Frederikus Gebze, Membangun Industri Kreatif Merauke

Frederikus Gebze, Membangun Industri Kreatif Merauke

Frederikus Gebze, Membangun Industri Kreatif Merauke

Tempo Institute dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pada Senin, 22 Oktober 2018 memulai program “Pendampingan Komunitas Kreatif Bekraf – Tempo Institute” atau Kombet Kreatif selama tiga hari ke depan di Merauke, Papua. Setidaknya ada 40 pelaku ekonomi dan industri kreatif yang terpilih hadir menjadi peserta di Kantor Bupati Merauke, di jalan Brawijaya.

Kombet Kreatif di Merauke ini akan dibuka oleh Bupati Merauke, Frederikus Gebze dan direktur Tempo Institute, Mardiyah Chamim. Merauke menjadi kota terakhir dari 12 kota yang didatangi program Kombet Kreatif. Yang pertama adalah Kota Padang pada 27-29 September, selanjutnya diikuti oleh Surabaya, Karangasem, Kendari, Maumere, Malang, Bojonegoro, Singkawang, Bandung Barat, Belu, dan Kupang.

Program ini bertujuan mempererat jejaring komunitas kreatif di tingkat kota dan kabupaten. Setiap kota, setiap kabupaten, memiliki kekayaan potensi ekonomi kreatif yang unik dan khas. Merauke sangat kuat memiliki potensi di bidang seni tari, mural, kearifan lokal, dan wisata alam taman nasional yang indah. Komunitas kreatif perlu berjejaring, berkolaborasi dan menjadi pendorong kemajuan ekonomi kreatif di kota ini. “Kami percaya, komunitas kreatif yang berjejaring kuat akan meningkatkan ekonomi kreatif di daerah dan juga bermanfaat di level nasional,” kata Endah Wahyu, Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Bekraf.

Program ini menghadirkan kreator inspiratif, ahli pemasaran, dan pakar branding. Di Merauke, akan ada penari dan koreografer Serraimere Boogie Yason K atau dikenal dengan Boogie Papeda. Selain Boogie Papeda, ada Ukke Kosasih seorang pengusaha ekonomi kreatif asal Bandung di bidang bisnis boneka Circa Handmade. Dua pakar ini sejalan dengan misi yang dibangun Kombet Kreatif yakni lebih dari sekadar pertemuan komunitas. Rangkaian lawatan ini adalah sebuah upaya pendampingan komunitas untuk berkolaborasi dengan lebih baik.

Pada program Pendampingan Kombet Kreatif ini juga akan diperkenalkan skill storytelling, penceritaan, yang sangat penting untuk membangun nilai tambah produk kreatif yang akan disampaikan oleh seorang jurnalis senior, Muhammad Dwi Setyo Irawanto. Pengalamannya sebagai mantan Redaktur pelaksana Majalah TEMPO bisa menjadi pemancing peserta Kombet Kreatif belajar mengenai storytelling yang bagus. Sebab, narasi yang memikat adalah sarana yang ampuh meningkatkan nilai tambah sebuah produk kreatif.

“Kisah yang kuat bisa membangun ikatan antara produk dan konsumen, yang membuat sebuah produk berbeda dengan produk lain yang serupa. Narasi yang bagus sangat dibutuhkan,” (  Mardiyah Chamim, Direktur Eksekutif Tempo Institute )

Koordinator Lawatan 12 Kota – Kombet Kreatif Tatty Apriliyana menjelaskan, program ini adalah pemantik kolaborasi komunitas kreatif lokal supaya berjejaring lebih kuat. “Selanjutnya, kami berharap komunitas kreatif di Merauke benar-benar tumbuh solid dan berjejaring kuat.”

Menurut data Bekraf, Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif diperkirakan berada di atas Rp1.000 triliun, diprediksi akan naik menjadi Rp1.200 triliun pada 2019. Angka ini diyakini terus meningkat di tahun-tahun mendatang, sebuah perkembangan yang harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan menarasikan dan memasarkan produk bagi pelaku ekonomi kreatif.

Menunjang Kerjasama Ekonomi Daerah, Pelaku Usaha Ikuti Sosialisasi

Sekretariat Daerah Kabupaten Merauke Bagian Perekonomian selenggarakan sosialisasi pengelolaan ekonomi kreatif guna menunjang pelaksanaan kerjasama ekonomi daerah di Kabupaten Merauke.

Kabag Perekonomian Daerah M.Imam Santoso mengatakan, tujuan kegiatan untuk meningkatkan SDM dalam pengelolaan ekonomi kreatif guna menunjang kerjasama daerah di Kabupaten Merauke. Selain itu, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang ekonomi kreatif di Kabupaten Merauke.

“Ekonomi kreatif adalah penciptaan nilai tambah berbasis ide yang lahir dari kreativitas sumber daya manusia (orang kreatif) dan berbasis pemanfaatan ilmu pengetahuan, termasuk warisan budaya dan teknologi. Industri kreatif adalah industri menghasilkan output dari pemanfaatan kreativitas, keahlian, dan bakat individu untuk menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan peningkatan kualitas hidup,” ( M. Imam Santoso )

Arah pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia sesuai RPJN 2015-2019, memantapkan pengembangan ekonomi kreatif dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif berlandaskan keunggulan sumber daya alam, budaya, dan sumber daya manusia berkualitas dan kreatif dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperkuat kelembagaan untuk menciptakan iklim usaha kondusif bagi pengembangan industri kreatif lokal. (JJ)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap