Frederikus Gebze, S.E., M.Si : Bekerja dan Bekarya Membangun Merauke, Ekspor Perikanan Perdana 2019

Frederikus Gebze, S.E., M.Si : Bekerja dan Bekarya Membangun Merauke, Ekspor Perikanan Perdana 2019

Frederikus Gebze, S.E., M.Si : Bekerja dan Bekarya Membangun Merauke, Ekspor Perikanan Perdana 2019

Geliat ekspor mulai terasa di Kabupaten Merauke, di akhir tahun 2018 untuk pertama kalinya ekspor perdana Crude Palm Oil (CPO) dilakukan di Kabupaten Merauke yang dilakukan oleh PT. Bio Inti Agrindo dan PT. Bumi Indawa Niaga. Memasuki tahun 2019, geliat ekspor mulai merambah ke sektor perikanan, ekspor perdana produk perikanan Kabupaten Merauke mulai memasuki pasar internasional dengan direalisasikannya ekspor perdana Kepiting Bakau Scylla SP.

Ekspor perdana Kepiting Bakau Scylla SP dilakukan oleh eksportir UD. Mina Maro, jumlah 100 Kg, nilai FOB Rp 18.000.000,00, negara tujuan Singapura, sarana pengangkut Garuda Indonesia GA-659, dengan PEB nomor 000054 tanggal 16 Maret 2019.

Kabupaten Merauke mempunyai potensi hasil pertanian, perkebunan dan perikanan yang sangat potensial, sinergi yang dilakukan oleh KPPBC Tipe Madya Pabean C Merauke dengan instansi terkait rutin dilakukan dengan harapan bisa menjadikan Kabupaten Merauke menjadi lumbung ekspor produk pertanian, perkebunan dan perikanan.

Warga Merauke, Papua Selatan, masih mempertahankan cara tradisional untuk menangkap kepiting. Mereka hanya menggunakan sebuah besi sepanjang 1,5 meter dan parang beserta pelepah daun dan talinya.

Salah satu warga yang berprofesi pencari kepiting adalah ibu Martha. Bersama-sama perempuan lainnya, Martha mempersiapkan diri sejak pukul 05.00 WIT. Selanjutnya mereka berangkat menuju pesisir atau muara sungai.

Jarak muara sungai sekitar lima kilometer dari tempat tinggal mereka yakni Dusun Sasaten. Setiba di pesisir laut, ibu Martha langsung menuju sasaran, tempat kepiting-kepiting bersarang. Tongkat besi itu mulai memainkan peran mencari sasaran.

Dengan kejeliannya, kepiting yang tersembunyi di lubang pasir bisa mereka deteksi. Tak ada kepiting yang telewatkan. Kepiting yang berhasil ditangkap langsung diikat dengan daun yang sudah mereka persiapkan.

Apabila merasa hasil tangkapannya sudah cukup, Ibu Martha dan rekan-rekannya pulang dengan kepiting yang siap dijual. Mereka menjual kepiting ukuran besar sekitar Rp 10 untuk ekornya.

Bupati Merauke, Frederikus Gebze, S.E., M.Si mendorong warga Merauke, Papua Selatan, terutama yang ada di pesisir agar mulai memperhatikan ketersediaan kepiting bakau di alam. Hal ini disampaikan Bupati Frederikus Gebze  dalam rangka antisipasi keberlangsungan komoditas tersebut dengan menjaga jumlah induk kepiting bakau. Harus dipastikan bahwa kepiting-kepiting yang bertelur tidak diambil.

“Saya lihat di Australia itu yang betina tidak diambil sehingga jumlahnya makin banyak di alam. Saya mohon dengan sangat agar bibit di alam dijaga keberadaannya,” ( Frederikus Gebze, S.E., M.Si )

Bupati Frederikus Gebze mengingatkan, ada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan dari Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Melalui aturan tersebut, kepiting bertelur dan kepiting anakan dilarang untuk ditangkap. Dengan begitu, masyarakat didorong untuk mengembangkan ekonomi kelautan berbasis kearifan lokal, salah satunya dengan konsep 3S, Sungai, Sampan, dan Sagu.
Dalam hal kepiting bakau, Frederikus Gebze berharap masyarakat bisa mulai menerapkan konsep tersebut dan memanfaatkan lahan mangrove sebagai habitat kepiting.

“Kepiting-kepiting dimasukkan ke dalam alat yang bernama crab ball lalu diletakkan atau dikaitkan pada pohon mangrove. Sistem ini cocok untuk nelayan atau pembudidaya bermodal kecil karena sangat ekonomis,” ( Frederikus Gebze, S.E., M.Si )

Untuk jangka panjang, juga dapat berpengaruh terhadap kelangsungan keberadaan kepiting bakau sebagai satwa endemik yang ada di Kabupaten Merauke dan Papua Selatan. ( Jeje Sri Rejeki )

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap