FREDERIKUS GEBZE, ” Buku Sang Pemimpin Bervisi Millenium ” Bab I : Masalalu

FREDERIKUS GEBZE, ” Buku Sang Pemimpin Bervisi Millenium ” Bab I : Masalalu

FREDERIKUS GEBZE

” Buku Sang Pemimpin Bervisi Millenium “

Bab I : Masalalu

Penulis : Frederikus Gebze, S.E., M.Si

 

 

MASA KECIL , SD, SMP, SMA

Presiden Joko Widodo lahir di Solo, Jawa Tengah, 21 Juni 1961, anak dari pasangan Noto Mihardjo dan Sudjiatmi, menjabat Presiden RI ke-7  sejak 20 Oktober 2014. Miyono Suryo Sarjono yang merupakan kakak kandung ibunda Presiden Jokowi ( Sujiatmi ), menceritakan bahwa  dia sendiri yang menjadi saksi saat Sujiatmi melahirkan Jokowi kecil di Rumah Sakit Brayat Minulyo, Solo. Miyono masih ingat betul bagaimana dia dan istrinya harus bolak-balik ke rumah sakit menjelang kelahiran Jokowi kecil. Maklum, Jokowi kecil merupakan anak pertama Sujiatmi.

Ketika mengantarkan ke rumah sakit saat ibunya melahirkan (Jokowi), Bapaknya itu bersama saya dan istri saya,” ( Miyono Suryo Sarjono )

Sedangkan berdasarkan keterangan Mukiyem, pengasuh Presiden Jokowi semasa kecil, kakek dan nenek Jokowi sempat membawa cucunya itu ke Giriroto setelah dilahirkan. Lepas 40 hari, ucap Mbok Yem, Jokowi kecil dibawa kembali ke Solo. Nah, sejak itu pula Mbok Yem, yang masih ada hubungan kerabat dengan keluarga Wirorejo, diminta mengasuh Jokowi saat masih bayi. Kata Mbok Yem, dalam bahasa Jawa, nama “ Widodo ” berarti sejahtera dan sehat selalu. Makanya nama itulah yang disematkan pada Jokowi saat masih bayi.

Informasi yang sama disampaikan Heru Purnomo, paman Presiden Jokowi dari garis ayah, yang tinggal di Desa Kragan, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah. Meski sebagai paman, usia Heru hanya terpaut tiga tahun lebih tua dari Presiden Jokowi. Itu sebabnya, saat kecil keduanya sering bermain bersama dahulunya bila Presiden Jokowi berkunjung ke rumah kakeknya, Lamidi Wiryo Miharjo. Sang kakek saat itu menjabat Kepala Desa Kragan. Dia menjabat selama 32 tahun sampai wafat pada 11 November 1986.

Menurut Heru, kakek Presiden Joko Widodo awalnya adalah seorang carik atau sekretaris desa sejak 1948. Karena dia dianggap berprestasi, Lamidi diangkat menjadi lurah pada 1954.

“Karena kinerjanya bagus itu, jadi pilihan semua warga. Sampai dijuluki Mbah Lurah,” ( Heru Purnomo )

Sebenarnya leluhur Lamidi juga berasal dari Giriroto, desa tempat keluarga ibu Presiden Jokowi tinggal. Hanya, dua keluarga besar ini tinggal di dusun berbeda. Keluarga Notomiharjo tinggal di Dusun Kelelesan, sedangkan keluarga Sujiatmi tinggal di Dusun Gumukrejo. Jarak kedua dusun itu hanya 500 meter. Amanah yang luar biasa karena bisa  dibilang Wong Ndeso Dadi Presiden atau orang desa jadi presiden, dan berasal dari berasal dari keluarga yang sederhana.

Presiden Joko Widodo merupakan anak sulung serta putra satu-satunya dari empat bersaudara. Beliau sebenarnya memiliki seorang adik laki-laki bernama  Joko Lukito, namun meninggal saat persalinan.  Tak jauh berbeda kehidupan bantaran kali masa kini dengan kala itu, banyak yang sudah digusur atau pun diminta pindah oleh pemilik rumah.Kehidupan Joko Widodo Kecil saat itu diwarnai oleh suasana nomaden atau sering pindah-pindah karena harga sewa rumah terus naik.

Bantaran sungai Dawung Kidul menjadi tempat hinggapan kedua dengan suasana yang tak jauh berbeda tapi ukuran yang lebih kecil.   Berpindah lagi ke daerah Munggur yang lagi-lagi dialiri sungai Pepe, di situlah kebahagiaan keluarga Noto Miharjo bertambah dengan kehadiran tiga putri lagi. Ketiga saudara kandungnya merupakan perempuan, yakni Iit Sriyantini, Ida Yati, dan Titik Relawati. Presiden Joko Widodo ketika kecil  kerap lari terbirit saat orangtua memergokinya mandi di kali. Atau sekadar mencari telur bebek untuk kemudian di masak dengan kaleng bekas.

Seringkali, Ibunda Joko Widodo kecil maupun orang tua lainnya mencari mereka ke sungai. Jika sudah seperti itu, ujar Bandi, mereka akan secepatnya mengambil langkah seribu, pulang karena takut dimarahi. Penghasilan pas-pasan sebagai tukang kayu di desa membuat Notomiharjo harus memutar otak dengan keras.  Tapi dari kayu itulah Notomiharjo bisa menyekolahkan Joko Widodo kecil dan ketiga putrinya. Bantaran Kali Anyar menjadi persinggahan selanjutnya karena di situ itulah sebuah pasar kayu besar bergeliat.  Pertama kali Joko Widodo kecil bersekolah adalah di SD Negeri 111 Tirtoyoso, Solo, selama 6 tahun sejak 1968. Tak ada biaya untuk membeli sepeda untuk menemani dia sekolah, maka jalan kaki adalah yang paling memungkinkan.

Sering main kelereng dan mandi di kali

Teman  kecil Presiden Joko Widodo lainnya adalah Sutarti. Dia mengatakan, mantan Gubernur DKI Jakarta ini tipe anak pendiam dan rajin.

“Dia itu anaknya rajin dan pinter. Dia kalau malem selalu belajar. Orangnya juga nggak nakal,” ( Sutarti )

Rumah Sutarti dulu berdampingan dengan kediaman keluarga Presiden Joko Widodo di Pasar bambu Gilingan, Banjarsari atau tepatnya di sebelah selatan bantaran Kali Anyar, Solo. Sutarti menceritakan masa kecil dari Presiden.  Joko Widodo kecil tak ubahnya sama dengan anak-anak lainnya. Jokowi kecil sering bermain kelereng, layang-layang, memancing di pinggir kali.

Langkah demi langkah, Joko Widodo kecil hingga usia 12 tahun rupanya membuat dia melihat-lihat bagaimana cara menggergaji kayu dan memotong bambu. Telur-telur bebek yang tergeletak tak bertuan juga menarik perhatian bocah itu. Tak ingin berlama-lama menjadi beban ayahnya yang hanya tukang kayu, dia juga memulai berpikir bagaimana cara berdagang.  Sudah terbiasa melangkahkan kaki dari Pasar Gilingan menuju sekolah, rupanya Joko Widodo kecil harus pindah lagi bersama keluarganya.

Notomiharjo yang tak sanggup lagi membayar sewa rumah pun terpaksa mengajak keluarganya menumpang tinggal di rumah kakak dari Sujiatmi yang terletak di wilayah Gondang Meski sudah tidak lagi tinggal di tengah ramainya Pasar Gilingan, suasana di Gondang terasa lebih hangat.  Satu atap dengan keluarga besar membuat  Joko Widodo kecil merasakan kehangatan. Di sisi lain kehidupan menumpang seperti itu sebenarnya tak seharusnya terjadi. Biar bagaimana pun sebuah keluarga harus mampu menjalani kehidupan sendiri.

Usaha Notomiharjo berjualan kayu juga semakin terpuruk karena tak lagi bisa berjualan di Pasar Gilingan yang  ramai. Bertolak dari kondisi tersebut akhirnya membuat  Notomiharjo merambah ke jalanan, menjadi sopir.  Ayah Joko Widodo kecil itu menapaki dunia persopiran mulai dari sopir pribadi hingga sopir bus antar provinsi.

Setiap malam Sujiatmi menunggu suaminya pulang hingga larut. Tapi ternyata usaha gigih itu tak sia-sia, Notomiharjo kemudian mengajak keluarganya pindah dan mengontrak rumah sendiri di wilayah Manahan. Ketika itu Joko Widodo kecil sudah menginjak usia remaja dan melanjutkan jenjang pendidikan ke SMP 1 Solo, sebuah sekolah yang bisa dibilang favorit.

MASA SMA dan MASA KULIAH

Melangkahlah kemudian Jokowi muda masuk ke SMA Negeri 6 Solo, setelah kurang sukses terseleksi masuk ke SMA Negeri 1 Solo. Sebuah ukiran baru terbentuk ketika Jokowi muda menginjakan kaki di SMA. Saat itu akhirnya sang ayah bisa membeli rumah kecil-kecilan di tengah kota Solo sehingga tak lagi menjadi nomaden bantaran kali.

“Kerap kali saya mensyukuri perubahan hidup kami yang membaik. Tapi tak jarang pula saya rindu bunyi air sungai yang mengantar saya tidur hingga bangun lagi di pagi hari “ ( Joko Widodo )

Salah  seorang berkisah ketika Joko Widodo muda naik pitam lantaran dijahili. Teman satu bangku saat SMA dari Presiden Jokowi, Mahmud Nur Windu, menceritakan masa-masa remaja bersama dengan Presiden Joko Widodo. Mahmud menjelaskan Presiden Joko Widodo adalah remaja yang pendiam, juga orang yang rajin dan pandai.

Mahmud sering pulang bareng dan main dengan Presiden Joko Widodo. Saat main ke rumahnya itu, ia  sering nyelonong langsung masuk ke kamar Joko Widodo muda. Seingat Mahmud, saat dirinya main ke rumah Joko Widodo muda, ia selalu diputarkan lagu-lagu slow seperti Koes Plus dan Bimbo. Nilai rapor Joko Widodo muda  saat bersekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 6 Solo, Jawa Tengah, termasuk bagus. Orang nomor wahid di Indonesia itu lulus dari SMAN 6 Solo sebagai siswa Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada 1980.

Buku induk sekolah dan rapor Joko Widodo muda mengungkapkan, tidak ada nilai merah (angka lima ke bawah ) dalam rapor  Joko Widodo muda di SMAN 6 Solo, antara lain, mendapatkan nilai 90 untuk mata pelajaran Pendidikan Kesenian. Beliau, memperoleh nilai 90 untuk Kesenian tatkala  semester IV atau saat duduk di kelas dua SMA.

Sumber lain mengungkapkan, beliau juga memperoleh nilai 9 untuk mata pelajaran Geografi, yaitu saat kelas satu (semester II ). Adapun saat lulus ( semester enam atau kelas tiga ), beliau mendapat nilai di atas rata-rata. Joko Widodo muda mendapatkan nilai delapan, antara lain, untuk mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

Agung Wijayanto (45), Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN 6 Solo, Agung hanya mengatakan bahwa nilai rapor Presiden Joko Widodo bagus. Dia mengaku bangga memiliki alumnus yang bernilai rapor bagus sekaligus menjadi Presiden RI.

Daryatmo, guru SMA Presiden Joko Widodo, mengungkapkan testimoni tentang Presiden Joko Widodo semasa SMA. Berikut ini adalah sifat-sifat dan penilaian kepada Presiden Joko Widodo berdasarkan testimoni Daryatmo :

  1. Pendiam
  2. Rendah hati
  3. Tidak pernah bolos sekolah
  4. Tidak bandel
  5. Sederhana
  6. Menghormati guru.
  7. Sopan.
  8. Santai.

( BERSAMBUNG )

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap