Frederikus Gebze, Membangun Merauke Smart City

Frederikus Gebze, Membangun Merauke Smart City

Frederikus Gebze, Membangun Merauke Smart City

Sebuah kota bisa disebut sebagai kota pintar atau smart city jika sudah mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi hingga level tertentu dalam proses tata kelola dan operasional sehari-hari. Integrasi teknologi tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi, membagikan informasi kepada publik, hingga memperbaiki pelayanan kepada masyarakat ataupun meningkatkan kesejahteraan warga.

Smartcity Merauke Mendukung Sepenuhnya Merauke Sebagai Kawasan Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Perbatasan Yang Berbasis Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Peternakan Yang Strategis dan Produktif ( Fredikus Gebze )

Di Indonesia, beberapa kota besar sudah mulai mengadopsi konsep smart city. Sebut saja Jakarta yang memiliki program Jakarta Smart City sejak 2014 lalu. Surabaya juga terus menerapkan inovasi guna menjadi smart city, misalnya dengan menerapkan sistem tilang online bagi pengemudi kendaraan bermotor yang melakukan pelanggaran lalu lintas. Dan sejak tahun 2018 Kabupaten Merauke sudah bisa menerapkan sistem Smart City dengan konsep e-kampung, di Distrik Tanah Miring. Siste inovasi layanan publik tersebut bernama SIMPATIK (Sistem Pelayanan Tiga puluh Detik) meraih penghargaan TOP 99 Top 45 pada tahun 2018 dan Tahun 2019 kategori Inovasi Pelayanan Publik dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia.

Gerakan menuju 100 Smart City merupakan program bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PUPR, Bappenas dan Kantor Staf Kepresidenan. Gerakan tersebut bertujuan membimbing Kabupaten/Kota dalam menyusun Masterplan Smart City agar bisa lebih memaksimalkan pemanfaatan teknologi, baik dalam meningkatkan pelayanan masyarakat maupun mengakselerasikan potensi yang ada di masing-masing daerah.

“Pemkab Merauke akan terus mendorong Kampung Digital dengan membuat Sistem Informasi Kampung, yakni setiap data akan disimpan secara digital, untuk membuat ini bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, karena sampai sekarang belum semua kampung terakses dengan internet ” (Frederikus Gebze )

” Dengan adanya dana kampung yang cukup besar, kampung diharapkan bisa membangun tower sehingga pihaknya tidak lagi membangun tower tersebut namun hanya menyiapkan aplikasinya dan peningkatan sumber daya manusia yang ada di setiap kampung ”  (Frederikus Gebze )

Program Smart City ini adalah sebuah tantangan di era digital yang akan kita hadapi. Tapi, kita Yakin kita mampu dan Bisa seperti daerah-daerah lain yang sudah menerapkan e-government ini” (Frederikus Gebze )

Sebuah kota dapat dikatakan Smart City jika di dalamnya lengkap dengan infrastruktur dasar, juga memiliki system transportasi yang lebih efisien dan terintergrasi. sehingga meningkatkan mobilitas masyarakat. Konsep itu juga menciptakan kualitas hidup masyarakat yang terus meningkat, rumah dan bangunan yang hemat energi, bangunan ramah lingkungan dan memakai sumber energy terbarukan.

Menurut pakar Smart City Winarno, konsep smart city juga menerapkan lingkungan yang lebih lestari karena konsep penganturan limbah dan pengelolaan air yang lebih maju. Tujuan kota pintar juga bagai mana dapat mendatangkan wisatawan sebayak mungkin, menarik investor agar berinvestasi di kota ini, kemudian menarik penghuni baru, bagi mana penghuni baru dari kalangan baik profesional, akademisi, dan usahawan bertempat tinggal di kota kita. Kesemuanya itu tolak kukur nya adalah kota tersebut memiliki daya tarik yang kuat.

Tantangan penerapan smart city di Indonesia

Meski ada banyak pihak yang berusaha mewujudkan smart city, bukan berarti tak ada tantangan untuk mewujudkan konsep tersebut di Indonesia. Salah satu tantangan tersebut adalah harga perangkat yang tinggi dan terbilang sulit diperoleh.

Selain itu, belum semua daerah di Indonesia memiliki infrastruktur yang memadai untuk menunjang pemanfaatan IoT. Menurut Fanky Christian dari DPP Asosiasi Sistem Integrator dan Sekuriti Indonesia (Asisindo), pemerintah daerah setempat perlu menyediakan infrastruktur teknologi informasi sebagai langkah awal mewujudkan smart city. Setelah infrastruktur memadai, setiap daerah bisa membuat semacam data center atau command center.

Tantangan lain yang harus dihadapi adalah mempersiapkan masyarakat untuk menerima perubahan ke arah digitalisasi. Hal ini pernah disampaikan oleh perwakilan Pemerintah Kota Tangerang Selatan, yang menyampaikan pesan bahwa tujuan pengembangan smart city adalah memudahkan pelayanan pada masyarakat. Karena itu, ketika pihak pemerintah sudah menghadirkan layanan berbasis teknologi informasi, masyarakat pun harus sudah siap memanfaatkannya agar pelayanan yang diberikan bisa maksimal. ( Sri Rejeki )

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap