuk pertumbuhan orang-orang yang dilakukan seorang pemimpin melalui pemberian apresiasi dan pemberian semangat kepada orang lain. Sebagaimana diungkapkan oleh Greenleaf, bahwa “The secret of institution building is to be able to weld a team of such people by lifting them up to grow taller than they would otherwise be”.
  10. Building community. Atribut ini menunjukkan kemampuan pemimpin untuk membangun komunitas yang menyatukan individu dalam masyarakat. Sebagaimana dijelaskan oleh Greenleaf, “All that is needed to rebuild community as a viable life form…is for enough servant-leaders to show the way”.

Oke, mari sedikit kita kembali pada teori dasar tentang apa gaya kepemimpinan itu. Gaya kepemimpinan, mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk tertentu.

Pengertian gaya kepemimpinan yang demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Davis dan Newstrom (1995). Keduanya menyatakan bahwa pola tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan tersebut dikenal sebagai gaya kepemimpinan.

Menurut Tjiptono (2006) gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang digunakan pemimpin dalam berinteraksi dengan bawahannya. Sementara itu, pendapat lain menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola tingkah laku (kata-kata dan tindakan-tindakan) dari seorang pemimpin yang dirasakan oleh orang lain (Hersey, 2004).

Pimpinan adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi.

Organisasi akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan konseptual.

Pemimpin-pemimpin kita, mulai dari Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno, Mantan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto, Mantan Presiden Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, Mantan Presiden Dr. K. H. Abdurrahman Wahid, Mantan Presiden Dr. Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri ,  Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono ,  dan saat sekarang Presiden Ir. H. Joko Widodo memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Sebagian masyarakat meninjau dari sisi baik, sebagian lainnya meninjaunya dari sisi buruk.

 

Karakter Kepemimpinan Presiden Jokowi

Rendah Hati

Dari seluruh sifat Presiden Joko Widodo yang paling disenangi adalah sikapnya yang rendah hati, ia terlihat tidak pernah bicara sinis, ia selalu membungkuk bila bertemu orang, ia menyalami siapa saja, dan ia ‘ngajeni’ (bhs jawa = menghormati) siapapun. Ini adalah karakter orang Jawa dari sisi rakyat jelata yang guyub dan tidak memandang jabatan, ia lebih memandang jabatan sebagai ‘Kerja’ bukan status sosial, jadi ia tidak merasa lebih dari orang lain.

Presiden  Joko Widodo tidak suka merendahkan orang lain, ia selalu memuji tapi juga tegas, tampaknya Presiden Joko Widodo menggunakan bahasa yang menyenangkan lawan bicaranya, ia tidak merasa dirinya  harus dilayani, ia bahkan sering merasa harus melayani orang.

Karakter melayani ini mungkin sudah terbentuk sejak masa ia kecil, masa ia tumbuh, ia lahir dalam kondisi miskin dan satu-satunya bertahan hidup adalah dengan melayani orang lain, ia bekerja untuk membiayai sekolahnya, ia bertanggung jawab pada dirinya dan mungkin ia tau betapa susahnya menjadi orang miskin, betapa nggak enaknya ‘dadi wong ra nduwe’ (jadi orang nggak punya) yang mungkin dihina orang, dianggap sebelah mata, maka ketika hidupnya makmur ia takut untuk menghina orang.

Beliau tidak dendam  pada masa lalunya yang miskin, justru menghargai orang miskin, status manusia tidak dilihat dari hartanya, tapi apakah ia berguna bagi orang banyak, apakah kerjanya bermanfaat bagi orang banyak, ia mungkin tau rasanya disakiti oleh sikap sombong, sebab itu ia rendah hati, andap asor, ia memanusiakan manusia, senang bicara secara bersahabat.

Di titik ini ia tidak pernah merasa lebih dari orang lain, kelihatan sekali dari cara bicara dan tindakannya.

Tulus

Sikap yang tulus dari seseorang adalah dilihat saja dari caranya bicara, caranya bekerja, biasanya orang yang tulus bekerja tanpa beban dan tidak direpotkan pada hal-hal yang artifisial, orang yang tulus tidak pernah berpikir macam-macam ‘kerja ya kerja’ ndak usah ada hidden agenda, trik-trik dan segala apapun yang membuat dirinya diuntungkan dan merugikan banyak orang.

Karakter dasar Tulus Presiden Joko Widodo ini dilihat dari cara ia bekerja untuk rakyat banyak, hal paling menonjol adalah ketika ia tidak mengambil gajinya. Disaat pejabat Negara habis-habisan menggarong dana APBN atau APBD lewat proyek-proyek tender yang di mark up, Presiden Jokowi tidak mengambil gajinya, bahkan hal ini dilakukan sejak beliau menjabat sebagai Walikota Solo.

Presiden Joko Widodo tidak pernah meributkan gaji, bahkan ia melupakannya, dari sisi ini untuk pembelajaran publik bahwa ia bekerja dengan tulus. ‘Boro-boro memperkaya diri dari mark up proyek dari gaji saja dia tidak mau ambil.

Ketulusan dia bekerja ini kemudian membawa prestasi yang luar biasa bagi Kota Solo, ia dengan cepat mengubah keadaan dan membangun landasan perubahan revolusioner menjadikan kota Solo yang tadinya dianggap kota kecil dan hanya dibawah bayang-bayang kota Semarang dan Yogya, kini sebagai kota modern tapi berkebudayaan, bahkan Solo sekarang lebih dikenal daripada Semarang dan Yogyakarta.

Sederhana Dalam Tingkah dan Bicara

Karakter yang paling disukai dari Presiden Joko Widodo bagi jutaan rakyat Indonesia adalah sikapnya yang ‘sederhana dalam tingkah dan bicara’. Tidak memakai baju yang amat mahal, ia pakai pakaian sederhana, sepatunya sederhana, tidak pernah pamer kekayaan.

Kita sering miris bahwa ditengah rakyat banyak yang lapar banyak pejabat tak tau malu pamer pesta pernikahan besar-besaran, bagaimana perasaan kita bila melihat ada seorang anak kelaparan, ada seorang anak memikul dagangan bakso, atau anak mencari rejeki dengan mengais-ngais sampah, sementara pemimpinnya menikahkan anaknya dengan Pancuran coklat setinggi 5 meter? Dan anak yang lapar itu melihat dari tontonan di teve hanya makan ikan asin dan tahu.

Presiden  Joko Widodo paham bahwa dengan bersikap sederhana ia mengajarkan tidak hidup dalam bui rasa gengsi, rasa gengsi-lah yang membuat hidup jadi mahal, hidup apa adanya, tak usah pamer, mobil dinasnya pun mobil Camry lama, ia tak rewel, kemudian ia pakai mobil Esemka, kalau ke Jakarta untuk keperluan dinas ia hanya naik taksi Ekspress tak pakai mobil mewah.

Disini ia  melakukan pencitraan, karena dengan kekayaannya ia bisa  saja membeli mobil sedan teranyar berharga diatas 1 milyar, tapi untuk apa beli kalau kemudian di dalam mobil ia melihat bangsanya masih banyak yang lapar dan susah, dalam kesederhanan ia bersatu dalam lumpur kesengsaraan masyarakat banyak.

Tidak Pendendam

Karakter yang disukai Presiden Joko Widodo banyak orang adalah ‘Tidak Pendendam’. Ia tidak pernah membalas ucapan-ucapan yang merendahkan dirinya bahkan ia merasa setiap ucapan yang merendahkan adalah berkah Tuhan yang ‘harus’ ia terima saja. Mungkin publik masih banyak ingat tentang ucapan Gubernur Jawa Tengah saat ribut-ribut eks Gudang Es Sari Petodjo di Kota Solo yang mau dibangunkan mall tapi Pak Jokowi menolak.

Lalu Presiden  Joko Widodo ( yang saat itu, sebagai walikota Solo ) dibilang “Walikota Goblok” oleh Gubernur Jawa Tengah, Presiden Joko Widodo tidak membalas dengan ucapan pedas tapi dengan ucapan yang santai namun tak dimasukkan ke hati

“Lha, memang saya orang Goblok” 

( Presiden Joko Widodo sambil ketawa-ketawa)

Dan Presiden Joko Widodo  jalan terus dengan keyakinannya, ia tidak mendendam tapi sekaligus tak plin plan. Karakter ini tak banyak dipunyai pejabat sekarang yang arogan, banyak dari pejabat publik atau wakil rakyat yang ditonton banyak orang seperti di Indonesian Lawyer Club asuhan Karni Ilyas di TV One, memamerkan arogansinya, disenggol sedikit marah, kelihatan maen bener sendiri, pinter bicara tapi tanpa tindakan dan selalu menyimpan dendam sampai dendam itu dibawa main hantam pukul-pukulan ditonton rakyat banyak.

Sekarang saat menjelang Putaran II, Presiden Joko Widodo dijelek-jelekkan terus asal usulnya difitnah ini itu, tuduhan yang nggak ada hubungannya dengan prestasi kerja, dan sebagainya terus dihembus-hembuskan untuk menyampaikan kebencian kepada kelompok yang belum menerima informasi siapa Presiden Joko Widodo.

Tapi Presiden Joko Widodo tidak dendam tidak membalas dengan cara jahat tapi ia membalasnya dengan sikap diam saja, ia sabar dalam menerima cobaan, mungkin ia paham prinsip keberhasilan hidup seseorang : ‘Ketika seseorang diuji kesabarannya maka ia sedang diangkat derajatnya oleh Tuhan, orang yang direndahkan adalah orang yang ketika diuji kesabarannya tapi malah menyimpan dendam”

Dan Presiden Joko Widodo tak pernah menyimpan dendam, kejadian yang sudah ya sudah, cukup jadi pelajaran tapi tak boleh membalas dengan kejahatan baru, balas dengan kebaikan. Buktinya setelah dikata-katain Goblok oleh boss-nya di Provinsi Jawa Tengah, ia malah ke DKI dan menjadi walikota paling terkenal sepanjang sejarah Republik Indonesia. Tuhan sudah mengangkat derajatnya.

Pekerja Keras

Karakter yang paling menonjol dari Presiden Joko Widodo adalah pekerja keras, ia cepat mematerialkan sesuatu dari nggak ada jadi ada dengan kerja kerasnya,cara kerja Presiden Joko Widodo  amat mirip dengan Obama dalam soal pemecahan masalah,

 ‘Selesaikan mulai dari inti persoalannya’ 

( Presiden Joko Widodo )

Presiden Jokowi sangat efektif soal waktu, ia sedari kecil harus menyelesaikan persoalan dengan cepat, karena setiap persoalan yang ditunda-tunda akan menghabiskan biaya dan energi, sementara ia tau dirinya orang miskin, jadi harus irit, demikian juga soal kerja.

Dalam bekerja Presiden Joko Widodo tampaknya menganut ilmu menanam Padi. “Barangsiapa menanam padi, pasti ada rumput yang mengikuti, tapi barang siapa menanam rumput tak mungkin ada padi yang mengikuti”. Artinya : Orang yang menanam kebaikan, pasti ada keburukan-keburukan baik sengaja atau tak sengaja, tapi orang yang menanamkan keburukan sudah pasti tak ada hal baik yang mengikuti”.

Baginya kerja adalah menanam perbuatan, dan perbuatan pasti ada imbal hasilnya dari apa yang kita lakukan.  Kerja Presiden Joko Widodo dilandasi nilai-nilai baik, ia jujur dan dipercaya, ia juga bekerja keras, bila ia tak jujur mana ada orang Jerman percaya untuk ekspor meubel, di kalangan eksportir paling mengerti kalo orang Jerman itu amat keras soal kepercayaan.

Presiden Joko Widodo mau terjun langsung ke wilayah-wilayah, ia ngider tanpa capek, ia tenggelam dalam kerjanya rakyat, ingin tau rakyat kerjanya apa. Dari sini ia mempelajari bagaimana karakter orang dalam melihat masyarakatnya, lalu dengan kerja kerasnya ia bentuk sistem terpadu dimana akses-akses kesejahteraan bisa dibentuk.

Presiden Joko Widodo tidak sekedar bekerja keras saja, tapi ia kerja cerdas. Pembagian kartu kesehatan adalah contoh bagaimana ia secara sederhana menerapkan kerja cerdas. Ia memotong jalur birokrasi, bila dulu anggaran diendapkan sampai ada klaim asuransi Pemerintah dan jalur birokrasi yang panjang sehingga berpotensi disalahgunakan,

Maka dengan membuat kartu kesehatan ia penyelenggarakan asuransi publik dimana kaum miskin tidak usah mengeluarkan surat miskin tapi sudah memiliki jaminan  kesehatan langsung tanpa birokrasi yang berbelit-belit. Ia bekerja cepat, tanggap dan efisien, persoalan KTP yang berjangka waktu 2 minggu ia efektifkan jadi dua jam, gratis berarti disini Presiden Joko Widodo tidak melakukan intervensi pemerintah atas jam kerja masyarakat.

Presiden Joko Widodo bekerja keras soal efisiensi angkutan-angkutan pasar, efisiensi ketersediaan barang dan memastikan jangan ada hambatan komoditas masuk ke pasar-pasar, efektifitas ini menghasilkan tingkat inflasi yang rendah, bahkan rendahnya tingkat inflasi ini mendapatkan penghargaan dari Hatta Rajasa, dan mendapatkan pengakuan resmi dari Mantan Presiden Jenderal TNI Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono.

Prinsip kerja Presiden Joko Widodo  yang membuat dia berhasil seperti ini adalah : “Kerjalah dari hal sederhana dulu, selesaikan persoalan-persoalan sederhana, tidak usah berpikir muluk-muluk yang penting kerja dan hasilkan yang riil.” Presiden Joko Widodo benar sekali karena ada adagium dalam soal kerja :

“Sesuatu yang rumit biasanya dimulai dari persoalan-persoalan yang amat sederhana”. 

( Presiden Jokowi )

Jadi bila menunda-nunda pekerjaan yang sederhana sampai terbengkalai maka persoalan rumit akan timbul. Presiden Joko Widodo  tak suka itu, ia juga tak terlalu mengawang-awang, apa persoalan depan mata selesaikan dengan cepat, soal lain muncul nanti dipikirkan.

Komunikatif

Presiden Joko Widodo  rupanya sangat memahami ilmu komunikasi, dari sisi ini ketrampilannya yang terbesar adalah cara berdialog dan bernegosiasi. Kalau dilihat dari cara bahasanya, ia memang amat khas Solo, cara bicaranya ‘Ngglenik’ atau akrab tanpa batas kepada lawan bicaranya, ini cara khas rakyat jelata bila sedang kongkow.

Presiden Joko Widodo  tidak mengasingkan dirinya seperti seorang bangsawan yang sakral ketika bicara dengan masyarakat yang dipimpinnya, ia masuk ke dalam alam pemikiran lawan bicaranya dengantenggelam dalam alam bawah sadar mereka.

Jika berbicara dengan orang lain, gunakanlah bahasa orang itu dalam memahami alam pikir mereka’ 

( Soekarno )

Prinsip Mantan Presiden Dr. Ir. H. Soekarno ini digunakan Presiden Joko Widodo  dalam memahami cara berkomunikasi dengan rakyatnya, ucapannya yang ia lontarkan jelas, padat dan tak perlu dicerna rumit-rumit.

Bila Donald Trump mengajarkan cara bernegosiasi ‘Win Win Solution’maka ini diterapkan dengan amat sangat oleh Presiden Jokowi, metode ‘Win Win Solution + rasa kemanusiaan’. Di dalam negosiasi dengan pekerjaannya Presiden Jokowi di satu sisi bisa bersikap tegas, tapi juga bersikap amat sabar.  Sebagai misal saat ia berhadapang dengan Camat dan Lurah yang masih bandel soal KTP. Ia dengan tegas mencopot pejabat yang  gagal dalam melaksanakan efektifitas pelaksanaan KTP.

Tapi disisi lain ia bisa amat sabar bernegosiasi dengan pihak masyarakat. Presiden Joko Widodo  duduk satu meja dengan para pedagang klitikan, ia tak bicara apa-apa soal pasar, ia hanya bicara sebagai teman. Berbeda saat Presiden Jokowi berhadapan dengan aparat yang bandel, ia sudah tau posisi “Siapa yang berkuasa dan apa maunya orang ini” tapi ketika berbicara dengan rakyat ia tidak bertanya “Siapa yang berkuasa” karena ia paham yang berkuasa jelas rakyat dan ia pelaksana, maka ia bertindak sebagai seorang bawahan yang sedang memahami apa maunya atasan.

Ia undang makan para boss-nya itu untuk makan bersama, sampai puluhan kali, di undangan ke 54 barulah Jokowi mengutarakan maksudnya, itupun masih ada penentangan tapi tak keras, karena selama 53 pertemuan sebelumnya, Presiden Ir. H. Joko Widodo  sudah menangkap bagaimana karakter masyarakat-nya dalam melihat persoalan pemindahan pasar.

Disini Presiden Jokowi menerapkan komunikasi empati plus integratif, artinya : ia masuk ke dalam penghormatan dan tenggelam dari apa maunya rakyat. Seperti

Rakyat adalah gudangnya gagasan. Pemimpin jangan sok pinter. Kita cuma eksekutor,”

( Presiden Joko Widodo ) 

Taktis

Satu sikap yang disukai oleh masyarakat kepada Jokowi adalah kemampuannya dalam berpikir taktis, di satu sisi ia bisa berpikir sosialis yaitu : melakukan tindakan-tindakan kolektif dimana kekayaan negara bisa diarahkan untuk kesejahteraan rakyat banyak. Di satu sisi Presiden Joko Widodo  sangat taktis dalam berbisnis, ia amat berotak bisnis, dan otaknya untuk ini amat moncer.

 

Ketika Faisal Basri harus menjual rumahnya untuk biaya kampanye, maka Presiden Joko Widodo mengajarkan berpikir ‘Keluar Kotak’ untuk apa kita harus menjual asset, nilai lebih kita harus jadi aktiva aktif.

Disini Presiden Joko Widodo  menunjukkan dirinya bukan orang yang pandai berteori, tapi orang yang langsung aplikatif, ia beli baju yang bisa merumuskan dirinya pada posisi ingatan masyarakat, lalu baju ini dijual, ia tingkatkan partisipatif publik, ia tak perlu keluar banyak untuk kampanye karena cluster-cluster kampanye dengan sendirinya bergerak, ia ajarkan masyarakat sebagai produsen politik, bukan konsumen politik.

Presiden Joko Widodo  juga orang yang amat pandai melihat masalah dan anatominya serta dengan cepat menyusun posisi. Seperti banyak orang meremehkan bahwa kota Solo homogen, kota Solo kecil dan sebagainya.

Jokowi hanya menjawab santai : “Solo kan masih Indonesia, Jakarta juga masih Indonesia juga kan?” Jawaban Presiden Jokowi yang terkesan simpel justru memperlihatkan sikap taktisnya dalam menghadapi masalah, ia paham Solo kota kecil tapi orang banyak tak tau Solo adalah kota paling plural dalam soal ideologis.

Solo adalah tempat dimana kejadian-kejadian besar politik di Indonesia bermula, tempat paling parah bila terjadi pergolakan politik, ini bisa saksikan dan periksa dalam sejarah kota Solo, artinya, Di Solo tempat orang-orang yang memiliki karakteristik amat Jakarta, bahkan mungkin lebih ideologis ketimbang orang Jakarta yang pragmatis.

Seperti  ungkapan Soros : “Siapa yang bisa menaklukkan New York maka ia bisa menaklukkan dunia”. Ini sama saja dengan ungkapan : “Siapa bisa menaklukkan Solo maka ia bisa menaklukkan Indonesia”.

Berbihineka

Karakter Berbhineka Presiden Jokowi amat disukai jutaan orang Indonesia, Presiden Joko Widodo  mengajarkan dalam ruang publik dan tata pemerintahan yang rasional tidak baik mengedepankan sentimen identitas seperti agama,  suku dan status sosial tapi kedepankanlah prestasi, kedepankanlah nilai-nilai kejujuran dan etika, serta membawa rasionalitas ke dalam tataran perjuangan politik sehingga rakyat diajari dalam memilih ukuran-ukuran rasional-lah yang dikedepankan bukan ukuran-ukuran kuasa Tuhan seperti Agama, Suku dan Status Sosial.

Berkenalan langsung dengan pribadi Pak Jokowi melalui tulisan tangannya adalah salah satu cara untuk menjawab beberapa pertanyaan rakyat Jakarta khususnya tentang bagaimana nasib DKI untuk 5 tahun ke depan dengan konsep Jakarta Baru yang diusungnya.

(Tulisan Tangan) Presiden  Joko Widodo Menjawab Sosok pemimpin seperti apakah Pak Presiden Joko Widodo  berdasarkan kepribadiannya?

Memiliki gambaran visi yang ingin dicapai & keinginan yang kuat untuk mencapainya, dilihat dari kemampuannya untuk menyeimbangkan imajinasi visi, realita yang ada & dorongan kuat untuk bertindak mencapai tujuannya yang tergambar pada keseimbangan zona di tulisan tangannya (garis warna merah)

Pengendalian dirinya baik, berhati-hati dalam bertindak dan mengedepankan fakta yang ada menjadikan Beliau sebagai pemimpin yang objektif. Tidak emosional & reaktif namun menggunakan logikanya dengan baik sehingga bisa memilah-milah mana yang perlu mendapat respon segera & mana yang sebaiknya diacuhkan.

 Karena tidak sesuai dengan tujuan yang ingin dicapainya (vertical slant – garis orange) Ramah dan diplomatis sehingga Beliau mampu mengintegrasikan dirinya untuk masuk dalam berbagai kalangan dengan mudah (garland – lingkaran kuning)

Dalam kondisi mendesak mampu membuat keputusan yang cepat namun tepat (fluidity of thought – lingkaran biru) Peka sehingga mampu berempati dengan baik (d stem width broad -lingkaran hijau) Mampu mengkomunikasikan dirinya dengan tajam & lugas (i dot slash – lingkaran ungu) Mampu berkonsentrasi mencermati hal-hal detail sekaligus berpikir dengan cepat untuk melihat hal-hal yang akan datang (i-dot placed after the stem – lingkaran pink)

Bagaimanakah ritme kepemimpinan Presiden Joko Widodo  ?

Presiden Jokowi berhati-hati dalam bertindak namun bisa bertindak cepat jika dibutuhkan. Layaknya rem & gas dalam sebuah mobil, Presiden Joko Widodo  memiliki kapasitas 2 fungsi tersebut dalam gaya kepemimpinannya. Vertical slant (garis orange) & i-dot placed after the stem (lingkaran pink) dalam tulisan tangannya adalah pengendali bagaimana Beliau bisa memainkan ritme cepat & lambat sekaligus tergantung dari situasi & kondisi yang dihadapinya.

Blusukan

Blusukan merupakan salah satu gaya politik yang sangat identik dengan Presiden Joko Widodo. Gaya politik seperti ini berhasil menyita perhatian banyak orang. Masyarakat banyak beranggapan bahwa blusukan sangat baik dilakukan para pemimpin untuk mengetahui keadaan masyarakatnya secara langsung. Sejak menjadi walikota Solo, Jokowi sudah sering melakukan blusukan.

Sampai ia menjadi Gubernur Jakarta, ia menggunakan gaya blusukan ini sebagai  metode kampanyenya. Pada akhirnya, ia pun melakukan hal serupa dalam kampanye pemilihan presiden Indonesia tahun 2014. Alhasil, cara ini terbukti efektif sekaligus berhasil memberikan citra positif bagi dirinya di mata masyarakat.

Gaya politik blusukan ala Presiden Joko Widodo ini kemudian mulai menjadi pembahasan internasional sejak dirinya terpilih menjadi Presiden ketujuh Republik Indonesia. Tak sedikit media massa dan televisi di Amerika yang memberitakan gaya politik Presiden Joko Widodo  ini. Hingga akhirnya ia menjadi perbincangan utama di majalah TIME.

Masyarakat menganggap bahwa blusukan dianggap sebagai cara berpolitik yang sama sekali baru dalam perpolitikan nasional dan internasional, sebalum akhirnya dipromosikan oleh Presiden Joko Widodo.  Akan tetapi, terkait blusukan  ini sebenarnya sudah ada sebelum dipopulerkan oleh Presiden Joko Widodo.

Hanya saja, pada masa sebelum Presiden  Joko Widodo belum ada penamaan secara spesifik  bahwa  upaya turun langsung yang dilakukan seorang pemimpin kepada masyarakatnya merupakan blusukan.

Dewasa ini, dengan populernya istilah blusukan, para politisi mulai banyak menggunakan cara blusukan sebagai media kampanye dan strategi politiknya. Secara praktis, ada empat gaya politik Presiden Joko Widodo yang banyak menyita perhatian publik. Hal itu disebabkan manuver politik yang ia lakukan ini berbeda dengan para presiden ataupun gubernur sebelumnya.

Dalam kacamata politik, hal semacam ini lazim dilakukan sebagai sebuah inovasi baru dalam perpolitikan. Sebab cara dan gaya seseorang berpolitik akan berpengaruh pada citra dan imejnya dalam masyarakat.  Karakter Presiden Joko Widodo paling terasa dekat dan dikenal oleh rakyat. Tapi strategi catur politiknya sulit diduga oleh pakar strategi politik manapun di Indonesia. Presiden Jokowi selalu mengeluarkan jurus-jurus kejutan setiap menghadapi tekanan lawan politik. Dalam dunia persilatan tempo dulu, kita mengenal Bruce Lee jagonya.

Dalam Kung Fu Jokowi bisa digolongkan aliran Tai Chi yang diciptakan Thio Sam Hong dan dikembangkan muridnya Chang Wuchi / Thio Bu Ki. Gerakan lembut, menggunakan tenaga dalam dan menggunakan tenaga serangan lawan untuk melumpuhkan balik. Sulit membaca apa langkah Presiden  Joko Widodo selanjutnya, karena sangat tergantung dari jurus serangan lawan pada saatnya baru kita bisa lihat jurus-jurus spontan sambil meliuk, tersenyum dan lawan lumpuh.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via