Frederikus Gebze, Sosok Pemimpin Yang Sarat Prestasi ( Bagian 1 )

Frederikus Gebze, Sosok Pemimpin Yang Sarat Prestasi ( Bagian 1 )

FREDERIKUS GEBZE, SOSOK BUPATI  YANG RENDAH HATI NAMUN SARAT DENGAN PRESTASI KINERJA FENOMENAL ( BAGIAN 1 )

Oleh : Max Abner Ohee, S.IP

( Ketua DPD Povinsi Papua BARISAN MERAH PUTIH )

Sesuai dengan dinamika perkembangan politik dan pembangunan di Indonesia di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, dinamika pembangunan dan politik di Papua juga ikut berkembang. Sudah menjadi hokum mutlak bahwa pembangunan dan politik itu sangat berkorelasi erat seperti dua sisi mata uang. Salah satu contoh yang perkembangan politik dan pembangunan yang cukup hangat adalah rencana tentang pembentukan Propinsi Papua Selatan, Provinsi Papua Tengah serta Propinsi Tabi. Yang sudah bisa dipastikan yang duluan akan segera direalisasikan oleh Kemendagri adalah Provinsi Papua Selatan. Hal ini terlihat dari beberapa pernyataan Bp. Jenderal(Pol) Tito Karnavian dan Presiden Joko Widodo di media massa yang sudah menyetujui pembentukan Provinsi Papua Selatan tersebut.

Riak-riak kecil atau suara-suara masyarakat Papua ataupun tokoh Papua yang tidak setuju dengan rencana pemekaran Propinsi Papua Selatan itu memang ada. Tapi begitulah kondisi di Papua, selalu ada saja yang tidak setuju dengan alasan bernagai sudut pandang mereka sendiri. Bahkan juga banyak kepentingan-kepentingan primodial yang secara logika sulit untuk menerima alasan dari keberatan mereka itu.

Mengapa Kabupaten Merauke sepertinya “seolah-olah”  sangat istimewa dimata para pimpinan negara di Pusat ? tentunya ada bukti-bukti nyata suatu prestasi pembangunan yang telah dilakukan di Kabupaten Merauke tersebut. Kabupaten Merauke memang bergeliat dengan pesat bahkan go Internasional sejak dipimpin oleh Bp. Frederikus Gebze, S.E, M.Si di periode 2016-2020.

Berkat tangan dingin dan kerja keras Bp. Frederikus Gebze membenahi aparatur dan system pemerintahan di Kabupaten Merauke, berbagai pembangunan yang fenomenal dapat terlaksana dengan baik di Kabupaten Merauke.

Semua itu tidak datang begitu saja, pasti harus ada kerja keras dan kerja cerdas yang dilakukan oleh Bp. Frederikus Gebze dialam upaya membangun Kabupaten Merauke dan mensejahterakan masyarakatnya. Tidak jarang ketika dalam perjalanan membangun kabupaten Merauke tersebut, Bp. Frederikus Gebze juga mendapat serangan dan upaya pembunuhan karakter dari para lawan politiknya. Namun Bp. Frederikus Gebze terus berjalan dan bekerja keras secara cerdas untuk membangun daerah yang dia pimpin dan sekaligus ingin mensejahterakan rakyatnya. Kerjasama yang baik dan komunikasi yang baik dengan pemerintah pusat terus digalang, untuk memberikan masukan tentang kondisi-kondisi yang di Kabupaten Merauke.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa dalam SDM, Propinsi Papua memang sangat tertinggal dengan provinsi lainnya di Indonesia. Namun berkat kegigihan Bp. Frederikus Gebze didalam memimpin Merauke, SDM yang handal secara perlahan bisa dibentuk sehingga dapat melaksanakan semua program pembangunan dengan baik.

Masyarakat Malind Anim di Merauke bukan hanya hidup dari alam, namun hidup bersama alam. Kelestarian alam adalah kelestarian Marind Anim, kelestarian Merauke, kelestarian Indonesia. Roda pembangunan bergerak di Bumi Animha ini sejak zaman Hindia Belanda Abad 20 hingga era merdeka Abad 21 sekarang. Termasuk pembangunan yang memanfaatkan alam. Dari laut, tepi pantai, kota, hingga hutan di pelosok pedalaman, pemanfaatan alam oleh manusia bukan hal baru bagi masyarakat Merauke.Banyak saudara dari luar pulau, hingga perusahaan lintas negara, turut menggerakkan roda pembangunan di Merauke.

Jokowi Ingin Sawah 1,2 Juta Ha

Soal potensi lahan di darat, Merauke adalah penghasil tanaman padi terbesar di Provinsi Papua. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi mencapai 153.661,09 ton pada 2015. Kurik adalah salah satu distrik penghasil padi terbesar di Merauke. Ada pula Distrik Tanah Minging, Semangga, hingga Malind yang juga menghasilkan padi dari sawah-sawah yang luas. Merauke menjadi lokasi pengembangan industri tanaman pangan berskala raksasa atau food estate.

Penetapan Kabupaten Merauke, Papua, sebagai lumbung pangan nasional oleh pemerintah, dinilai sudah tepat. Kabupaten Merauke masih memiliki lahan yang sangat luas untuk membuka kembali areal sawah. Potensi pertanian Merauke juga luar biasa.

Anggota Komisi IV DPR RI Saniatul Lativa mengatakan hal tersebut di Merauke, usai mengikuti rangkaian kunjungan kerja ke kabupaten paling timur Indonesia itu, Sabtu (12/11).

“Merauke punya potensi pertanian yang luar biasa. Sudah tepat pemeritah menetapkan Merauke sebagai lumbung pangan nasional. Belanda sendiri dahulu membangun pengairan sawah di lintang selatan, karena potensinya lebih besar daripada lintang utara.” ( Saniatul Lativa )

Komisi IV melihat dari dekat pembukaan lahan untuk cetak sawah baru di Distrik Kurik, tepatnya di Kampung Salor, Merauke. Di sektor A ada 163 hektar lahan yang sudah ditanami dari usulan luas lahan 338 hektare. Secara keseluruhan di tiga distrik di Merauke ada 2000 hektare lahan yang dibuka dan 1.086 hektare diantaranya sudah ditanami. Tinggal persoalan yang dihadapi adalah infrastruktur pertanian seperti irigasi dan jembatan.

Sani menambahkan, Komisi IV akan terus mendorong agar kekurangan yang terlihat di lapangan bisa segera diatasi. Di Distrik Kurik ternyata masih mengadalkan irigasi tadah hujan. Kanal-kanal untuk menampung air hujan di sekitar areal swah dibangun. Tapi irigasi ini hanya bersifat sementara, tidak bisa untuk jangka pangjang. Harus dibangun sistem irigasi terpadu.

“Kalau menurut ahli, air harus diambil dari Kabupaten Boven Digul yang bersebelahan. Memang anggarannya untuk proyek inin sangat besar. Tapi, harus kita pikirkan, kalau ini berhasil, hasilnya pun sangat besar dan manfaat ekonomi bagi masyrakt di sini sangat luar biasa,” ( Saniatul Lativa )

Dinas Pertanian (Distan) Merauke, Papua, melakukan panen padi bersama di penghujung 2018 yang merupakan bagian kegiatan pengembangan padi organik, Lumbung Pangan Berorienatsi Ekspor Wilayah Perbatasan (LPBE-WP) di Kampung Wasur, Distrik Merauke, Kabupaten Merauke.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Papua, Dr. Ir. Muhammad Thamrin, M.Sc, dalam keterangan tertulis, Selasa (18/12), menyampaikan, untuk mendukung program tersebut, tahun ini Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan kegiatan pengembangan padi organik untuk Merauke seluas 800 hektare.

Lahan seluas 800 hektare tersebut, lanjut Thamrin yang juga menjadi Penanggung Jawab UPSUS Pajale Papua, disebar di delapan distrik yaitu Merauke, Naukenjerai, Semangga, Tanah Miring, Kurik, Malind, Waan, dan Sota.

Bupati Merauke, Frederikus Gebze; didampingi Thamrin, Kepala Dinas Pertanian Merauke, Edi Santoso, B.Sc, Kepala Bulog Sub Divisi Regional Merauke, Ir. Yudi Wijaya; dan Kepala Stasiun Klimatologi Tanaha Miring, Sulaiman, S.Si secara simbolis melakukan panen padi varietas Inpari 32 HDB di lahan kelompok tani Tabur Tuai, Senin (17/12) yang sehari sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) telah melakukan ubinan di lahan tersebut diperoleh hasil 8,04 ton per hektare gabah kering panen (GKP).

Dalam sambutannya, Frederikus Gebze menyampaikan, panen tersebut membuktikan bahwa Merauke mampu tanam-panen hingga tiga kali setahun pada lahan tadah hujan sekaligus menepis keraguan akan potensi besar Merauke.

“Tidak ada alasan tidak menanam padi pada musim kemarau. Jangan biarkan sejengkal tanah diterlantarkan tanpa tanaman. Dengan dukungan infrastruktur pengairan dan mesin olah tanah-panen yang optimal, indeks pertanaman wilayah lain dapat ditingkatkan,” ( Frederikus Gebze )

Saat ini, luas baku lahan sawah di Merauke tercatat 34.357 hektare dengan luas tanam padi pada tahun 2018 mencapai 56.000 hektare. Dengan pendekatan perbaikan infrastruktur pengairan dan dukungan alat-mesin (alsin), maka indeks pertanaman dapat meningkat serta luas tanam padi setahun dapat naik 70.000-100.000 hektare.

Peningkatan luas tanam ini akan berkorelasi dengan produksi beras per tahun, surplus untuk kebutuhan lokal sehingga dibutuhkan pasar untuk beras Merauke. Papua New Guenia (PNG) yang wilayahnya berbatasan darat dengan Merauke merupakan potensi besar untuk perdagangan beras Merauke. Jarak antar kedua wilayah yang berdekatan menyebabkan efisiensi dalam pemasaran beras dan hasil pertanian lainnya.

Menurutnya, membangun Merauke, membangun Indonesia dari pinggiran, penguatan serambi ujung timur Indonesia melalui sektor pertanian. Kemajuan pangan di daerah ini menjadi penopang ketahanan pangan dari wilayah timur.

Merauke Kembali Ekspor Beras Ke Mancanegara

Kementerian Pertanian (Kementan) bersama pemerintah Kabupaten Merauke bersinergi tingkatkan ekspor non migas. Sebanyak 12 ton beras yang berasal dari kota diujung timur negeri tersebut dilepas menuju negara Papua Nugini. Selain itu ada juga ekspor plywood 6.126 m3 tujuan Oman dan UEA. Kepala Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanan (Barantan), Sri Yulianto mengatakan bahwa Merauke adalah salah satu lumbung padi di tanah cendrawasih.

“Diawali saat pak Mentan, eksport perdana beras ke Papua Nugini pada 2017, produksi padi di Merauke terus meningkat,”  ( Sri Yulianto )

Menurut Sriyanto, dari data yang tercatat di Barantan bahwa selain padi, Merauke juga memiliki produk unggulan ekspor diantaranya gambir, kopra dan gaharu. Potensi tersebut pada 2018 tercatat sebesar 2.646,15 ton atau senilai Rp 66 M untuk komoditas gambir. Sementara itu untuk kopra, dalam triwulan pertama tahun 2019, tercatat 89 ton dengan nilai Rp 3,1 M. Sedangkan ekspor gaharu pada triwulan pertama juga tercatat sebanyak 6,9 ton dengan nilai ekonomi sebesar Rp 2 M.

Secara keseluruhan, Provinsi Papua sendiri punya banyak potensi komoditas pertanian yang dapat optimalkan. Potensi tersebut menurut data Kementan, pada tahun 2018 Provinsi Papua telah melakukan ekspor komoditas pertanian dengan nilai 8.200.925,6 USD atau sekitar Rp. 114,81 M. Yang terdiri dari komoditas unggulannya diantaranya kelapa sawit, gandum, biji moster, susu, kacang mede, lemak, pakan hewan, gula tebu, kakao dan kedelai bahkan hingga komoditas tomat, cabai, jagung dan umbi kayupun diekspor hingga mancanegara.

Sriyanto menegaskan bahwa, acara pelepasan ekspor tersebut ditujukan agar masyarakat dan instansi terkait mengetahui potensi yang ada di daerahnya dan diharapkan bisa saling bahu menbahu mengangkat potensi tersebut. Barantan lewat program Agro Gemilang (Ayo Galakkan Ekspor Generasi Millenial Bangsa) juga menurutnya bisa membantu para calon eksportir agar dapat menyiapkan komoditasnya sesuai persyaratan SPS (sanitary dan phytosanitary) dari negara tujuan.

“Para calon eksportir dapat mengikuti berbagai pelatihan menyiapkan komoditas yang sesuai dengan persyaratan negara tujuan,” ( Sri Yulianto )

Muhammad Musdar, Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Merauke menambahkan pelatihan Agro Gemilang akan dilakukan oleh Karantina Merauke secara bertahap, dengan tujuan agar dapat mencetak para eksportir baru. Menurutnya pelatihan yang dilakukan bersifat terbuka dan tidak dipungut biaya. Bahkan ia juga menjelaskan jika ada calon eksportir yang membutuhkan bimbingan khusus dapat juga melakukannya secara mandiri ke petugas atau kantor Karantina Merauke.

Pada April 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memunculkan ide Merauke Integrated Rice Estate (MIRE). Tahun 2008, MIRE berubah nama menjadi Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Presiden Joko Widodo  melanjutkan proyek besar-besaran ini.

Presiden Jokowi menghadiri panen raya padi di area 300 hektare, Kampung Wapeko, Distrik Kurik, Merauke, pada 10 Mei 2015 lampau. Dia melihat potensi luas lahan yang bisa dimanfaatkan dalam rangka MIFEE, luasnya 4,6 juta hektare. 1,2 Juta hektare dari luas itu untuk pertanian padi.

Kapsul Waktu

Hari Jumat, 16 November 2018, Presiden Jokowi meresmikan monumen di tanah selatan Papua itu. Bernama Monumen Kapsul Waktu, bangunan ini menyimpan impian, harapan, dan cita-cita anak bangsa akan Indonesia 70 tahun mendatang. Memiliki bentuk yang menyerupai markas Avengers, ternyata Monumen Kapsul Waktu punya cerita tersendiri dalam masa penentuan desainnya. Hal ini diungkapkan oleh Yori Antar, sang arsitek Monumen Kapsul Waktu. Gagasan desain Monumen Kapsul Waktu terinspirasi dari berbagai elemen pertahanan suku-suku di Papua yang akan menjaga cita-cita bangsa Indonesia.

Secara garis besar, ada dua elemen utama yang penting bagi pertahanan suku di Papua, yaitu tombak dan tameng (perisai). Di puncak Monumen Kapsul Waktu, terdapat sebuah spot bertajuk Watching Tower yang menjadi tempat persemayaman kapsul waktu. Kapsul waktu akan ditempatkan di sebuah mangkuk besi berbentuk bulat yang dikelilingi mahkota menara kayou, yang di bawahnya akan diisi relief kronologi pembentukan Pancasila.

Kapsul waktu merupakan sebutan bagi tabung besi yang berisi catatan tentang impian dan harapan anak-anak Indonesia yang berasal dari 34 provinsi di Indonesia yang dikumpulkan oleh ekspedisi milik pemerintah pada tahun 2015. Kapsul waktu itu kemudian akan disimpan selama 70 tahun dan akan dibuka pada 17 Agustus 2085, saat merayakan kemerdekaan Indonesia. Berlokasi di depan Kantor Bupati Merauke dan bandara Mopah, bagian tombak Monumen Kapsul Waktu memiliki lebar 17 meter, tinggi delapan meter, dan panjang 45 meter. Selain mengadopsi bentuk tombak dan tameng yang digunakan masyarakat Suku Papua dalam melindungi diri, Monumen Kapsul Waktu juga mengadopsi unsur budaya dari segi lokasi. Sebab, Monumen Kapsul Waktu sengaja dibangun di atas bangunan tugu yang terinspirasi dari menara perang Suku Dani. Untuk memasuki Monumen Kapsul Waktu, ada lima akses yang dapat digunakan oleh pengunjung. Lima akses ini menyimbolkan lima suku asli Merauke yaitu Malind, Muyu, Mandobo, Mappi, dan Auyu.

Menurut penuturan Yori, sebelum desain Monumen Kapsul Waktu yang telah diresmikan tersebut dikerjakan, bangunan di tanah Merauke itu telah mengalami beberapa tahap pengajuan dan perubahan ide. Awalnya, Monumen Kapsul Waktu tadinya hendak dibuat menyerupai kontur persawahan, mengingat Merauke dikenal sebagai lumbung padi di Papua. Kemudian di pusat kawasan kemudian ditanami kapsul waktu berbentuk benih atau biji yang pada malam hari mengeluarkan visualisasi transparan Soekarno-Hatta.  Namun, ternyata gagasan itu kurang dapat memenuhi aspirasi tim Gerakan Nasional 70 Tahun Indonesia Merdeka (G70) yang diselenggarakan oleh Kementerian Sekretariat Negara. Menyikapi hal tersebut, Han Awal & Partners Architects yang menangani proyek ini kemudian membuat gagasan baru.

Gagasan kedua terinspirasi dari wawasan Nusantara yang mengambil batas-batas terluar NKRI yang berisi ribuan pulau, kekayaan adat, suku, budaya, dan keanekaragaman hayati di seluruh pelosok Nusantara.  Monumen itu nantinya berupa ruang terbuka hijau yang disatukan oleh batas air, yang juga menjadi simbol pemersatu sekaligus sumber kehidupan yang menyuburkan Nusantara. Kemudian relief monumen akan mengambil narasi pada Candi Borobudur yang menceritakan perjalanan sejarah dan pencapaian anak bangsa, sehingga menjadikannya sebagai Candi Borobudur Jilid 2.  Sayang, kontur tanah yang cenderung rata tidak memungkinkan bagi desain kedua tersebut untuk dikerjakan. Rancangan desain kedua pun ditinggalkan dan diubah total.  Perubahan-perubahan tersebut dilakukan agar Monumen Kapsul Waktu dapat menjadi bagian dari ruang terbuka dan ruang publik di Kota Merauke serta dapat bertahan hingga tahun 2085.

Dicanangkan secara langsung oleh Joko widodo pada 28 Desember 2015 lalu, Monumen Kapsul Waktu diharapkan bisa menjadi Ruang Publik dan Generator Pembangunan bagi Kota Merauke sekaligus kawasan wisata di masa mendatang sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat banyak. Dengan diresmikannya Monumen Kapsul Waktu oleh Presiden Jokowi, monumen yang ditengarai mirip dengan markas Avengers tersebut akan segera memulai pekerjaan tahap keduanya, yaitu memberikan ‘roh’. Caranya adalah dengan memberi narasi perjalanan sejarah bangsa melalui Narasi Penggalian Pancasila di bagian tombak.

Narasi Penggalian Pancasila dibuat di area tombak sebagai simbol ideologi NKRI yang perlu dijaga dan dilanjutkan. Kemudian dilanjutkan dengan narasi berikutnya pada bangunan ‘perisai’.  Perisai akan diisi diorama perjalanan dan pencapaian anak bangsa yang dimulai sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dan dilanjutkan hingga 17 Agustus 2015.  Kemudian bagian perisai akan diisi secara periodik hingga saatnya kapsul waktu dibuka dan dibacakan, yaitu pada 17 Agustus 2085.

Sedangkan bagian alun-alun akan digunakan sebagai ruang terbuka hijau dan bangunan penunjang. Misalnya saja toilet, kantor pengelola, dan sebagainya. Area yang terbuka nantinya bisa digunakan sebagai lokasi untuk mengadakan festival budaya bagi masyarakat setempat. Menghabiskan waktu hampir empat tahun, pengerjaan proyek Monumen Kapsul Waktu ditangani oleh banyak pihak. Di antaranya G70, Kementerian Sekretariat Negara, serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sebagai pemberi tugas.

Selain menjadi ruang terbuka publik dan lokasi wisata bagi masyarakat Merauke, Monumen Kapsul Waktu diyakini akan membangkitkan pertumbuhan ekonomi lokal. Gagasan pembangunan monumen ini merupakan bagian dari Gerakan Ayo Kerja yang diinisiasi oleh Abdi Negara sebagai bagian dari civil society, serta disetujui oleh Presiden Jokowi untuk menjadi gerakan bangsa mewujudkan mimpi dan harapan generasi muda menuju Indonesia Maju.

“Pembangunan monumen Kapsul Waktu menunjukkan perhatian dan penghargaan yang besar dari Presiden Jokowi bagi masyarakat Papua, khususnya bagi Merauke,” ( Basuki Hadimuljono )

(BERSAMBUNG)

Table of Contents

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap