Frederikus Gebze, Merauke Fokus Pengembangan Industri Pakan Ternak Pada Tahun 2019

Frederikus Gebze, Merauke Fokus Pengembangan Industri Pakan Ternak Pada Tahun 2019

Frederikus Gebze, Merauke Fokus Pengembangan Industri Pakan Ternak Pada Tahun 2019 Untuk Mendukung Program Ternak Bangkit Merauke

Pengembangan ternak sapi di Kabupaten Merauke dalam tahun 2019 ini akan di optimalkan melalui program yang mengarah ke berbaikan pakan ternak. Kabupaten Merauke saat ini menjadi Kabupaten yang memiliki populasi ternak sapi terbesar di Provinsi Papua namun pengembangan ternak sapi di nilai masih belum optimal meski pemerintah pusat telah meluncurkan Program sapi betina wajib bunting atau Siwab.

Bupati Merauke Frederikus Gebze mengungkapkan untuk mengoptimalkan pengembangan sapi yang Iebih bermutu baik berat badan maupun kualitas daging pihaknya dalam tahun 2019 ini akan melaksanakan program perbaikan pakan ternak dengan menggunakan teknologi.

“Selama ini saat musim kemarau di pastikan ternak sapi masyarakat mengalami kekurangan bahan pangan sehingga menurunkan berat badan dan berpengaruh terhadap nilai jual,”(FREDERIKUS GEBZE )

Program Ternak bangkit diluncurkan Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke sebagai program unggulan untuk menunjang kebutuhan pangan asal hewan untuk Kabupaten Merauke maupun Provinsi Papua pada umumnya. Program ini mencakup daging Sapi dan ayam serta telur karena menjadi kebutuhan utama masyarakat sehingga pemerintah Daerah Kabupaten Merauke melalui Dinas peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke di dukung pemerintah Provinsi Papua  terus melakukan berbagai upaya agar kebutuhan pangan asal hewan dapat di penuhi dari pengadaan lokal.

 

Bupati Merauke Frederikus Gebze menyampaikan, pada kegiatan Panen Pedet hasil Inseminasi Buatan di Kampung Marga Mulya Distrik Semangga  mengakui meski angka kelahiran program inseminasi buatan hanya berkisar 300 ekor lebih dari target seribu ekor di tahun 2016 namun program Inseminasi buatan telah memberikan  manfaat bagi peningkatan populasi ternak di Kabupaten Merauke sekaligus menghemat biaya di bandingkan program pengadaan bibit ternak yang di datangkan dari daerah lain.

Menurut Frederikus Gebze yang menjadi kendala dalam program Inseminasi buatan adalah kurangnya pemahaman peternak terhadap Program Inseminasi Buatan akibat minimnya petugas serta ketidak sabaran peternak dalam merawat induk sapi yang telah di Inseminasi.

Sementara itu Wakil Bupati Merauke Sularso mengatakan Pemerintah siap mendukung berbagai program pembangunan di Merauke termasuk sub sektor peternakan yang saat ini telah menjadi sub sector unggulan di samping tanaman padi. Di katakan adanya program ternak bangkit sejak delapan tahun lalu Kebutuhan daging sapi maupun ayam serta telur untuk masyarakat Merauke dan Kabupaten sekitar telah terpenuhi dari produksi lokal bahkan Kabupaten Merauke telah menjadi pemasok daging sapi ke daerah lainnya.

Wakil Bupati Merauke Sularso mengajak semua komponen pasyarakat khususnya pelaku pembangunan suk sector peternakan untuk terus berkarya meningkatkah kuantitas dan kualitas produksi pangan asal hewan agar minimal mampu memenuhi kebutuhan lokal.

Pemerintah Provinsi secara Khusus memberikan apresiasi terhadap program Ternak bangkit yang di lakukan Pemerintah Kabupaten Merauke. Kepala Dinas Peternakan dan kesehatan Hewan Provinsi Papua Paulus Pasareng mengungkapkan program ternak bangit di Kabupaten Merauke telah memberikan kontribusi positif bagi pemenuhan kebutuhan daging dan telur serta gizi masyarakat, karena sejak adanya program ternak bangkit Kabupaten Merauke tidak lagi mendatangkan telur dan daging ayam dari luar daerah.

Di katakan khusus pengembangan ternak sapi Kabupaten Merauke juga telah mampu meningkatkan populasi baik melalui populasi alami pada tahun-tahun sebelumnya maupun melalui program Inseminasi buatan, sehingga daerah ini mampu memenuhi kebutuhan daging sapi yang aman, sehat, utuh dan halal dengan harga yang dapat di jangkau semua lapisan masyarakat.

Fredikus Gebze berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke terus melakukan berbagai upaya peningkatan populasi dan kualitas produksi pangan asal hewan dengan melakukan inovasi baru baik pengembangan biakan ternak maupun sistim menejemen peternakan agar peternak lebih sejahtera.

Bupati Merauke, Frederikus Gebze, SE, M.Si mengatakan aturan pelarangan untuk memotong sapi induk produktif merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menjaga populasi ternak sapi termasuk di Kabupaten Merauke. Apalagi saat ini pemerintah tengah menggalakan program Sapi Induk Wajib Bunting (Siwab).

“Kalau sapi induk juga dihabiskan, terus mau dapatkan bibit dari mana,” ( Frederikus Gebze )

Menurut Bupati, lebih baik dijaga (populasi,red) sapinya dari pada kita borosknya sapinya. Jika populasi sapi habis, maka untuk bibit saja harus mendatangkan lagi dari luar daerah. Padahal, untuk mendatangkan bibit ternak dari luar daerah itu biayanya cukup mahal.

“Anggarannya cukup mahal, dan pasti anggaran akan tersedot lagi,” ( Frederikus Gebze )

Sementara itu,  telah dilakukan pertemuan antara Dinas Ketahanan Pangan, Kesehatan Hewan dan Peternakan Kabupaten Merauke dengan para pedagang daging sapi serta pihak kepolisian. Adapun tuntutan dari pedagang daging sapi dan jagal yakni revisi Undang-Undang Nomor 41 tahun 2014 pasal 86, revisi Perda Papua Nomor 9 tahun 2002, sediakan pasar hewan, serta solusi sapi betina yang dilarang dipotong dan solusi sapi liar atau celaka. Dari pertemuan tersebut, disepakati bahwa aktivitas pemotongan dan jual beli daging sapi kembali normal, namun tetap sesuai dengan peraturan yang berlaku. Ini dilakukan, karena masyarakat membutuhkan daging sapi saat Bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri. ( Adrian Indra )

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap