FREDERIKUS GEBZE ” POTENSI PARIWISATA KABUPATEN MERAUKE “

FREDERIKUS GEBZE ” POTENSI PARIWISATA KABUPATEN MERAUKE “

POTENSI WISATA KABUPATEN MERAUKE

Saya agak semangat jika menulis tentang potensi wisata Kabupaten Merauke, Papua. Mungkin karena letaknya yang paling Timur Indonesia, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum begitu mengenal sensasi wisata yang lain daripada yang lain.

Kondisi alam Merauke yang mirip dengan Australia Utara membuat wilayah ini sedikit berbeda dengan wilayah lainnya di Papua secara umum. Beberapa jenis binatang khas yang ada di Australia bisa dengan mudah ditemui di wilayah ini, seperti kangguru maupun rusa. Banyaknya rusa yang hidup di wilayah Merauke juga menjadi ikon tersendiri bagi kota ini sehingga Merauke sering disebut sebagai Kota Rusa.

Populasi rusa yang sangat banyak di Merauke juga turut berpengaruh pada kuliner khas di daerah ini.  Ada banyak menu olahan lezat yang dibuat dari daging rusa, sehingga kamu bisa leluasa menikmati wisata kuliner berbahan daging rusa yang perburuannya dianggap legal di daerah ini. Meski begitu, perburuan rusa secara besar-besaran di wilayah ini tetap diawasi karena dikhawatirkan akan mengurangi jumlah populasi rusa secara drastis. Selain rusa dan kangguru, Merauke juga terkenal dengan hasil kerajinan khasnya yang terbuat dari kulit buaya.

Beberapa Lokasi Wisata yang sangat menarik di Kabupaten Merauke adalah :

1. Taman Nasional Wasur

5 Wisata Seru di Merauke yang Harus Masuk List Wajib Liburanmu

Taman Nasional Wasur adalah tempat pelestarian flora dan fauna, yang berada di kampung Wasur Merauke.  Akses menuju ke sana sangat mudah dengan menggunakan motor atau mobil sekitar satu jam. Kamu bisa melihat sarang semut alias musamus dan kangguru secara langsung. Gak perlu jauh-jauh ke Australia.

Wisata Hits Taman Nasional Wasur Merauke Papua

Buat kamu yang belum tau, musamus adalah ‘pencakar langit’ yang dibangun oleh koloni rayap di Merauke, Papua. Gak di semua tempat kamu bisa nemuin rumah rayap segede ini. Di Negeri Kanguru Australia, mahakarya rayap seperti itu bisa dijumpai di Taman Nasional Litchfield, Northern Territory. Nah, kalau di Indonesia nih, tempatnya cuma di Merauke aja.

Kalo dilihat sepintas, musamus yang merupakan tempat bersarang jutaan rayap agak mirip sama stalagmit yang warnanya merah kecokelatan. Di dalam musamus ada banyak lorong dan rongga, fungsinya sebagai ventilasi. Tujuannya biar suhu di dalam sarang tetep hangat, gak terpengaruh sama suhu di luar.

Di kawasan seluas 400 ribu hektare ini terdapat 403 spesies burung dan 80 jenis mamalia, dan 34 di antaranya adalah satwa endemik Papua.

Di sini terdapat berbagai jenis anggrek langka seperti Yohanes (Dendrobium yohanes), kelinci (Dendrobium antenatum) dan bawang (Dendrobium sp.) Kawasan konservasi ini merupakan Ramsar Site (Situs Lahan Basah) untuk melindungi kelestarian dan fungsi lahan basah di dunia.

Taman Nasional Wasur adalah anggota East Asian Australian Flyway (EAAF) Site Network karena dianggap berperan penting sebagai tempat persinggahan dan tujuan migrasi bagi burung-burung migran.

2. Rawa Biru

5 Wisata Seru di Merauke yang Harus Masuk List Wajib Liburanmu

Rawa Biru masuk dalam wilayah Distrik Sota. Aksesnya tak sulit. Jarak tempuhnya hanya sekitar satu jam dari Merauke. Bagi kamu yang hobi memancing, inilah tempat paling tepat.

Danau Rawa Biru berada di Taman Nasional Wasur yang berlokasi di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Danau Rawa Biru mempunyai daerah aliran sungai seluas 4.791,671 km2. Luas badan air aktualnya adalah 95 Ha.

Danau Rawa Biru merupakan ekosistem amphibius yang sangat dipengaruhi oleh musim. Misalnya pada saat musim hujan, Danau Rawa Biru berubah menjadi aliran sungai (midstream) dan saat musim kemarau Danau Rawa Biru berubah menjadi danau dangkal (shallow lake). Perubahan ekosistem ini akan direspon oleh fitoplankton dan ditunjukkan dengan perubahan distribusi dan kemelimpahan fitoplankton secara spasial dan temporal.

Saran bagi kalian yang ingin mengunjungi Danau Rawa Biru pada bulan September. Karena kalian akan mendapatkan pemandangan yang cukup unik yaitu peralihan musim kering dan basah. Danau Rawa Biru pun mulai mengeluarkan bunga unik di sekitar wilayahnya. Ketika Oktober November, Danau Rawa Biru akan menjadi lebih kering.

3. Pantai Lampu Satu

Pantai Lampu Satu adalah nama pantai tersebut, terletak di kawasan Kampung Buti. Nama yang unik ini terinspirasi dari adanya sebuah mercusuar di sisi pantai ini yang memiliki sebuah lampu sebagai alat penerangnya. Pantai Lampu Satu memiliki bentangan pantainya yang landai dengan garis pantainya yang relatif panjang dan dipagari pepohonan kelapa. Pasir di Pantai Lampu Satu boleh jadi tak seputih mutiara dan fasilitas bagi wisatawan masih tergolong minim. Namun demikian, hal itu tak lantas mengurangi daya tarik pantai ini.
Hasil gambar untuk pantai lampu satu
Sore hari merupakan waktu yang banyak dipilih warga dan kaum muda di Merauke dalam berkunjung dan menikmati suasana ke Pantai Lampu Satu. Perahu-perahu nelayan yang berjajar di tepi pantai, aktivitas para nelayan sebelum melaut, menjadi pemandangan lain yang bisa disaksikan di pantai yang masih alami ini. Matahari terbenam (sunset) di Pantai Lampu Satu juga sebuah momen yang layak dinanti. Proses terbenamnya matahari hingga menghilang di balik cakrawala dapat diikuti dengan jelas oleh bola mata ini dari tepi pantainya. Menuju Pantai Lampu Satu dari Kota Merauke sendiri semudah membalikkan telapak tangan. Wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi atau taksi (angkot) dengan membayar tarif Rp 4.000 dengan waktu tempuh yang sangat singkat, yakni hanya sekitar 5 menit.

4. Pulau Habe

Pulau Habe yg berada di Kampung Wambi, Distrik Okaba, Kabupaten Merauke, Papua merupakan tempat yg sangat sakral bagi orang Marind.

Pulau dgn luas kurang dari 3 kilometer itu memiliki sebuah makam yg dikeramatkan. Selain itu, sejumlah potensi alam sangat menjanjikan & menarik perhatian. Seorang anak adat Kampung Wambi, Rekianus Samkakai menuturkan, Pulau Habe bukan milik perorangan, tetapi milik orang Marind dari tujuh marga.Tapi, orang Wambi menjaga pulau tersebut, karena jarak yg dekat. Selain sakral, Pulau Habe memiliki potensi alam yg memesona & unik, mulai dari pasir putih, air laut berwarna kebiru-biruan, & mutiara di dasar laut. Beberapa satwa jg terdapat di dalam pulau itu, spt burung pombo, ayam hutan & lain-lain. “Ada yg paling unik disini, yaitu sumur. Meskipun dikelilingi air laut, tapi airnya tawar & dapat diminum,” kata Rekianus.

5. Monumen Kapsul waktu

Hasil gambar untuk wisata monumen kapsul waktu merauke

“Markas Avengers” di Merauke Ini Telan Biaya Rp 89,9 Miliar. Monumen Kapsul Waktu menyimpan Impian Indonesia 2015-2085. Memiliki luas 2,5 hektar, lokasi monumen ini berada dekat dengan Bandara Mopah. Keberadaan monumen ini akan menjadi tengara baru bagi Kota Merauke. “Secara fisik bangunan sudah 100 persen untuk bisa diresmikan Bapak Presiden besok pagi. Monumen ini menyimpan pesan-pesan dan harapan anak-anak Indonesia untuk 70 tahun ke depan,” kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dalam keterangan tertulis, Kamis (15/11/2018).
Pembangunan tahap pertama monumen ini dilaksanakan pada 2016, untuk pekerjaan pondasi dengan anggaran Rp 7 miliar. Sementara, pekerjaan tahap dua dimulai pada Juli 2017 dan selesai pada November 2018 dengan anggaran sebesar Rp 82,9 miliar. Seluruh anggaran berasal dari anggaran kegiatan Ruang Terbuka Hijau pada DIPA APBN di Direktorat Jenderal Cipta Karya. Bila diakumulasikan, maka jumlahnya mencapai Rp 89,9 miliar.  Monumen ini berisi impian anak-anak Indonesia yang berasal dari 34 provinsi di Tanah Air.
Hasil gambar untuk wisata monumen kapsul waktu merauke
Seluruh impian tersebut dikumpulkan pada 2015 lalu. “Di setiap provinsi, anak mudanya menulis keinginannya 70 tahun ke depan, yang kemudian disimpan di sini, setelah itu dilas, dan akan dibuka tahun 2085 nanti,” jelasnya. Adapun desain dari monumen ini dirancang oleh arsitek prinsipal Yori Antar Awal dengan mengadopsi unsur budaya Papua. Monumen Kapsul Waktu, Merauke, Papua. Monumen Kapsul Waktu, Merauke, Papua.(Dokumentasi Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR) Kapsul Waktu akan ditempatkan di atas bangunan tugu yang terinspirasi dari menara perang Suku Dani, dengan lima akses masuk bangunan yang merepresentasikan lima suku asli Merauke yaitu Malind, Muyu, Mandobo, Mappi dan Auyu sebagai penjaga tugu kapsul waktu.
Destinasi wisata di Merauke - Markas Avengers (Monumen Kapsul Waktu)
Sementara angka 17, 8, dan 45 yang memiliki makna spesial bagi Indonesia, yakni tanggal, bulan dan tahun kemerdekaan, dipilih sebagai ukuran monumen, yakni lebar 17 meter, tinggi 8 meter, dan panjang 45 meter. Bagian dalam monumen juga dihiasi relief mengenai perjalanan Republik Indonesia, Pancasila, serta kebudayaan Papua. Dari total luas monumen, 1,5 hektar akan digunakan sebagai alun-alun. Selain menjadi ruang terbuka publik dan lokasi wisata bagi masyarakat Merauke, Monumen Kapsul Waktu diyakini akan membangkitkan pertumbuhan ekonomi lokal.

6. Tugu Nol Kilometer

Destinasi wisata di Merauke - Tugu 0 km

Sudah sampai di Merauke, wajib hukumnya buat singgah di tugu 0 km. Tugu tersebut adalah penanda wilayah paling timur di Indonesia. Ide pembuatan tugu 0 km berasal dari komunitas penggemar sekuter Candara Scooter Club Merauke. Mereka mendapat keluhan dari sesama komunitas penggemar sekuter bahwa ketika touring keliling Indonesia dan tiba di Merauke, nggak ada penanda bahwa mereka berada di wilayah paling timur di Indonesia. Dari situlah, tugu 0 km kemudian dibangun.

Tugu 0 km di Merauke punya “saudara” di Sabang yang jadi penanda wilayah paling barat di Indonesia. Adalah Distrik Sota, tempat kamu bisa menemukan tugu 0 km di Merauke. Distrik itu pula yang jadi batas antara Indonesia dan Papua Nugini. Setelah puas selfie di depan tugu 0 km, kamu bisa selfie di depan musamus alias rumah rayap yang lokasinya nggak jauh dari tugu. Musamus di sana unik, lho, karena menjulang tinggi menyerupai menara. Tingginya bisa mencapai 4 meter.

7. Perbatasan Indonesia – Papua Nugini

Seperti yang Mister bilang di atas, Sota adalah distrik di Merauke yang jadi batas antara Indonesia dan Papua Nugini. Itu artinya, saat berada di sana, kamu bisa melihat tanda pembatas dua negara tersebut. Tandanya berupa gapura cokelat bertuliskan, “Good Bye and See You Again Another Day”. Begitu melewati gapura tersebut, nggak lama lagi kamu akan menginjakkan kaki di Papua Nugini.

Sebelum benar-benar berada di Papua Nugini, kamu akan disambut terlebih dahulu oleh Taman Merah Putih. Taman tersebut dibuat secara sukarela oleh Ipda Ma’ruf Suroto, seorang polisi yang sudah puluhan tahun lamanya mengabdi di Sota. Di sekeliling Taman Merah Putih, terlihat beberapa tulisan yang bernada nasionalime, seperti “Bahasa Indonesia Penjaga Persatuan dan Kesatuan NKRI” dan “Untukmu Indonesia, Cintaku Tak Terbatas”.

 

Gambar terkait

Melangkah lebih lanjut melewati taman, kamu akan melihat tugu putih kecil bertuliskan 23 8 60. Itu adalah tanggal, bulan, dan tahun kala para pendahulu menetapkan batas antara Indonesia dan Papua Nugini. Melangkah melewati tugu kecil itu, kamu resmi berada di Distrik Morehead, Papua Nugini. Warga Morehead dan Sota saling hidup rukun. Banyak warga Morehead yang datang ke Sota untuk menjual hasil kebun atau memeriksakan anak mereka di posyandu.

Keluar dari Morehead, kamu akan kembali melewati gapura yang sama seperti yang kamu lewati saat masuk dari Sota. Namun, tulisan yang tertera pada gapura berbeda. Dari arah Morehead, tulisannya berbunyi, “Welcome to Republik Indonesia”.

8. Pantai Payun

Hasil gambar untuk pantai payum merauke

Sebagai kota yang terletak di tepi laut, tak heran bila di sekitar kota Merauke, Papua, memiliki pantai. Selain Pantai Lampu Satu yang sudah lebih dikenal, di sekitar Merauke juga terdapat pantai lain yang tak kalah cantik. Pantai Payum bisa jadi pilihan menarik baik wisatawan di Kota Merauke. Terletak di kawasan Payum, pantai tak jauh dari Kampus Musamus ini juga memiliki daya tarik yang bisa dinikmati oleh wisatawan. Secara umum, suasana Pantai Payum memang tak jauh berbeda dengan Pantai Lampu Satu. Hanya saja, selain memiliki pasir pantai yang berwarna kecokelatan dan pantai yang luas, pantai ini memiliki suasana yang lebih natural, hening. Kala berada di pantai ini, kita bisa menyaksikan samudera luas yang menghilang di balik cakrawala. Pada sore hari, menjelang matahari terbenam, suasananya bakal terasa lebih dramatis. Pantai Payum di Merauke, Papua.Untuk mengunjungi pantai ini pun terasa nyaman karena lokasinya yang dekat dari pusat kota Merauke. Bila sarana transportasi umum jadi pilihan, maka wisatawan dapat menggunakan jasa angkutan kota berwana hijau dengan waktu perjalanan yang singkat. Sejauh ini Pantai Payum memang belum menjadi sebuah destinasi wisata dan bisa dikatakan masih perlu sentuhan. Hal itu nampak dari belum tersedianya fasilitas untuk wisatawan. Namun demikian, dengan bermodal potensi yang dimilikinya serta penataan yang lebih baik, pantai ini dapat menjadi pilihan utama para wisatawan. Bagi pelancong asal Jakarta yang ingin bertandang ke Pantai Payum, perjalanan dapat dilakukan menggunakan layanan penerbangan Merpati Nusantara Airlines, yang melayani penerbangan ke Merauke, Papua sebanyak 3 kali seminggu.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap