FREDERIKUS GEBZE QOUTES ” NEGERI ANIMHA, NEGERI YANG KAYA “

FREDERIKUS GEBZE QOUTES ” NEGERI ANIMHA, NEGERI YANG KAYA “

Kabupaten Merauke sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Papua yang luasnya mencapai 4.469.841 ha memiliki lahan yang potensial untuk pengembangan komoditas pertanian.  Sejak diluncurkannya proyek Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) pada tahun 2010, Kabupaten Merauke mulai mempersiapkan diri untuk menjadi jawaban dari permasalahan pangan di Indonesia.  Kemudian dilanjutkan program  Nawacita yang digagas oleh Presiden Joko Widodo, Kabupaten Merauke menjadi kawasan ekonomi khusus dengan ribuan hektar sawah baru siap digarap dan diproyeksikan untuk mendukung program  swasembada pangan. Berdasarkan data BPS, sejak tahun 2015 hingga pertengahan 2018, Kementerian Pertanian telah mencetak sebanyak 7.915 ha lahan sawah baru dengan produktivitas rata-rata 4.5 – 5 ton/ha.

Pencapaian ini merupakan sebuah  hal signifikan bagi Kabupaten Merauke yang saat ini menjadi sentra produksi beras dari Bumi Cenderawasih. Bahkan sebanyak 80 % kebutuhan beras di Papua saat ini dipasok langsung dari Merauke. Tidak hanya itu, pada triwulan pertama tahun 2019, Merauke juga telah mampu membukukan ekspor beras sebanyak 12 ton ke Papua Nugini bersama beberapa komoditas lainnya seperti  Gambir (2.646 ton), Kopra (89 ton) dan Gaharu (6,9 ton).

Tantangan Infrastruktur 

Perjalanan menjadi salah satu lumbung padi nasional tidaklah mudah. Berbagai upaya dan sinergi terus dilakukan semua pemangku kepentingan (stakeholder) guna menjamin keberlanjutan produktivitas pertanian. Infrastruktur pertanian menjadi bagian penting yang tidak perpisahkan dalam upaya-upaya menjaga stabilitas dan produktivitas pertanian tersebut.  Di Kabupaten Merauke, setidaknya ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.

Pertama adalah optimalisasi sistem irigasi untuk pengairan.  Keberadaan irigasi di Merauke  dinilai penting karena akan memudahkan persediaan air yang bisa meningkatkan produksi hasil tanam hingga tiga kali selama satu tahun yang selama ini masih dominan bergantung dari sistem tadah hujan.

Selain itu, dalam menentukan rancangan jaringan irigasi untuk penyediaan air, perlu dilakukan analisa mengenai pola drainase, tata letak, dan hidrotopografi dari sumber air. Berdasarkan data yang diperoleh, kemudian dapat ditentukan sistem penyediaan air irigasi akan berupa bendungan  dari sumber air sungai atau dengan sistem pompa  dari sumber air rawa.

Kedua adalah ketersediaan pupuk. Pupuk merupakan salah satu instrumen penting dalam meningkatkan produksi pangan. Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena kelangkaan pupuk (terutama pupuk bersubsidi) masih terjadi di beberapa wilayah di Merauke dan mempersulit petani dalam proses produksi. Oleh karena itu, perlu adanya strategi dan sinergi yang komperhensif untuk menjamin ketersediaan pupuk untuk petani.

Ketiga adalah perluasan lahan yang sesuai dengan kaidah-kaidah penghormatan atas tanah adat. Tersedianya lahan untuk produksi pangan yang masih luas di Kabupaten Merauke bukan berarti ekspansi lahan dapat dilakukan secara membabi buta.

Lahan pertanian yang akan dikembangkan di Kabupaten Merauke pada umumnya merupakan tanah ulayat dengan kepemilikan secara komunal yang melibatkan komunitas dalam pengambilan keputusan atas tanah tersebut. Komunikasi dan sosialisasi perlu dibangun sejak awal dengan terbuka tanpa adanya paksaan dalam mencapai kesepakatan.

Perlu juga dibuat pemetaan lanskap untuk menentukan zonasi-zonasi yang disepakati bersama dengan para pemilik tanah ulayat seperti hutan konservasi, hutan berburu, hutan sagu, lahan sakral, dsb agar tidak muncul permasalahan mengenai lahan dimasa mendatang.

Keempat adalah adanya infrastruktur pendukung distribusi dan pemasaran. Kabupaten Merauke merupakan wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Hal ini menandakan bahwa jaringan infrastruktur di wilayah tersebut masih belum optimal.

Oleh karena itu, untuk mendukung distribusi dan pemasaran hasil pertanian, perlu adanya akses jalan, jembatan, dermaga, dll yang memungkinkan konektivitas antar wilayah menjadi lebih mudah. Apalagi jika surplus hasil pertanian dari Merauke akan diekspor ke luar negeri.

Pepatah mengatakan bahwa ” usaha tidak akan mengkhianati hasil “. Merauke saat ini memerlukan dukungan dari banyak pihak untuk terus meningkatkan kapasitasnya sebagai lumbung padi nasional. Oleh karena itu, kontribusi sesederhana apapun sangat diharapkan untuk mendukung produktivitas pertanian di Kabupaten Merauke demi kemajuan Pertanian Indonesia.

Berbicara tentang Papua, provinsi di timur Indonesia ini juga tak terlepas dari berbagai polemik dan potensi yang tersimpan di dalamnya. Tanah Cendrawasih ini masih bergelut dalam kehidupan prasejahtera. Badan Pusat Statistik (BPS) Papua mencatat, jumlah penduduk miskin di Provinsi Papua sebesar 27,76 persen (910.420 jiwa) dari total penduduk 3,28 juta pada September 2017. Sekitar 1 dari 3 orang Papua hidup di bawah garis kemiskinan.

Namun, di sisi lain, solusi pengentasan kemiskinan tersebut juga berada di tanah Papua sendiri. Papua memiliki potensi kekayaan alam yang luar biasa, salah satunya terletak di Kabupaten Merauke sebagai penghasil tanaman padi terbesar di Provinsi Papua. Pada 2017, Kota Rusa ini memproduksi 208.206,38 ton padi dengan luas sawah 29.250 ha. Produksi ini meningkat dari tahun sebelumnya, menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan nasional.

Margono, petani Merauke yang sudah bertani hampir 30 tahun, merasakan potensi besar pertanian Merauke. “Tanah di Merauke ini berbeda dengan di Jawa. Di sini tanahnya datar, lahan basah dan subur. Dulu kalau tidak terlalu dipupuk pun masih menghasilkan padi yang menjanjikan,” ujar Margono.

Luasnya lahan pertanian di Merauke berpengaruh pada sitem penggarapan lahan tersebut. Satu petani di Merauke dapat menggarap 2 sampai 5 ha sawah. Dalam kondisi panen yang bagus, petani bisa menghasilkan sekitar 100-an ikat karung. Satu ikat biasanya seberat 45 sampai 50 kg.

“Potensi ini sangat menjanjikan, insya Allah ke depannya bagus. Kebutuhan pangan Merauke sendiri sudah terpenuhi. Saat ini kita jual ke daerah seperti ke Asmat, Tanah Merah, Jayapura, dan Wamena. Di daerah-daerah itu sebagian masyarakatnya sudah mulai mengkonsumsi beras bukan lagi sagu,” ungkapnya.

Margono menjelaskan, salah satu potensi besar pertanian di Merauke ini terletak di Distrik Kurik, Kabupaten Merauke. Pada 2017, distrik ini menyumbang padi terbesar dibandingkan distrik lain yaitu sebesar 63.635,7 ton.

Namun, potensi yang besar tidak sebanding dengan kebutuhan petani di sini. Selain masih kekurangan alat untuk pengairan dan pertanian, para petani juga terkendala modal yang menyebabkan meraka harus meminjam modal dari penggilingan atau bank.

“Biasanya minjam ke penggilingan atau bank dengan bunga rendah. Bisa untuk pembelian obat-obatan atau pupuk. Kalau panen bagus, Alhamdulillah hutang bisa dibayar. Kalau panen nggak bagus, ya kita hutang lagi. Jadi ya hidup gali lubang tutup lubang,” tutur Sutarno, petani di Kampung Ivimahad, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke.

Melihat kondisi inilah, tim Global Wakaf menggulirkan program Desa Wakaf yang dimulai dari Kampung Ivimahad. Eka Setiawaty selaku Supervisor Program Desa Wakaf menuturkan, keberadaan Desa Wakaf di Merauke tidak hanya sebagai bentuk membangun ketahanan pangan tetapi juga untuk memberdayakan dan mensejahterakan para petani.

“Alhamdulillah program ini sudah berjalan selama sekitar 6 bulan. Kita lakukan pendampingan dan pembinaan mulai dari sebelum pembibitan sampai panen ini. Kebutuhan-kebututuhan petani terkait modal, pupuk maupun alat pertanian kita sediakan bersama mitra. Para petani sangat terbantu,” ucapnya.

Sejak program Desa Wakaf ini digulirkan, 19 petani didampingi dan dibina oleh Global Wakaf. Tidak hanya memenuhi kebutuhan untuk bertani, program ini juga memperhatikan kebutuhan rohani dan ilmu untuk petani binaan dengan dilakukannya pengajian dan FGD sekali setiap bulannya. Petani didorong untuk selalu ingat dengan campur tangan Allah.

Pemberdayaan petani Merauke melalui program Desa Wakaf ini diharapkan mampu mengurangi masalah yang sering dihadapi oleh para petani sehingga dapat fokus untuk menghasilkan pertanian yang berkualitas. Dengan begitu impian untuk menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan dapat diwujudkan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap