In Memoriam ” Sang Flamboyan ”  By: Adrian Indra dan Redi Soesilo ( Bagian I )

In Memoriam ” Sang Flamboyan ” By: Adrian Indra dan Redi Soesilo ( Bagian I )

In Memoriam ” Sang Flamboyan ” ( Bagian I )

By: Adrian Indra dan Redi Soesilo

Prakata Penulis

“Innalillahi wa inna lillahi rajiun, Innalillahi wa inna lillahi rajiun, Innalillahi wa inna lillahi rajiun…

Indonesia berduka atas berpulangnya bu Ani Yudhoyono dibulan Ramadhan tahun 2019 ini pada usia 67 tahun. Tertitip doa pada buku ini, semoga Armahumah Bu Ani Yudhoyono diterima dan diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT, husnul khotimah, dan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan dan kesabaran, Amien Ya Rabbal Alamin.

Buku dengan judul In Memoriam Sang Flamboyan . Buku ini kami tulis adalah sebagai wujud rasa ungkapan terimakasih dan kekagumanan saya sebagai rakyat Indonesia atas jasa dan peranan Bu Ani Yudhoyono dalam membangun bangsa ini khususnya selama menjadi Ibu Negara selama 2 Periode kepemimpinan Bapak SBY sebagai Presiden Republik Indonesia.

Menurut pandangan kami sebagai seorang jurnalis dan penulis buku, bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui secara detail tentang apa-apa yang telah diperbuat oleh Bu Ani Yudhoyono dalam rangka membangun masyarakat dan bangsa Indonesia ini. Dimata kami, Bu Ani Yudhoyono itu layak untuk mendapatkan gelar “ Pahlawan” atas jasa terhadap masyarakat dan bangsa Indonesia.

Satu hal lagi, ada suatu suri tauladan yang Bu Ani Yudhoyono berikan pada masyarakat Indonesia yaitu tentang cinta dan kesetian serta dalam hal mendidik anak-anak dan cucunya. Sesuatu suri tauladan yang mungkin bisa dijadikan panutan oleh wanita Indonesia didalam hal membina bahtera rumah tangganya dan membantu suami bisa sukses didalam perjalanan kariernya.

Buku ini, memaparkan tentang sejarah masalalu Bu Ani Yudhoyono, pemikirannya, kontribusi nyatanya dalam membangun Indonesia, serta harapan dan cita-citanya. Penulis menghimpun materi-materi ini dari berbagai sumber dan juga dari penjelasan langsung kerabat dekat Bu Ani dan Pak SBY. Penulis berharap dengan terbitnya buku ini, masyarakat Indonesia akan lebih mengetahui secara lengkap tentang siapa dan bagaimana Bu Ani Yudoyono.

 Pada Bab awal buku ini, sengaja dipaparkan tentang penghormatan Negara Indonesia ketika pemakaman beliau. Bu Ani Yudhoyono telah meninggalkan kita semua rakyat Indonesia dengan tenang, dan amal ibadah beliau yang terbaik untuk bangsa dan negara serta untuk keluarga telah beliau berikan dengan yang terbaik.

Akhirnya, penulis mengucapkan terimakasih yang tak terhingga atas bantuan semua pihak yang telah membantu terbitnya buku ini, khususnya pada Bapak Sartono dan Bapak Eka Putra. Segala kekurangan yang ada dalam buku ini, penulis memohon maaf, karena setiap manusia pasti tidak luput dari kekurangan dan kekhilafan.

Penulis

 

 

Pendahuluan

Cinta sejati dua insan hanya bisa dipisahkan oleh takdir Ilahi ketika ajal datang menjemput. Airmata dan kecupan sayang terakhir turun mengantar sang Pujaan Hati kembali ke pangkuan sang Penciptanya. Berbagai kenangan indah baik suka maupun duka telah dilalui bersama oleh SBY dan Bu Ani. Dalam pandangan dan jiwa SBY, Bu Ani istri tercintanya selain sebagai pendamping  yang sempurna, juga sebagai pendukung dalam kariernya serta cahaya hidupnya. Cinta mereka bagaikan suatu cerita Novel nyata yang Indah, dimata suatu cinta pada pandangan pertama yang berlanjut pada ketabahan dalam menjalani kehidupan yang sulit sampai kepada suatu puncak keberhasilan karier dari sang Romeo yang menjadi orang no. 1 selama 2 periode di Republik ini.

Keberhasilan dalam kehidupan tidak membuat keperibadian Ani berubah, ketika menjadi Ibu Negara, Ani tidak pernah memposisikan bahwa dirinya adalah orang penting atau istri dari orang yang jabatanya tetinggi di negara ini. Ani tetap membumi dan merakyat serta ramah dan sayang dengan semua orang. Ani malah berjuang dengan keras bagaimana agar masyarakat Indonesia bisa sejahtera, karena dengan hal seperti itulah Ani bisa merasakan kebahagian yang hakiki.

Jiwa Ani sebagai Puteri seorang tentara terlihat sangat kental dari ketangguhannya dalam menjalani kehidupan ini. Ani memberikan suatu panutan tentang makna Cinta, Kasih Sayang, Pengabdian dan Prestasi seorang wanita Indonesia.

Ani adalah “ Ibunya “ bagi rakyat Indonesia yang mencintainya dan menyayanginya. Kedekatannya dengan masyarakat tiada berbatas, kerendahan dan ketulusan hatinya sungguh seperti seperti mutiara yang berkilau. Mimpi dan cita-citanya untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia tidak berhenti walaupun kondisi tubuhnya sedang dalam keadaan sakit yang parah dan sampai akhir hayatnya.

Kristiani Herawati ( Ani ) adalah Putri Sang Jenderal, yang mana pada saat itu, Sarwo Edhie Prabowo adalah sebagai Gubernur AKABRI, dan Ani, sering mengikuti acara-acara resmi. Saat itu awal 1973, libur kuliah tiba, Ani mengikuti acara peresmian barak taruna di Magelang, dia kagum dengan sosok laki-laki yang gagah dan bertubuh jangkung.Esoknya, pemuda tersebut datang ke rumah Ani.

 Pertemuan tersebut membuat Ani terpana, jarak yang dekat membuat Ani bisa menganalisis wajahnya yang tampan. Saat itulah, mereka berkenalan. Pertemuan tersebut membuat Ani grogi. Dia mengintip pertemuan ayahnya dengan SBY. Diam-diam, Ani mengagumi sosok SBY. Keesokan hari, SBY kembali bertandang ke rumah dinas. Kali ini, Ani bisa berbincang cukup lama dengan SBY. Saat Ani kembali ke Jakarta, seluruh hatinya telah tertinggal di Magelang bersama SBY.

“Tidak bisa dipungkiri, aku dan SBY jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak tahu siapa yang dulu suka, yang pasti sejak pertemuan di Magelang, surat-surat SBY mengalir deras, di antaranya dia menyatakan cinta,” ( Ani Yudhoyono, Buku Kepak Sayap Putri Prajurit yang ditulis Alberthiene Endah )

Kilas balik perjalanan cinta antara SBY dan Ani, dimulai dari saling lirik, saling kagum mengagumi hingga saat keduanya melakukan proses pendekatan, diceritakan SBY, keduanya saling bersurat-suratan. SBY mendekati Ani dengan puisi indah nan romantis berjudul ‘Flamboyan’. “Waktu itu kan ya namanya masih muda dan tidak setiap saat bisa bertemu, agak sulit melihat body language misalnya,” kenang SBY dalam program acara ‘Rosi’ yang pernah disiarkan Kompas TV beberapa waktu lalu. Kala itu, SBY sama sekali enggak merasa malu untuk menulis puisi lewat surat. Selain Flamboyan, banyak puisi indah lainnya dari SBY yang membuat Bu Ani jatuh cinta. Akan tetapi, puisi ‘Flamboyan’ lah yang selalu dikenang.

  Flamboyan telah pergi namun akan tetap hidup di hati kita semuanya, rakyat Indonesia yang mencintainya,  demikian sepenggal sambutan Presiden Joko Widodo pada waktu pemakaman melepas kepergian Ani Yudhoyono dalam upacara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan minggu 02 Juni 2019. Flamboyan Ternyata itu adalah  puisi  yang  ditulis oleh SBY  pada 25 Januari 2004 dimana SBY  menuliskan puisi  itu untuk menggambarkan tentang bagaimana perasaan seorang prajurit dibuat tersentuh oleh bunga flamboyan yang bermekaran di halaman kampus. Saat itu, di halaman Akademi Militer Nasional, Magelang, memang ditumbuhi banyak pohon flamboyan.

Bapak Presiden Jokowi menggambarkan ibu Ani sebagai flamboyan yang telah pergi namun ia tetap di hati. Ucapan ini bisa kita maknai sebagai, doa, harapan sekalipun secara fisik jasadnya telah mati namun keteladan kasih, perhatian, pemikirannya ide dan gagasan mulia tetap hidup selamanya.

Harumnya bunga Flamboyan yang semerbak mewangi identik sekali dengan harumnya berbagai kenangan indah yang telah banyak digoreskan oleh Bu Ani selama hidupnya dalam membangun Indonesia. Sangat banyak sekali aktivitas dan kegiatan yang telah beliau persembahkan untuk masyarakat Indonesia. Nama almarhumah Bu Ani juga begitu harum seperti yang diucapkan oleh masyarakat, sahabat, pejabat dari seluruh Indonesia dan bahkan dari luar negeri.

Sang Flamboyan, walaupun raganya telah pergi, namun jasa dan kenangan bersamanya tidak akan pernah dilupakan, namamu akan tetap abadi dihati dan jiwa seluruh rakyat Indonesia. Semangatmu, jiwa sosialmu, ketangguhanmu, kasih sayangmu, kerendahan hatimu, keramahanmu, dan kecintaanmu pada rakyat Indonesia akan selalu terpatri, engkaulah sang panutan, wanita Hebat Indonesia. Keberhasilan beliau dalam mendampingi perjalanan karier suami serta mendidik kedua putranya adalah suatu bukti suri Tauladan bagi bagi wanita Indonesia.

Kepemimpinan SBY selama dua periode memerintah (2004-2014) dilalui dengan berhasil, salah satunya karena dukungan dari Ibu Negara, Ani Yudhoyono.

Pengamat Komunikasi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar Dr Hadwiah Hatita mengatakan sosok mendiang Ani Yudhoyono merupakan figur Ibu Bangsa Indonesia yang mendampingi suami dalam tugas negara maupun sebagai ibu bagi anak-anaknya.

“Ibu Ani dengan latarbelakang sarjana Sospol mampu mengimplementasikan ilmunya dalam mendampingi suami melaksanakan tugas negara saat menjabat presiden, maupun mendorong anak-anaknya berkiprah di dunia politik,” kata Hadawiah di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (2/6).

Menurut dia, peran selaku ibu negara saat mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai presiden ke-6 ketika itu, sangat kental dan menyatu dengan tugas-tugas yang diembannya. bahkan momen demi momen selalu diabadikan melalui jepretannya.Tidak sedikit Ani mengangkat kehidupan sosial melalui foto dan kunjungannya baik mendampingi SBY ataupun tugasnya sebagai ibu negara. Dengan kemampuan dan instink jurnalistiknya, foto-foto hasil karya Ani Yudhoyono mampu menerjemahkan kondisi yang terjadi di lapangan. ”Komunikasi sosial dan komunikasi politik dikuasai oleh Ibu Ani dan itu keluar secara alamiah selaku sosok yang peka terhadap lingkungan,” kata Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMI ini.

Tak heran, dalam perjalanannya mendampingi suami dan anak-anaknya, visi dan misinya itu mampu mempermudah dan memacu kinerja suami maupun anaknya yang berkiprah di dunia politik.Berkaitan dengan hal itu, lanjut alumni pascasarjana Universitas Padjajaran ini, putri Jenderal yang rendah hati ini layak menjadi figur Ibu Indonesia yang patut menjadi suri teladan bagi yang lainnya.

Pandangan senada disampaikan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menilai, Ani Yudhoyono berperan penting selama 10 tahun menjadi Ibu Negara mendampingi Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau akan tetap dikenang oleh bangsa Indonesia dan akan dicatat dalam perjalanan sejarah bangsa bahwa kita pernah mempunyai seorang ibu negara yang harmonis dan memberi dukungan kuat kepada SBY,” ujar Mahfud, Sabtu (1/6).

Menurut Mahfud, peran Ani sebagai ibu negara membuat SBY dapat melaksanakan tugasnya memimpin negara. Keberhasilan SBY dalam kepemimpinannya, kata Mahfud, tidak terlepas dari dukungan Ibu Ani. Tidak hanya menjadi ibu negara yang baik, Ibu Ani juga menjadi istri dan ibu terbaik bagi keluarganya.

 

Bapak Presiden Jokowi menggambarkan ibu Ani sebagai flamboyan yang telah pergi namun ia tetap di hati. Ucapan ini bisa kita maknai sebagai, doa, harapan sekalipun secara fisik jasadnya telah mati namun keteladan kasih, perhatian, pemikirannya ide dan gagasan mulia tetap hidup selamanya.

Harumnya bunga Flamboyan yang semerbak mewangi identik sekali dengan harumnya berbagai kenangan indah yang telah banyak digoreskan oleh Bu Ani selama hidupnya dalam membangun Indonesia. Sangat banyak sekali aktivitas dan kegiatan yang telah beliau persembahkan untuk masyarakat Indonesia. Nama almarhumah Bu Ani juga begitu harum seperti yang diucapkan oleh masyarakat, sahabat, pejabat dari seluruh Indonesia dan bahkan dari luar negeri.

Sang Flamboyan, walaupun raganya telah pergi, namun jasa dan kenangan bersamanya tidak akan pernah dilupakan, namamu akan tetap abadi dihati dan jiwa seluruh rakyat Indonesia. Semangatmu, jiwa sosialmu, ketangguhanmu, kasih sayangmu, kerendahan hatimu, keramahanmu, dan kecintaanmu pada rakyat Indonesia akan selalu terpatri, engkaulah sang panutan, wanita Hebat Indonesia. Keberhasilan beliau dalam mendampingi perjalanan karier suami serta mendidik kedua putranya adalah suatu bukti suri Tauladan bagi bagi wanita Indonesia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via